Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Mansion Jenderal Ye



Keesokan harinya, Tian ai beserta para orang-orangnya melakukan perjalanan menuju kediaman jenderal Ye. Ditengah perjalanan tiba-tiba seseorang menerobos masuk kedalam kereta Tian ai, "bawa ini." ucap orang itu memberikan bungkusan kain kepadanya. Setelah memberikannya, orang itu langsung keluar dan meninggalkan rombongan Tian ai. Kemudian kami menempuh beberapa mil hingga sampai di depan mansion Jenderal Ye. Tian ai mengajak ketiga gadis ini langsung ke kamarnya dan membagi tugas masing-masing dari mereka. Bukan hanya itu, mereka bahkan diajari cara untuk beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.


"sebagai orangku, jangan mau ditindas! mengerti!" pesan Tian ai yang menatap ketiganya. Dia melirik kearah jendela seraya berkata, "kalau belum paham, akan ku tunjukkan pada kalian." ucapnya yang melihat seseorang berjalan menuju kamarnya.


Tap…tap…tap…


"salam kakak, lama tidak berjumpa." ucap seorang wanita bangsawan yang datang bersama kedua pelayannya. Jeni menuangkan teh untuk Tian ai.


"salam adik, lama tidak berjumpa." sahut Tian ai sembari memegang cangkir tehnya. Wanita itu menoleh kearah pelayan baru yang berada di sisi Tian ai yang tak kunjung pergi. Tian ai menyeduh tehnya sedikit kemudian menaruh cangkirnya di meja, "apa kau bertengkar dengan tuan muda Wang lagi? Ye… Mian… ai." ucapnya sembari menyilangkan kakinya.


"!?" wanita itu terkejut mendengar kata pedas yang keluar dari mulut Tian ai.


"Ye Mian ai?" batin Wanda.


Ye Mian ai, adalah keponakan dari jenderal Ye, dia putri kedua dari paman ketiga Tian ai. Dia terkenal akan sikapnya yang lemah lembut terhadap semua orang, tapi hanya Tian ai yang tau alasan dibalik sikapnya yang tak lain demi mendapatkan martabat yang baik di lingkaran para bangsawan serta merebut apa yang disukai oleh Tian ai.


"kakak jangan bercanda, aku dengan tuan muda Wang Lan hanya berteman." ucap Mian ai yang tersenyum paksa. Batinnya saat ini, "Tian ai sialan! jika bukan karena kau menarik perhatian putra mahkota, aku tidak akan bertemu denganmu. Dan aku tidak akan membiarkanmu lebih unggul dariku!" penuh kebencian hingga menutup hati nuraninya. Tian ai berdiri sembari berjalan mendekatinya, "hanya teman tapi menginap di kamarmu setiap malam, hahhh… atau jangan-jangan… semua temanmu bisa menginap sesuka hati disana?" bisiknya dengan tatapan jijik.


"kakak!" bentak Mian ai dengan wajah marah. Kemudian dia membungkukkan badannya, "maaf kak, aku ingat masih ada urusan, aku pergi dulu." ucapnya sembari berbalik meninggalkan kamar Tian ai dengan kesal. Tepat setelah Mian ai keluar, seorang wanita dengan pakaian sederhana datang berkunjung ke kamar Tian ai, "apa aku melewatkan sesuatu?" ucapnya sembari melangkah masuk kedalam. Tian ai memutar badannya dengan cepat sembari bergegas memeluknya, "adik, aku merindukanmu." ucapnya yang bersikap manja kepada wanita itu.


"kakak, bersikaplah dewasa sedikit." ucap Wanita itu yang mendorong perlahan Tian ai.


"baiklah, tunggu! apa kau bertemu diam-diam dengan pangeran kelima, Ye… Lian ai." ucap Tian ai yang menatap wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita itu tersipu sembari menyembunyikan wajahnya, "kakak, jangan menggodaku!" ucapnya dengan wajah merona.


"Lian ai?" batin Jeni.


Ye Lian ai, putri dari paman kedua Tian ai. Karena mempertahankan perbatasan, orang tua Lian ai gugur dalam perang pemberontakan. Sejak itu dia dibawa ke Mansion oleh Jenderal Ye saat usianya masih tiga tahun, dan semenjak itulah Tian ai dan Lian ai menjalin hubungan seperti saudara kandung dan tumbuh bersama dibawah didikan Jenderal Ye.


