
Sudah hampir dua bulan lamanya setelah kejadian Arra kabur dari mansion. Arra tidak di perbolehkan keluar dan harus menaati peraturan yang telah di buat. Begitu pula dengan Emily yang juga kena imbasnya.
Situasi di sana juga sudah aman terkendali. Walau begitu mereka tetap harus waspada. Cosa Nostra juga sudah tidak pernah menampakkan diri lagi. Mungkin pimpinan mereka sedang sibuk dengan bisnis gelapnya.
"Aku benar-benar bosan! Aku merasa seperti rapunsel yang dikurung penyihir di kastil !" gerutu Arra sambil berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
Bagaimana tidak bosan? Setiap hari dirinya hanya makan tidur dan belajar.
Sedangkan Emily saat ini sedang berada di dalam kamar menemani suaminya yang hampir satu minggu ini sedang tidak enak badan.
"My Lily!" seru Dom ketika istrinya akan beranjak dari atas tempat tidur.
"Aku hanya ingin buang air kecil!" Emily geleng-geleng kepala, padahal dirinya sudah beranjak dari atas tempat tidur dengan sangat pelan, akan tetapi suaminya yang sudah tidur masih juga bisa merasakan pergerakannya.
"Cepat! Jangan lama-lama!" Dom seolah tidak membiarkan Emily berjauhan dengannya barang sedikit pun.
"Astaga! Ada apa denganmu belakang ini!?" Emily segera berlari menuju kamar mandi.
Dom memijat pelipisnya. Kepalanya terasa pusing dan berat jika tidak berada di dekat istrinya. Dia juga bingung dengan dirinya sendiri. Berpikir apakah dia mempunyai penyakit yang parah?
Emily keluar dari kamar mandi dengan rasa yang lega. Ia menatap suaminya yang hanya mengenakan boxer saja duduk di tepian tempat tidur.
"Sepertinya sakitmu semakin buruk. Aku akan memanggilkan dokter untukmu," ucap Emily berjalan menghampiri suaminya. Lalu mendudukkan dirinya di samping Dom.
"Aku tidak butuh dokter. Yang aku butuhkan hanya kau!" jawab Dom dengan datar, namun terdengar sangat menggelikan di telinga istrinya.
"Kenapa Uncle seperti anak kecil?" Emily terkekeh pelan.
"Kau mengolokku?!" Dom melirik tajam istrinya.
"Ish! Sensitif sekali sih seperti wanita yang akan datang bula—" ucapan Emily terhenti ketika dia baru teringat sesuatu.
"Tunggu!!" Emily langsung beranjak dan mengambil kalender yang ada di atas meja riasnya. Ia membolak-balikkan kalender tersebut dengan kening yang berkerut.
"Ada yang salah dengan kalendernya?" Dom bertanya dengan kening yang berkerut.
Emily menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menatap suaminya yang masih duduk di tepian tempat tidur.
"Selama hampir tiga bulan menikah apakah kita pernah libur bercinta?" tanya Emily.
"Aku rasa tidak pernah. Kenapa? Apakah kamu ingin bercinta?" Dom sudah menatap istrinya dengan mesum.
"My Lily! Bicara yang jelas, aku tidak mengerti!" Dom memang manusia kayu dan tidak mudah peka terhadap perasaan wanita.
"Nanti saja penjelasannya, aku harus menemui Mommy!" Emily meletakkan kalender pada tempatnya lagi, kemudian bergegas keluar dari kamarnya.
"Emily!!" seru Dom karena istrinya meninggalkannya begitu saja.
***
Emily mencari keberadaan ibunya di seluruh mansion, dan akhirnya ia menemukan ibunya di taman belakang.
"Mom!" Emily berseru kepada ibunya yang sedang duduk bermesraan dengan ayahnya.
Emily langsung duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya, membuat Dante berdecak kesal.
"Lily!! Minggir!" Dante berseru dengan nada kesal.
"No, Daddy! Aku sedang membutuhkan Mommy!" ketus Emily, melirik sebal Dante.
"Apa yang kamu butuhkan sayang?" Hana mengelus punggung putrinya dengan lembut, tanpa memedulikan aksi protes suaminya.
"Mommy aku sudah tidak mendapat tamu bulananku selama hampir tiga bulan ini," jawab Emily dengan kedua mata yang berbinar.
"Benarkah?!" Hana membekap mulutnya dengan raut wajah terkejut dan bahagia. Emily menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"Kalau begitu kamu harus segera di periksa. Ayo!" Hana tampak bersemangat lalu membawa putrinya menuju mansion, tanpa memedulikan suaminya yang berteriak memanggilnya.
"Sweetie!" seru Dante lalu mengumpat kesal.
***
New York
Carlos mengumpat kesal karena pekerjaanya tidak ada habisnya. Baru kali ini dia malas bekerja.
"Mike, kapan pekerjaanku akan selesai?!" sentak Carlos dengan nada dingin dan datar.
"Maaf, Tuan. Sampai dua bulan ke depan jadwal Anda sangat padat dan masih harus berada di sini karena ada proyek yang akan Anda tangani," jelas Mike sembari membaca jadwal Carlos yang ada di layar ponselnya.
Carlos lagi-lagi mengumpat seraya membanting tumpukan berkas yang ada di atas mejanya.