Touch Me, Uncle Dom!

Touch Me, Uncle Dom!
S2. Hari pertama



Sonya sudah berada di mansion keluarga wiliam. Gadis yang baru berusia 20 tahun itu juga sudah memakai seragam pelayan. Dia senang dengan pekerjaan barunya, di tambah lagi mempunyai teman-teman yang ramah juga.


“Aku harap kau betah bekerja di sini, Sonya,” ucap Hana kepada Sonya yang sedang menggantikan popok Baby Luc. Hana mengawasi pekerjaan Sonya dengan sangat detail. Bukan karena tidak percaya dengan Sonya, akan tetapi dia tidak ingin terjadi kesalahan dan berakhir menyakiti cucunnya.


“Iya, Nyonya, aku harap juga begitu,” jawab Sonya tersenyum tipis. Dia sudah selesai mengganti popok Baby Luc.


Hana puas melihat pekerjaan Sonya yang sangat lembut dan hati-hati saat menyentuh cucunya.


“Jika kau membutuhkan sesuatu katakan kepadaku, atau bibi kepala pelayan,” ucap Hana sebelum keluar dari kamar cucunya.


“Baik, Nyonya Hana,” jawab Sonya, sembari menatap Hana yang sudah keluar dari kamar bayi yang bertema putri salju itu.


“Kenapa seharian ini aku tidak melihat Tuan Black? Aneh, lalu Nyonya Hana kenapa begitu dekat dengan Tuan Dante? Apakah mereka berselingkuh?” batin Sonya.


Oh, ternyata gadis itu masih salah paham.


*


*


“Sweetie, kau sudah selesai mengawasi babysitter cucu kita?” tanya Dante pada istrinya yang memasuki kamar.


“Iya, Dad. Gadis itu sangat lembut dan tidak perlu khawatir lagi,” jawab Hana.


“Aku sudah memasang CCTV di kamar cucu kita, jadi kau tidak perlu mengawasinya langsung.” Dante memperlihatkan ponselnya kepada Hana.


“Dad, bukankah ini sangat berlebihan?” tanya Hana sembari melihat rekaman CCTV di layar ponsel suaminya.


“Ini demi kebaikan cucu kita, Sweetie. Bukankah di setiap sudut mansiom ini juga di pasang CCTV, jadi menurutku tidak masalah jika memasangnya di dalam kamar cucu kita,” jawab Dante seraya menarik tangan istrinya agar wanita itu duduk di atas pangkuannya.


“Iya, juga sih. Tapi, Sonya juga membutuhkan privasi, kau tahu ‘kan maksudku,” ucap Hana sembari melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya.


“Beritahukan saja kepadanya jika di dalam kamar itu sudah terpasang CCTV.” Dante menjawab sambil meletakkan ponselnya, lalu merebahkan kepalanya di dada istrinya yang terasa empuk dan nyaman.


*


*


“Kepalaku atas dan bawah terasa sakit, My Lily.” Dom berkata semberi menarik tangan istrinya agar membantunya.


“Oh, My God!” Emily berdecak kesal, meski begitu ia membantu suaminya dengan terpaksa.


“Kau adalah istri yang pengertian. Tidak sia-sia aku mencintaimu sejak masih menjadi embrio,” jawab Dom sambil merem melek keenakan, merasakan pijatan istrinya di bagian bawahnya.


*


*


Sonya tersenyum tipis saat melihat Baby Luc yang ada di dalam gendongannya.


“Ya ampun, bayinya cantik sekali,” gumam Sonya sembari berjalan menuju ruang tengah.


Sampai di sana dia melihat Black sedang berbicara dengan Bibi kepala pelayan.


“Hai,” sapa Black pada Sonya.


“Tuan Black.” Sonya tersenyum tipis pada pria berkulit gelap dan berkepala botak itu. Sebenarnya kulit Black tidak terlalu gelap, hanya saja berwarna coklat, jika di Indonesia di sebut eksotis.


“Aku kira kau belum datang. Dan jangan memanggilku Tuan, Black saja,” ucap Black.


“Aku menjadi tidak enak,” jawab Sonya.


“Kita sama-sama bekerja di sini.” Black menjelaskan.


“Bekerja di sini? Bukankah kau adalah suami Nyonya Hana?” tanya Sonya dengan polosnya.


“WHATTT!!!!” teriak Dante yang berada di tengah tangga.


***


Yang punya ngamuk, awas Black kena tendangan maut🤣🤣🤣