
Dom menatap noda darah di atas sprei itu dalam diam. Kemudian beralih menatap Emily yang berjalan tertatih menuju kamar mandi.
Dom beberapa kali menghela nafasnya dengan dalam, lalu mengendurkan kedua pundaknya yang terasa tegang. Ia tidak menyangka jika berakhir khilaf seperti ini.
Bukan khilaf, lebih tepatnya ia tidak bisa menahan dirinya lagi!.
Sampai di kamar mandi. Emily menyalakan shower. Ia mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower yang terasa dingin pada malam hari itu. Ia menangis terisak sambil menyugar rambutnya ke belakang. Membiarkan air matanya luruh terbawa derasnya air shower yang membasahi tubuhnya.
Sudah hampir setengah jam Emily berada di dalam kamar mandi, membuat Dom cemas karena istrinya itu tidak kunjung keluar dari sana.
Perlahan pria berbadan kekar yang mengenakan boxer saja itu beranjak menuju kamar mandi, lalu mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup itu.
"Lily!" seru Dom sambil terus mengetuk pintu kamar mandi. Dari kamar mandi hanya terdengar gemericik suara air shower.
Dom terus mengetuk pintu kamar mandi itu dengan perasaan cemas, takut jika terjadi apa-apa dengan Emily.
"Lily! Kamu baik-baik saja?!" teriak Dom menggedor pintu kamar mandi dengan kuat.
"Dalam hitungan ke-tiga jika kamu tidak keluar maka aku akan mendobrak pintu ini!" lanjut Dom masih berteriak.
"Satu ... Dua ... Tig—" Baru akan sampai di hitungan ke-tiga, pintu kamar mandi tersebut terbuka dari dalam.
CEKLEK
"Maaf, aku terlalu lama di kamar mandi," ucap Emily yang hanya mengenakan jubah mandi berwarna hitam.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dom cemas.
"Ya, seperti yang kamu lihat. Apakah kamu berharap aku pingsan di dalam kamar mandi?" jawab Emily dengan telak membuat Dom mendengus kesal.
"Aku hanya ingin buang air kecil dari tadi!" ucap Dom beralasan padahal dirinya tadi sangat mencemaskan istri kecilnya itu.
"Oh, silahkan!" Emily segera beranjak dari sana meninggalkan suaminya yang masih berdiri di depan kamar mandi.
"Kenapa dia menjadi ketus?" Dom bertanya kepada dirinya sendiri lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tatapan Emily beralih pada ranjang yang terlihat berantakan. Seketika itu Emily mengingat percintaannya dengan Dom.
"Malam pertama yang menyedihkan," gumam Emily tersenyum miris. Seolah sedang menertawakan takdirnya.
Emily dengan susah payah bangkit dari duduknya untuk membereskan ranjang yang terlihat berantakan itu.
"Apakah aku harus bangga karena sudah menyerahkan diriku kepada suamiku dalam keadaan masih suci," gumam Emily sambil melepaskan sprei yang terdapat noda darahnya.
Emily mengganti sprei tersebut dengan yang baru. Setelah selesai ia membuang sprei tersebut ke dalam tempat sampah.
"Selesai!" ucap Emily saat melihat ranjang tersebut terlihat rapi dan bersih.
Tidak berselang lama Dom keluar dari kamar mandi dengan kondisi yang jauh lebih segar.
Bagaimana tidak segar? Dirinya 'kan habis mendapatkan jacpot besar—mengambil keperawanan istrinya sendiri.
"Kamu mengganti spreinya?" tanya Dom kepada Emily yang kini duduk di tepian ranjang.
"Ya, sprei yang lama kotor," jawab Emily cuek.
"Kotor?" Dom mengulangi ucapan Emily.
"Iya, ada darahnya," jawab Emily.
"Tapi, itu dar—"
"Aku membuangnya di tempat sampah!" tegas Emily seketika itu membuat Dom langsung bungkam.
***
Emak mengiba minta VOTE-nya dong🥺🥺