
"banyak juga yang kau tau." sahut Aqira tersenyum tipis. Keduanya lalu menoleh kearah Wanda, "dan bagaimana denganmu? kita belum pernah bertemu, dan setahuku kau tidak pernah peduli dengan orang asing." ucap Aqira memandangnya. Wanda mengambil nafas panjang, "tidak ada yang bisa membuat perangkap jaring laba-laba serumit dirimu." ucapnya dengan nada santai. "bagaimana kau tahu?" sahut Aqira yang penasaran. "aku mendengarnya saat kau berdiskusi dengan rekanmu sebelum perburuan dimulai." jawab Wanda kepadanya. Aqira menyanggah dagunya dan berkata, "tapi bagaimana kau bisa mendengarnya? padahal aku menggunakan nada pelan saat itu." ucapnya yang berpikir. Wanda melangkah mendekatinya seraya berkata, "apa kalian meremehkan pendengaranku." ucapnya sembari mendekatkan wajahnya.
srek… "tolong! siapapun tolong aku!" terdengar suara wanita yang berteriak yang sedang melintas di sekitar sungai. Ketiganya sontak waspada dan bersembunyi dibalik batu. Aqira yang mengintip diam-diam mulai memperhatikan gerak-geriknya. Wanita itu berlari menuju kedalam hutan lebat untuk menghindari kejaran ninja hitam. "aneh, bagaimana ada wanita berkeliaran di dalam hutan sendirian?" ucap Jeni yang menyanggah dagunya sambil berpikir. Wanda melirik kearah Aqira seraya berkata, "bukan aneh, ini tarik ulur." ucapnya sembari memakai pakaiannya. "oh." sahut Jeni dengan wajah datar. "bergabung?" ucap Wanda menoleh kearah yang lain. Keduanya sontak menjawab, "tentu." ucapnya sambil memakai pakaian mereka.
Wanda memejamkan matanya dan berkata, "suaranya puluh meter dari sini, apa ketajaman matamu bisa digunakan?" ucapnya menoleh kearah Aqira. Ia sontak menjawab, "tapi saat malam hari penglihatanku terbatas, aku membutuhkanmu." ucapnya sembari menoleh kearah Jeni. "dengan senang hati." sahut Jeni sembari mengendus aroma di sekitarnya.
Yah, karena kemampuan aneh inilah mereka direkrut kedalam suatu organisasi sebelum mereka memasuki dunia mafia. Dari Wanda yang memiliki pendengaran tajam seperti kelelawar, Aqira yang memiliki penglihatan tajam seperti pisau, dan Jeni dengan penciuman tajam seperti hewan buas. Mereka dipertemukan dalam misi berbahaya mereka hingga akhir hayat.
"sebelah sana." ucap Jeni sambil menunjuk arah timur mereka. Ketiganya langsung memakai pakaian mereka, dan bergegas menuju sumber suara. "ada seorang wanita dan tiga ninja hitam mengepungnya." ucap Aqira yang melihat lokasi kejadian dari atas pohon. Aqira dan Wanda saling bertatapan dengan memberikan kode satu sama lain.
"ka…kalian jangan mendekat, atau…atau…aku…" ucap wanita itu yang mundur selangkah demi selangkah. Salah seorang dari ninja hitam itu siap menerkamnya dari depan, "hyatt." orang hendak menebas leher wanita itu dengan pedangnya.
Klang…
"siapa!?" ucap ninja hitam itu menoleh kearah batu yang dilemparkan kearahnya. Aqira menoleh kearah Jeni, "kau yang melakukannya?" ucapnya dengan wajah datar. Jeni menjawab dengan tersenyum.
"awas!" ucap Jeni menarik tangan Aqira ke sisinya.
jrep… sebuah belati kecil menancap di pohon tepat di tempat Aqira berada. "aduh, apa kalian ingin membunuhku?" ucap Jeni keluar dari balik pohon dengan sikap centilnya. Wanda menyipitkan matanya seraya berkata, "sejak kapan ini terjadi?" ucapnya sembari menoleh kearah Aqira. Aqira menjawab, "mungkin semenjak menjadi nona Jian." ucapnya tersenyum tipis.