"baiklah, aku tidak akan menggodamu." ucap Tian ai yang menurunkan tangan Lian ai yang menutupi wajahnya. Demi tak merasa canggung, Lian ai mengalihkan perhatian kakaknya itu, "oh iya kak, apa yang kau lakukan pada Mian ai?" ucapnya yang menatap wajah Tian ai dengan penuh penasaran. Tian ai menghela nafas seraya menjawab, "aku hanya bermain dengannya."


"sangat senang melihat seseorang yang membenciku tapi tak bisa menyentuhku." batin Tian ai penuh tatapan benci.


"ternyata begitu, dan aku lihat dia mendekatimu demi putra mahkota." ucap Lian ai sembari duduk. Tian ai sontak duduk disebelahnya dan berkata, "aku akan memenuhi hasratnya."


"dan aku akan membantumu." ucap Lian ai menyambung kalimat kakaknya.


Batin Jeni dan Wanda saat ini, "sepertinya akan ada pertunjukan besar." sembari menundukkan kepalanya.


Saat ini di istana barat, Pangeran Yan tak sengaja memergoki Pangeran kelima yang mengendap-endap masuk ke istana timur dengan pakaian sederhananya, "kau menyelinap keluar lagi?" ucapnya sembari menatap wajah Pangeran kelima. "jawab Pangeran Xiao Zhen" sambungnya dengan wajah serius.


Xiao Zhen, Pangeran kelima yang tak lain adalah kekasih dari Ye Lian ai. Dia yang paling jenius diantara kesembilan saudara laki-lakinya. Meskipun dia sangat arogan didepan saudara-saudaranya, tapi dia sangat patuh kepada pangeran Yan karena dia memegang satu rahasianya.


"seorang pangeran Zhen yang bermartabat, menyelinap keluar istana untuk bertemu kekasihnya." Mendengar perkataan dari kakaknya itu, Zhen langsung memotong pembicaraan saat itu juga, "apa yang kau butuhkan?" ucapnya yang paham akan kode dari kakaknya itu.


"uhuk, beri aku paduan mendapatkan kekasih." ucap Pangeran Yan.


Mata Zhen terbelalak karena terkejut, "seperti apa dia?" ucapnya dengan nada mengejek.


"dia cerdas dan tangguh, dia bisa mengalahkan permainan catur ku. Dia bisa memecahkan masalah dalam sekejap dan sangat peduli dengan rekan-rekannya. Walau situasi segenting apapun, dia tetap bersikap tenang untuk memecahkan masalahnya." ucap Pangeran Yan yang menceritakan setiap inci dari Aqira.


"sebut namanya kak." tanya Zhen dengan menatap wajah kakaknya. Karena terlalu senang menceritakan Aqira hingga membuatnya tak bisa berhenti memikirkannya. "Chu Qian." jawab Pangeran Yan tanpa sadar.


Zhen membatu seraya berkata, "kak, kau menyukai laki-laki?!"


"hachu, siapa yang membicarakanku?" ucap Aqira yang memegang punuk lehernya.


Seseorang datang menghampirinya, "Qian, tuan memanggilmu." ucapnya dengan dingin. Aqira berdiri sembari berjalan mengikutinya.


"tuan, orangnya sudah disini." ucap orang itu seraya meninggalkan Aqira bersama seseorang yang dia beri laporan tadi.


Tap…tap…tap… Aqira melangkah masuk kedalam dengan hati-hati sembari berlutut memberi salam. "bertemu pimpinan." ucap Aqira sambil membungkuk sedikit.


"kemari lah." sahut orang itu dengan mengulurkan tangannya. Aqira sontak menjawab, "hamba tak layak." ucapnya dengan tegas. Orang itu pun langsung berdiri dan menarik Aqira kedalam pelukannya, "aku tahu kau marah padaku, tapi jangan bersikap dingin denganku." ucapnya yang memeluk erat Aqira.


Batin Aqira saat ini, "jika ini di zaman modern, sudah kupastikan namamu saja yang tertinggal." geramnya yang menahan amarahnya.


Aqira mendorongnya perlahan sambil mundur selangkah, "maafkan hamba, mungkin pimpinan salah mengenali orang." dia mundur hingga terpojok di jendela, saat ia mundur selangkah lagi, ternyata kayu jendela sudah koyak dan roboh ketika tubuh Aqira menyentuhnya.


"hati-hati!" ucap orang itu yang mengulurkan tangannya kearah Aqira.