
"semuanya sudah beres." sahut pria itu yang berjalan mendekati Wanda sembari membantunya membuka karung besar itu.
Wajahnya yang tertutup kegelapan pun mulai tersinari oleh sinar bulan yang datang dari jendela.
"hei, jangan kotori tanganmu dengan ini." ucap Wanda mencegah pria itu untuk membantunya.
Pria itu dan Wanda saling menarik karung besar itu dengan kuat sampai tali pengikat diatasnya putus sampai karung itu terlempar keluar.
"apa karena ini kau menjauhiku?" tanya pria itu dengan nada serius sambil menatap wajah Wanda dari dekat.
"apa yang kau katakan? kau tetaplah kakakku Yalan." ucap Wanda sembari menoleh kearah Yalan yang berada di samping kirinya.
Mereka berdua melamun sambil menatap wajah satu sama lain dengan diiringi oleh hembusan angin malam serta alunan suara serangga diluar gubuk.
"a…duh… kenapa kepalaku pusing?"
Terdengar suara rintihan seorang wanita dari luar gubuk itu. Lamunan diantara keduanya pun terpecah sembari bergegas keluar menuju sumber suara.
Terlihat Cheng Nan berdiri disamping seorang wanita yang tengah duduk di tanah dengan separuh tubuhnya didalam karung besar tadi.
"bagaimana keadaanmu nona?" tanya Wanda yang mendekatinya sembari berjongkok didepannya.
Mata wanita itu terbuka lebar menatap wajah Wanda dengan jari telunjuk kanannya mengarah tepat di wajah Wanda.
"turunkan jarimu." ucap Wanda yang menatapnya dengan dingin.
Wanita itu adalah salah satu pekerja paviliun Tangjin yang di temui oleh putra mahkota, Xiao Zhennai, beberapa waktu yang lalu.
"langsung ke intinya saja, apa hubunganmu dengan pria yang kau temui tadi?" tanya Wanda sambil memutar pisau kecil di atas tanah dekat wanita itu duduk.
"jawab dengan jujur atau…" pisau yang berputar dengan cepat itu berhenti tepat di depan tangan wanita itu yang menopang tubuhnya dengan jarak satu cm, "kau mengerti?"
"aku, aku mengerti." sahut wanita itu dengan mengangguk cepat.
Cheng Nan terdiam melihat cara yang dilakukan oleh Wanda sembari menoleh kearah Yalan yang ada di seberangnya, terlihat senyum tipis muncul di bibir Yalan yang membuatnya terbengong sesaat.
"apa dia masih tuanku?" batinnya.
Keesokan harinya…
Setelah menyelesaikan semua urusan yang ada, Aqira dan Jeni kembali ke ibukota secara terpisah dengan Jeni membawa pulang Jing Nan ke kediamannya, dan Aqira mulai bertugas ke klinik.
"aneh, kenapa sepi sekali?" batin Aqira yang melihat sekeliling klinik nampak sepi.
Tak lama dari keheningan itu, seorang gadis datang ke klinik itu untuk berobat.
"nona, kurangi konsumsi gula yang berlebihan." saran Aqira kepada gadis itu sambil menuliskan resep obat.
"terimakasih tabib Chu." sahut gadis itu menanggapinya.
"oh iya, apa aku boleh bertanya sesuatu?" sambung Aqira sembari memberikan resep obat yang sudah ditulisnya.
"katakan saja, hamba akan menjawabnya sebisa mungkin." timpal gadis itu.
"mengapa kota sangat sepi? apakah ada sesuatu?" tanya Aqira berdiri dari duduknya sembari mengantar gadis itu sampai pintu.
"apa nona tidak tahu? selir putra mahkota hari ini akan di eksekusi, dan semua warga datang untuk melihatnya." jawab gadis itu.
"ternyata begitu, terimakasih untuk informasinya." ucap Aqira berhenti di pintu.
"baiklah, kalau begitu hamba pamit, sampai jumpa." ucap gadis itu yang melangkahkan kakinya keluar dari klinik ChuLin.
