Touch Me, Uncle Dom!

Touch Me, Uncle Dom!
S2. Hari libur



Tidak terasa sudah satu bulan Sonya bekerja menjadi babysitter baby Luc. Gadis berusia 20 tahun itu sangat menikmati pekerjaan barunya sebagai pengasuh baby kecil dan menggemaskan itu. Hari ini adalah hari gajian Sonya. Gadis itu tampak bersemangat menantikannya.


Emily William sudah pulih total dari operasi sesar yang di jalaninya satu bulan yang lalu. Wanita yang sudah mendapat gelar ibu muda itu melanjutkan pendidikannya lagi. Dan tentu saja suami dan keluarganya mendukungnya.


“Sonya hari ini kau boleh libur,” ucap Emily pada Sonya yang sedang membuatkan susu untuk baby Luc di dalam kamar.


“Aku boleh libur, Nona?” Sonya menanggapinya dengan rasa terkejut tapi juga sedih. Sedih karena dia tidak rela kalau haru berpisah dengan baby Luc meski hanya satu hari. Dia sudah menyayangi bayi kecil itu seperti anaknya sendiri.


“Iya, kau satu bulan ini sudah bekerja keras.” Emily mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. “Ini, adalah gaji pertamamu. Gunakan uang itu dengan baik.” Emily menyerahkan kartu ATM pada Sonya.


“Dom membuatkanmu kartu ini agar memudahkanmu bertransaksi. Gajimu sudah kami transfer,” ucap Emily sambil tersenyum.


Sonya tersenyum penuh haru, kedua matanya berkaca-kaca, dia meletakkan botol susu di atas meja lalu menerima kartu ATM tersebut. “Terima kasih banyak, Nona.” Suara Sonya terdengar serak karena saat ini dia bahagia dan bercampur sedih.


“Hei, kenapa kau menangis?” Emily tertawa lalu memeluk Sonya.


“Aku tidak menangis, ini adalah air mata bahagia,” jawab Sonya lalu membalas pelukan Emily. Dia bersyukur karena bertemu dengan orang-orang baik seperti keluarga William yang tidak pernah membedakan kasta seseorang, mereka saling menghargai satu sama lain meskipun kaya raya dan mempunyai derajat yang tinggi.


Emily melepaskan pelukan tersebut lalu menatap Sonya yang masih menangis. “Sonya, kau akan menggunakan gaji pertamamu ini untuk apa?” tanya Emily penasaran.


Sonya tersenyum tipis seraya mengusap air matanya, “aku akan menggunakannya untuk diriku sendiri dan mentraktir orang baik yang sudah menolongku saat pertama kali berada di Milan, Italia,” jawab Sonya jujur.


“Oke, kau tidak mempunyai keluarga?” tanya Emily penasaran.


Sonya menggeleng sebagai jawaban. “Mereka sudah membuangku dan menjualku ke gedung putih,” jawab Sonya namun hanya di dalam hati.


“Tidak apa-apa, Nona. Sekarang aku sudah mempunyai keluarga baru,” jawab Sonya menatap Emily.


“Ya, kau benar. Kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Jangan bersedih lagi, oke!” Emily tersebut sambil menepuk pundak Sonya beberapa kali.


“Terima kasih,” ucap Sonya terharu.


“Jangan menangis lagi Sonya! Ehm ... kau tadi mengatakan kalau ada seseorang yang menolongmu saat pertama kali berada di Milan? Siapa dia dan apa yang sudah kau alami?” tanya Emily penasaran.


“Ah, itu rahasia.” Sonya menjawab dengan malu.


“Oh, aku paham. Aku rasa orang tersebut sangat spesial untukmu.” Emily menggoda Sonya.


“Tidak, Nona, bukan begitu,” elak Sonya.


“Mulutmu bisa berbohong, tapi kedua matamu tidak bisa, Sonya.” Emily berkata sambil tertawa pelan.


“Sekarang bersiaplah. Karena hari ini kau harus menikmati hari liburmu. Kau tenang saja, aku akan menjaga baby Luc.” Emily mengerti dengan apa yang di khawatirkan oleh Sonya.


“Sebenarnya aku tidak menyukai hari libur, tapi kalau kau memaksa, aku bisa apa,” jawab Sonya sambil tersenyum jengkel.


Emily tertawa terbahak mendengar jawaban Sonya yang begitu polos dan menggemaskan.