
Arra mengendarai mobilnya menuju alamat yang di berikan Carlos, dia sesekali melirik ke spion mobilnya, ternyata ada yang mengikutinya.
“Opa tetap tidak membiarkan aku keluar sendiri. Bagaimana ini? Aku tidak ingin jika Carlos melukai semua keluargaku.” Arra bergumam sembari mendesah resah, ia harus memikirkan cara agar bodyguard itu tidak mengikutinya lagi.
Seolah ada lampu di atas kepalanya. Arra mendapatkan Ide. Gadis itu memutarkan balik arah mobilnya, menuju pusat Kota Milan. Sampai di sana, Arra segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga membuat bodyguard-nya itu tidak bisa mengikutinya karena terjebak kemacetan di lampu merah.
“Ah, syukurlah!” Arra terus memacu kendaraannya menuju alamat rumah Carlos yang letaknya jauh dari Kota.
“Ini menuju hutan. Apakah pria itu sengaja ingin mengerjaiku!!!” geram Arra, ia melambatkan laju mobilnya, kemudian menghentikan mobilnya di tepi jalan.
Arra memhubungi Carlos dengan nomor telepon yang tertera di kartu nama yang di berikan iblis tampan itu. Telepon sudah tersambung, namun tidak kunjung ada jawaban. Arra menjadi geregetan.
"Sepertinya dia memang sedang mengerjaiku!" Arra memasukkan ponselnya lagi ke dalam tasnya. Ia menyandarkan punggungnya di sabdaran jok mobil.
Tok ....Tok
Arra terkejut ketika kaca jendela mobilnya di ketuk dari luar. Dan ternyata itu Carlos. Arra segera membuka kaca jendela mobilnya, dengan cepat dia menarik rambut Carlos dengan kuat.
"Rasakan ini! Beraninya kau mengerjaiku!!!" umpat Arra, masih manarik rambut pria itu.
"Hei!! Sayang! Kau ingin mati!!!" sentak Carlos dengan suara yang mengerikan. Dia menahan sakit saat Arra menarik rambutnya.
"Oh, maaf!" Arra segera melepaskan rambut iblis tampan itu. Lalu menatap sekitarnya, di mana ada beberapa anak buah Carlos yang menodongkan senjata kepadanya.
"Tapi, sepertinya kau pantas mendapatkan itu semua! Beraninya main keroyokan!! Tidak malukah kalian semuanya!!!" teriak Arra kepada semua anak buah Carlos tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Bisakah mulut pedasmu itu diam!!!" sentak Carlos!!" Lalu membuka pintu mobil Arra, dan meminta Arra untuk berpindah ke jok penumpang.
Kini Carlos sudah duduk di balik setir mobil gadis itu.
Carlos tidak menjawab, pria itu fokus pada jalanan yang memasuki hutan.
Arra menatap Carlos dari samping.
"Dia sungguh tampan, dan sangat wangi. Argh!! Kenapa aku malah memujinya!!" batin Arra menjerit.
"Tapi dia memang sangat tampan sih." Lanjut Arra di dalam hati, sambil menggigit jarinya.
***
"Apa?! Arra kabur!!" teriakan Dante menggema di seluruh mansion mewahnya. Pria tersebut terlihat sangar murka lalu memukul bodyguard-nya yang di tugaskan untuk menjaga Arra.
Semua penghuni mansion tersebut langsung menuju ruang tengah saat mendengar teriakan Dante.
"Maaf, Dante," ucap Bodyguard tersebut sambil memegangi pipinya yang baru saja di pukul oleh Dante.
"Bagaimana jika Carlos menculik Arra lagi. Karena tadi pagi Carlos menghadang mobil kami." Black bersuara.
Tatapan Dante semakin menajam, kemudian ia menghampiri Black dan memberi pukulan ke perut pria berkepala pelontos itu beberapa kali.
"Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku!! Sial!!" umpat Dante penuh emosi.
Black menunduk sambil memegangi perutnya terasa sangat sakit, pukulan Dante sangatlah kuat.
"Arra yang memintanya, karena dia tidak ingin membuat kalian cemas," jawab Black membuat Dante semakin murka.
"Kau ceroboh, Black!!" Dom bersuara, menatap Black sangat tajam.