"para rakyat yang hadir, disini kita akan saksikan hukuman bagi penghianat negara." ucap seorang pria yang berdiri di samping tempat pasung sambil memprovokasi warga.
"hukum penghianat negara! hukum!"
Suara sorak-sorakan itu terus terdengar sampai ke istana kaisar. Setelah setengah jam suara sorakan itu, muncullah putra mahkota beserta pejabat negara lainnya hadir disana.
Setelah kehadirannya, pria kekar yang akan mengeksekusi wanita yang di pasung itu untuk di penggal di hadapan rakyat yang ada.
Tepat saat pedang yang tajam itu hampir mengenai kulit wanita itu, seseorang melemparkan sayuran busuk dari kerumunan kearah warga didekat tempat eksekusi sampai terjadilah kekacauan disana.
"lindungi putra mahkota!" ucap komandan yang menjadi provokator tadi memerintahkan para prajurit untuk melindungi Xiao Zhennai agar tak terkena lemparan-lemparan itu.
Di tengah kekacauan ini, mereka yang sibuk melindungi putra mahkota tak menyadari wanita yang di pasung itu menghilang.
"salam putra mahkota." ucap seorang prajurit melapor di istana barat daya milik putra mahkota.
"katakan!" sahut Xiao Zhennai yang berdiri membelakangi prajurit itu.
"kami sudah mencari ke setiap sudut kota, tapi tak menemukan jejaknya." lanjutnya yang melaporkan.
Xiao Zhennai yang tengah bermain pisau melemparkan pisau itu hingga menancap tepat satu cm didepan kaki prajurit itu.
"cari sampai dapat! jika besok tidak dapat menemukannya… penggal semua prajurit yang ikut mencarinya." ucapnya memberikan perintah pada prajurit itu.
"ba…baik yang mulia." sahut prajurit itu segera meninggalkan ruangan.
"yang benar saja, bagaimana bisa buronan yang dijaga ketat bisa menghilang begitu saja." gumam Jing Nan yang berjalan kembali ke kediaman milik Jeni.
Setelah di sampai disana Jing Nan terpaku melihat Wanda sedang menyapu halaman yang dipenuhi daun-daun berguguran.
"butuh bantuan?" ucapnya yang bertanya pada Wanda.
Wanda hanya mengangguk untuk menanggapinya, dan Jing Nan segera membantunya dengan menggali kan lubang untuk mengubur dedaunan itu.
Selesai dengan itu Jing Nan duduk di bawah pohon rindang di halaman samping, sementara Wanda langsung masuk kedalam rumah.
"maaf merepotkanmu." ucap Wanda yang menyodorkan secangkir teh sembari duduk disebelah Jing Nan.
"terimakasih." sahut Jing Nan yang menerimanya.
Mereka berdua menikmati secangkir teh itu tanpa ada obrolan apapun. Tak lama kemudian Jeni kembali bersama Tian ai dan putranya dengan membawa bahan-bahan belanjaan.
"Yo… apa kalian yang membersihkan halaman?" ucap Jeni yang meledek keduanya.
Wanda berdiri dari duduknya sembari menghampiri Jeni dengan menitipkan cangkir teh nya pada Jing Nan.
"sebanyak dan secepat ini?" tanya Wanda yang terheran melihat Jeni dan Tian ai yang masing-masing membawa dua kantung belanjaan.
"huff… apa boleh buat, pemilik toko menjualnya dengan harga murah tapi kualitasnya bagus, jadi kami pikir lebih baik membeli semuanya." jawab Tian ai dengan wajah gembira seorang wanita sehabis belanja.
"kenapa bisa begitu?" tanya lagi Wanda sambil menatap Tian ai.
"tidak tau, katanya mereka ingin segera menutup kedai untuk melihat sesuatu di depan istana kerajaan." jawab Tian ai yang memberikan satu kantung belanjaan kepada Wanda.
"bukan sesuatu, tapi mengeksekusi penghianat negara." timpal Jing Nan yang bergabung nimbrung bersama.
"apa?!" Tian ai menjadi terkejut ketika mendengar berita itu walau hanya setengah saja.