Jeni berjalan menghampiri mereka perlahan, "jika aku tergores sedikit, apa kalian bisa mengganti kulitku?" ucapnya sambil menunjukkan tubuhnya yang mulus. Salah seorang dari ninja hitam hendak menerkamnya, "siapa yang peduli!" ucapnya sembari menebaskan pedangnya. Jeni meraih tangan ninja itu sembari mematahkan tangannya, "bicara yang sopan!" ucapnya dengan nada dingin.
"selesaikan wanita itu dulu!" ucap kedua ninja hitam yang lain menuju kearah Jeni. Jeni spontan mengambil pedang milik ninja yang dilumpuhkannya. "hyatt" ninja hitam mulai menyerang Jeni dari kedua sisi yang berbeda.
"te…terimakasih, Nona. Kau…kau… sudah menyelamatkanku." ucap wanita itu menarik lengan baju Jeni. Jeni menurunkan pandangannya, "pergilah sebelum terlambat." ucapnya sembari melepaskan tangan wanita itu yang menempel di bajunya. Sontak wanita itu berlari kearah dia datang tadi. Wanda dan Aqira menghampiri Jeni setelah melihat wanita itu menjauhi lokasi kejadian.
"maaf tidak membantu." ucap Aqira sembari mengikat ketiga ninja hitam di pohon. Jeni membersihkan tangannya seraya berkata, "jangan bercanda, jika identitas kalian terekspos akan lebih rumit." ucapnya sembari menoleh kearah yang lain. Saat mengikat ketiganya, Aqira tak sengaja menginjak sebuah token yang berada disekitarnya, "eh, ini…" ucapnya sembari memungut benda itu. Wanda sontak mendekat dan meraih token tersebut, "token matahari?" ucapnya sambil membolak-balikkannya. Jeni langsung menggeledah salah satu diantara ninja hitam yang mereka ikat, ditangannya terdapat tato bergambar matahari, "kenapa sama?" ucapnya sambil membandingkannya dengan miliknya. "aku juga punya." ucap Aqira sembari menarik lengan bajunya keatas. "jangankan kau, aku juga memilikinya." sahut Wanda yang ikut menunjukkannya.
Wanda bersandar di pohon sambil menatap langit, "tapi kenapa bisa sama? tunggu! kenapa semuanya punya?!" ucapnya yang kebingungan. "aku belum memastikan, tapi menurut pengamatanku ini, banyak kejanggalan disini. Seingatku token ini sangat rahasia, hanya kaisar dan penerusnya yang dapat membawanya." ucapnya sambil berpikir. "apa itu artinya…" sahut kedua sembari menatap satu sama lain. Aqira mengangguk dan berkata, "ya. Dan kita harus segera kembali ke tenda perburuan." ucapnya sembari menarik keduanya meninggalkan tempat itu.
Disisi lain, para pria sedang gelisah mencari ketiga gadis yang tiba-tiba menghilang itu.
brak… "apa gunanya kalian! jika tidak bisa menemukan salah seorang dari mereka!" bentak Yalan kepada bawahannya. "jangan tunjukkan wajah kalian sebelum menemukan mereka." ucap Pangeran Yan dengan nada dingin. "jika sampai fajar tidak ketemu, penggal mereka semua." ucap Jilixu sambil memainkan belatihnya.
Jeni membuka tirai tenda seraya berkata, "siapa yang akan dipenggal?" ucapnya sembari masuk kedalam bersama Wanda dan Aqira. Mendengar itu, ketiga pria itu sontak berdiri menghampiri mereka.
"apa kau baik-baik saja? apa kau terluka?" ucap Yalan memeriksa seluruh keadaan Wanda dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanda menepuk pundak kakaknya dengan lembut, "apa yang kakak khawatirkan? aku bukan anak kecil." ucapnya sembari tersenyum.
"kau darimana saja? kenapa tidak memberi tahuku?" ucap Jilixu menatap khawatir Jeni. "membersihkan diri." sahut Jeni dengan acuh tak acuh.
"apa kau menemukan bahaya?" tanya Pangeran Yan kepada Aqira. "kau lihat bagaimana?" sahut Aqira menatap wajah gelisah Pangeran Yan.
"ingatlah, jika ingin pergi beritahu dulu." ucap ketiga pria bersamaan. Para pelayan dan prajurit terbengong melihat tingkah ketiga pasangan ini. Ketiga gadis menghela nafas panjang seraya berkata, "kita bukan anak kecil." sahutnya yang bersamaan.
"pff…" para pelayan serta prajurit yang berada diluar tenda tertawa kecil melihat pertengkaran mereka.