
Emily mengantarkan Dom sampai di halaman mansion. Ibu hamil itu tersenyum kepada suaminya yang kini sedang mengelus perut buncitnya dengan lembut.
"Dia bergerak." Dom paling suka moment ini, di mana bayi yang ada di dalam kandungan istrinya memberikan respon saat dia mengusap perut Emily. Ada sebuah kehangatan yang menjelar ke relung hatinya. Dom merasa seperti pria yang paling bahagia di dunia ini karena beberapa bulan lagi statusnya akan berubah menjadi seorang ayah.
"Iya, dia suka dengan gerakan tanganmu," jawab Emily sambil mengerlingkan sebelah matanya, lalu tersenyum lebar.
"Apakah ini sebuah kode untukku?" Dom bertanya dengan datar seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Anggap saja begitu," bisik Emily, berjinjit lalu mengecup bibir suaminya.
Dom tersenyum tipis lalu merengkuh pinggang istrinya dengan erat, "kalau begitu tunggu aku, dan persiapkan dirimu malam ini." Dom berbisik di dekat telingat istrinya. Kemudian ia melepaskan pinggang istrinya, dan segera masuk ke dalam mobilnya.
Emily merona ketika mendengar bisikan suaminya yang membuat tubuhnya panas dingin, kemudian ia segera melambaikan tangannya kepada Dom yang sudah melajukan mobilnya.
"Kenapa aku selalu gugup kalau dia mengatakan hal yang erotis?" Emily menangkup wajahnya yang merona sambil memasuki mansion mewah itu. Otaknya menjadi bertraveling ria, membayangkan betapa perkasanya Uncle Dom saat menggagahi dirinya.
Emily tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Wajahnya semakin merona di buatnya.
Dari arah ruang makan, Arra menggeleng pelan saat melihat tingkah Emily.
"Dia kenapa sih?" tanya Arra kepada dirinya sendiri sambil menatap Emily yang sudah menaiki anak tangga. Arra melanjutkan langkahnya menuju halaman mansion di mana mobilnya terparkir di sana.
Ya, Arra sudah di perbolehkan mengendarai mobil sendiri sejak satu bulan yang lalu tapi dengan syarat harus di kawal oleh bodyguard.
"Black kenapa kau ada di sini? Bukankah kau harus mengawal si manusia kayu?!" Arra menatap jengah pada Black yang sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Cih!" Arra hanya berdecak sebal, lalu masuk ke dalam mobil. Membantah pun tidak akan berarti untuk pria botak dan menyebalkan itu.
Black tersenyum saat melihat Arra sudah duduk di dalam mobil. Ia juga segera mengikuti dan duduk di balik kemudi.
"Hari ini pulang kuliah jam berapa?" tanya Black yang sudah mengemudikan mobil Arra keluar dari area mansion mewah itu menuju kampus tempat Arra menimba ilmu di sana.
"Seperti biasa!" jawab Arra. Black mengangguk sebagai jawaban.
Arra membuka kaca jendela mobilnya. Ia ingin menghirup udara pagi yang terasa sejuk. Dari kejauhan ada mobil mewah berwarna hitam yang mengikuti mobil yang di kendarai Black.
"Kau tidak boleh menemuinya lagi, Carlos!!" Mike mengingatkan Carlos yang mengemudikan mobil.
"Persetan dengan itu semua!!" Carlos tidak mendengar ucapan asistennya.
"Dia bisa menjadi kelemahanm! Dan ini bisa membahayakan nyawamu dan nyawanya!" sentak Mike kepada Carlos yang sudah berhasil menyalip mobil yang ada di depannya.
Sementara itu Black mengerem mobil yang di kendarainya secara mendadak, ketika ada mobil mewah yang menghadang di depan sana.
"Black! Kau ingin membuatku celaka!!" Arra marah kepada pria berkepala plontos itu tanpa melihat situasi.
"Arra, diam!" Black mengambil senjatanya yang ia letakkan di balik jas hitam yang di kenakannya.
Arra menelan ludahnya dengan kasar saat melihat pria itu mengeluarkan senjata.