Touch Me, Uncle Dom!

Touch Me, Uncle Dom!
Ekstra Part 4



Malam harinya.


Tepat jam 7 malam, Dom baru pulang kerja. Pria tampan tanpa ekspresi itu memasuki mansion dengan langkah yang tegap.


“Hei, Dom!” Dante menyapa menantunya yang baru memasuki mansion, bertepatan dengan Arra mengecup pipinya dan meminta izin keluar mansion tanpa pengawalan.


“No, Arra!” Dante menolak tegas permintaan Arra.


“Ayolah Opa! Lagi pula aku hanya ingin pergi ke Cafe dengan teman-temanku!” Arra membujuk Dante agar mengizinkannya keluar.


Arra mengeluarkan jurus semar mesemnya agar Dante mengizinkannya keluar mansion, dan berhasil. Akhirnya Dante memberikan izin tapi dengan syarat jam 9 malam harus sudah berada di mansion.


Arra dengan langkah semangat berjalan menuju pintu utama di mansion tersebut.


“Hei, Tampan!” Arra menyapa Dom dengan gaya centilnya.


Dom membalasnya hanya dengan memutar kedua matanya dengan malas.


“Semoga saja anakmu nanti tidak seperti dirimu, manusia kayu!!!” Arra mencebik karena Dom tidak pernah membalas sapaannya. Kemudian gadis itu melanjutkan langkahnya, keluar dari mansion.


Dom menatap Dante yang berdiri di dekat ruang keluarga. “Kenapa kau membiarkannya keluar sendiri?” tanya Dom.


“Situasi sudah aman Dom,” jawab Dante.


“Kau yakin?” Dom memastikan, karena dia merasa tidak yakin jika di luar sana aman untuk Arra.


“Semoga.” Dante kini menjadi ragu, kemudian ia mengambil ponselnya yang ada di kantong celananya untuk menghubungi salah satu Bodyguard agar menjaga Arra dari kejauhan.


Dom melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang tidak jauh dari sana. Sampai di dalam kamar, ia melihat Emily sedang terlihat serius sambil memegangi ponsel di atas tempat tidur.


“My Lily, Sedang apa?” Dom berjalan menghampiri istrinya.


Dom melepaskan pelukannya lalu mengambil ponsel istrinya, menatap layar ponselnya dengan serius.


“Lihat dari awal. Kurang lebih anak kita berkembang seperti itu di dalam perutku,” ucap Emily kepada suaminya.


Dom mengikuti ucapan istrinya. Ia memutar ulang video tersebut.


“Aku akan menyiapkan air hangat untukmu.” Emily berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan suaminya yang kini duduk di tepian tempat tidur sambil menatap layar ponselnya.


Beberapa menit kemudian Emily keluar dari kamar mandi, dan menyuruh suaminya agar segera membersihkan diri.


“My Lily.” Dom meletakkan ponsel yang di pegangnya di atas tempat tidur, kemudian ia memeluk istrinya dengan erat seraya mengucapkan banyak terima kasih kepada istri kecilnya itu.


“Ada apa? Kenapa Uncle terlihat sedih seperti ini?” tanya Emily sambil menepuk punggung lebar suaminya.


“Melihat Video itu membuat kedua mataku terbuka. Jika tidak mudah mengandung bayi. Apakah nanti kau akan merasakan kesakitan seperti yang ada di dalam video itu?” Dom bertanya sambil menunjuk ke arah tempat tidur, tanpa melepaskan pelukannya.


“Tentu saja iya. Jangan khawatir, karena semua ini sudah menjadi takdir seorang wanita. Memiliki bayi adalah keinginan setiap pasangan yang sudah berumah tangga, seperti kita,” jawab Emily sambil tersenyum. Kini ia tahu jika suaminya sedang merasa ketakutan dan juga cemas.


“Kau benar, tapi membayangkannya aku menjadi takut.” Dom mengutarakan kecemasannya.


“Maafkan aku. Tidak seharusnya Uncle melihat video itu.” Emily menyesalinya.


Dom menggeleng sebagai jawaban, dia mengurai pelukannya, menatap wajah cantik istrinya dengan dalam, kemudian ia melabuhkan kecupan lembut di bibir istrinya.


***


Vote-nya mana Mak? Udah hari senin loh 😁😁