
“Aku pasti akan merindukanmu.” Sonya menciumi pipi gembul baby Luc dengan gemas. Bayi itu berada di gendongan Emily.
“Hei! Sudah, nanti pipi baby Luc habis!” omel Emily pada Sonya yang seolah tidak rela pergi meninggalan baby Luc.
“Tidak akan habis, justru semakin bertambah gembul,” jawab Sonya sambil tersenyum sambil menoel-noel pipi bayi gembul itu.
“Nanny akan merindukanmu, jangan rewel saat bersama Daddy dan Mommy, oke.” Sonya sedang memberikan pesan kepada baby Luc. Dan lucunya baby Luc tersenyum menanggapinya.
“Black akan menemanimu hari ini. Kebetulan dia hari ini free karena Dom libur bekerja,” ucap Emily kepada Sonya.
Sebenarnya Emily yang meminta kepada suaminya agar Black menjaga Sonya saat berada di luar mansion. Maklum Sonya baru berada di Milan, dan dia tidak ingin gadis itu tersesat di jalan atau menjadi korban kejahatan di luar sana.
“Baiklah,” jawab Sonya lalu melambaikan tangan kanannya pada baby Luc.
“Bye, Nanny.” Emily meniru suara anak kecil sembari melambaikan tangan kanan putrinya pada Sonya yang sudah keluar dari mansion.
Di halaman mansion. Black sudah menunggu Sonya dengan wajah jenuhnya.
“Apakah aku terlalu lama, Black?” tanya Sonya pada Black yanh terlihat masam.
“Menurutmu?!” ketus Black.
“Hei, apakah kau tidak ikhlas menemaniku?” tanya Sonya seraya mencebikkan bibirnya kesal pada pria berkepala plontos itu.
Black tidak menjawab pertanyaan Sonya, pria itu langsung masuk ke dalam mobil, duduk di balik kemudi.
Sonya mendengus, lalu ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Black.
“Hari ini aku gajian. Aku ingin mentraktirmu,” ucap Sonya pada Black.
“Tidak perlu. Simpan saja uangmu!” Black menjawab dengan datar.
“Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu. Aku harap jangan menolaknya, meski aku tidak bisa mentraktirmu di restoran mewah,” cicit Sonya dengan nada sedih.
Black menghela nafas panjang, lalu memakai sabuk pengaman dan melajukan mobilnya keluar dari area mansion itu.
“Black, maaf kalau selama ini aku selalu membuatmu kesal,” ucap Sonya sembari melirik pria yang sedang fokus menyetir itu.
Sonya tersenyum dan kedua matanya berbinar terang seperti cahaya bulan purnama. “Aku tidak tahu ... he he he,” jawab Sonya tersenyum meringis, pasalnya dia belum hafal dengan seluk beluk Kota Milan.
“Oke, aku akan menunjukkan restoran Indonesia yang ramah di kantong,” ucap Black.
“Baiklah.” Sonya tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya pada jalanan Kota Milan pada pagi hari itu.
Untuk sesaat di dalam mobil itu terasa hening. Kedua manusia itu sibuk dengan pemikiran masing-masing.
“Black, untuk uangmu yang kau gunakan untuk menyelamatkan aku. Aku akan mencicilnya,” ucap Sonya secara tiba-tiba.
“Lupakan saja. Aku ikhlas menolongmu,” jawab Black tanpa menoleh.
“Tapi--”
“Aku bilang lupakan saja!” Black berkata dengan tegas.
“Hem, baiklah. Kalau begitu aku berhutang budi kepadamu. Jadi katakan kepadaku, jika kau membutuhkan bantuan,” ucap Sonya sambil tersenyum manis pada Black.
“Oke,” jawab Black, menatap Sonya sesaat, karena dia sedang menyetir mobil jadi harus tetap fokus.
Sonya terus menatap Black yang sedang fokus menyetir mobil.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?!” tanya Black karena merasa di perhatikan.
“Aku baru sadar ternyata kau sangat tampan, dan memiliki kulit yang eksotis,” jawab Sonya jujur.
“Kau tidak sedang menggodaku ‘kan?” Black berkata dengan sinis.
“Sepertinya otakmu bermasalah! Biasanya setiap pria akan senang karena mendapatkan pujian, tapi kau malah sebaliknya!” sewot Sonya.
Black menahan tawanya saat melihat Sonya marah.
***
Cie ... Black 🤣🤣🙈