
Gerry murka ketika mengetahui putrinya kabur dari Mansion ayahnya. Pria berusia 40 tahun itu tidak menyangka jika Arra—putrinya—sudah mengecewakannya.
Semua orang yang ada di Mansion William percaya jika Arra telah kabur untuk pergi liburan. Maka dari itu pencarian Arra dihentikan begitu saja tanpa mencari kebenaran yang sesungguhnya. Pesan yang dikirimkan Arra ke ponsel Emily sudah begitu meyakinkan mereka semua.
"Biarkan saja anak itu menjadi gembel di jalanan sana!" Gerry benar-benar sudah sangat murka.
"Bagaimanapun juga dia adalah putrimu, kau tidak bisa memutuskan hal itu begitu saja!" Dante tidak terima dengan perkataan Gerry yang seolah ingin membuang Arra dari keluarganya.
"Benar yang dikatakan Daddy-mu, Ger. Kau tidak bisa memutuskan hal sebesar ini begitu saja. Bagaimanapun juga Arah adalah anakmu dan cucuku, paham!" sahut Hana dengan rasa kesal di dadanya.
"Iya, Ibu mertua!" Gerry membalas sembari menatap Hana.
Hana memutar kedua matanya dengan malas ketika mendengar sebutan nama yang yang baru saja Gerry ucapkan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Tidak mungkin 'kan kalau kita hanya berdiam seperti ini, yang kutakut kan di luar sana Arra mendapat kejahatan dari orang yang jahat." Emily mengutarakan keresahan hatinya yang sejak tadi menyelimuti.
"Benar yang dikatakan Emily, kita tidak seharusnya diam seperti ini. Apalagi di luar sana sangat berbahaya!" sahut Dom, membenarkan ucapan istrinya.
Dante terdiam sejenak seolah sedang memikirkan perkataan anak dan menantunya yang ada sebenarnya. Maka dari itu dia memutuskan untuk melanjutkan pencarian Arra.
*
*
*
Black, dan teman-temannya mencari keberadaan Arra. Tadinya mereka ingin menghentikan pencarian, akan tetapi saat mendapatkan kabar dari Dante kalau pencarian Arra dilanjutkan, mereka pun melanjutkan pencarian.
Black merasa galau, makan tidak enak minum tidak enak, dan tidur pun tidak enak. Dia seolah seperti anak itik yang kehilangan induknya.
Dia terus memikirkan keberadaan Arra. Berbagai pikiran buruk pun melintas di benaknya. Bagaimana jika nanti kalau Carlos menculik Arra lalu membunuh gadis itu? Pikiran Black benar-benar kacau saat ini.
Tidak ... Tidak ... dia harus mengenyahkan segala pikiran buruk yang bersarang di kepalanya.
''Kita harus mencari kemana lagi Black? " tanya teman Black yang memakai baju biru sembari berkacak pinggang. Pasalnya sudah hampir di setiap sudut kota New York Sudah mereka sambangin, namun mereka tidak menemukan keberadaan Arra. Bahkan mereka juga sudah ke memeriksa mansion besar Carlos yang ada di New York, tapi mansion tersebut kosong, tidak berpenghuni hanya ada beberapa penjaga yang berjaga di luar.
Black menyugar kepala botaknya ke belakang, pria berkulit gelap itu mendesah kasar seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali, bertanda jika saat ini pria tersebut sedang sangat frustasi.
"Oh, Arra. Di mana kau berada? Aku mencari keberadaanmu tapi kau tidak tahu di mana rimbanya," jerit Black dalam hati.
"Apakah kita perlu pergi ke negara lain untuk mencari keberadaan arah," ucap Black kepada empat temannya.
"Kau gila! memangnya kita mau mencari ke mana! Apakah kau pikir dunia ini selebar daun lengkuas!" ucap teman Black yang memakai kaos berwarna putih dengan kesal.
"Lagi pula sejak dari awal Arra selalu menyusahkan kita dengan segala tingkahnya dan juga kekonyolannya!" seru teman Black yang memakai baju berwarna hitam dan memakai kacamata hitam.
"Apa kau sekarang sedang mencaci maki gadis itu?!" Black melotot tajam kepada temannya itu tidak terima jika ada dijelek-jelekan.