Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Kejadian sebenarnya



"maaf harus membuatmu melihatnya." ucap Xiao Yan mengalihkan wajahnya sembari mengusap sisa air mata yang membekas di pipinya.


"aku tidak akan mengira, pria seperti dia menangis di depanku." batin Aqira sembari menghela nafas panjang.


Malam yang begitu dingin berlalu dengan singkat. Langit gelap mulai berganti warna dengan hadirnya mentari pagi. Meskipun sinar matahari menyentuh kulit mereka, tapi hawa dingin masih tetap terasa. Itu bukan karena mendung melainkan menandakan musim dingin akan tiba.


"apa kau sudah dengar? dengar-dengar Xiao Zhennai meninggal didalam penjara." gumam orang-orang di pasar.


Tian ai yang tengah membeli bahan makanan pun tak sengaja mendengarkan itu dari orang-orang disebelahnya. Dia berdiam diri disana dengan waktu yang cukup lama namun tak berani bertanya pada mereka.


"kak, apa semuanya sudah dibeli?" tanya Jeni yang muncul disebelahnya sembari membawakan kantung belanjaan yang ada ditangannya.


"ah iya, semuanya sudah dibeli." jawab Tian ai yang tersadar dari lamunannya.


"kita kembali?" lanjut Jeni yang bertanya dengan memiringkan kepalanya didepan wajah Tian ai.


Tian ai tersenyum tipis melihat tingkahnya itu, "baiklah."


Keduanya berjalan kembali ke kediaman milik Jeni. Sampai disana mereka disambut oleh Wanda dan empat orang lainnya.


"kalian disini?" ucap Tian ai yang bersemangat melihat mereka semua.


"musim dingin hampir tiba, kita berencana untuk berburu, apa kakak mau ikut?" ucap Xiao Yan menawarkan.


Tian ai terpaku mendengar panggilan yang dilontarkan Xiao Yan kepadanya. Dia sama sekali tidak menanggapinya dan terus terdiam.


"apa kakak tidak mau ikut?" lanjutnya yang bertanya dengan tampang gelisah.


Tian ai tersadar ketika mendengar nada serak dari mulut Xiao Yan, "aku akan ikut."


"apa kami juga diajak?" timpal Mo Chen yang baru saja datang bersama Yalan setelah mengurusi urusan kremasi dari Xiao Zhennai.


Wanda menoleh kearah Yalan dengan tersenyum manis dan langsung dibalas oleh senyuman hangat dari Yalan.


"aku tidak percaya, dia masih tenang seperti ini." batin Yalan saat ini.


Kembali ke kejadian dua hari lalu, dimana saat akan melakukan hukuman penggal pada selir putra mahkota. Dalam kekacauan yang terjadi saat para warga saling melempar batu dan hasil panen, Wanda datang kehadapan wanita itu dengan menyamar sebagai pria yang mencari perlindungan.


"balas dendam." ucapnya sambil mengulurkan tangannya pada wanita itu dengan berjongkok.


Wanita itu tanpa pikir panjang menjabat tangan Wanda karena ia pikir itu pilihan yang tepat sebab dia bisa menyamarkan diri diantara orang-orang untuk mendekatinya.


Setelah jabatan tangan itu, Wanda memutuskan rantai tebal itu dengan menggunakan senjata sistem yang sangat tajam dan tidak menimbulkan suara saat bersentuhan dengan besi yang ia potong.


Keluar dari kekacauan itu Wanda membawanya ke ruangan gelap yang kedap suara. Ia bertemu dengan Yalan didalam ruangan itu.


"langsung ke intinya, apa mau kalian?" ucap wanita itu dengan tegas.


Wanda menarik belati kecil yang ada di pinggang Yalan dan mengeluarkan kantung kecil dari sakunya. Dia berjalan mendekati wanita itu dan menaruh kedua benda yang ada ditangannya ke hadapannya.


"satu malam, selesaikan dengan baik." ucapnya.


Wanita itu menatap kedua benda yang ada dengan seksama, "aku mengerti." ucapnya sembari mengambil kedua benda itu.


Malam hari setelah kekacauan itu, Jeni, Aqira, Xiao Yan, Jilixu, dan Mo Chen diantar oleh Yalan menemui wanita itu.


Ekspresi wajah wanita itu menjadi kaget setelah berbicara beberapa patah kata dengan Mo Chen.


"itu benar, dia adalah adikku, Qingyin." sahut Mo Chen dengan santai.


"aku tidak menyangka, dia benar-benar menepati janjinya dulu." ucap wanita itu sambil terisak-isak mengingat kejadian bertahun-tahun yang lalu.


Percakapan singkat itu berakhir tiba-tiba saat Wanda muncul dengan ujung bajunya yang bernoda darah.


"aku tidak apa-apa, ini hanya lecet sedikit." ucap Wanda sebelum mereka bertanya.


"ini bahan obat yang kau butuhkan." lanjutnya yang memberikan bingkisan warna coklat berisi bahan herbal kepada Aqira.


"terimakasih." sahut Aqira menerimanya dengan hati-hati.


Aqira dengan dibantu oleh Jeni mengobati luka-luka lama maupun baru yang membekas di kulit wanita itu dengan sangat hati-hati. Aqira bahkan sampai harus menjahit luka di punggungnya.


"apa kau masih bisa bertahan?" tanya Aqira yang selesai dengan semuanya.


"ini lebih baik, jadi kapan aku harus bertindak?" ucap wanita itu yang bertanya balik dengan tidak sabaran.


"besok malam." sahut Wanda setelah selesai berdiskusi dengan Xiao Yan, dan ketiga pria lainnya.


Kemudian Wanda meminta Aqira, Jeni, dan Jilixu untuk berjaga disana sementara ia bersama Xiao Yan, Yalan dan Mo Chen pergi untuk menyelesaikan tugas berikutnya.


Pergi dari tempat itu mereka menuju ke paviliun Ciyu tempat Jeni dulu mendarat. Yalan dan Mo Chen menyamar sebagai saudagar kaya yang berjudi, sedangkan Wanda dan Xiao Yan menyamar sebagai salah satu pekerja di tempat itu.


"kau siap?" ucap Wanda dengan pelan yang berjalan dibelakang Xiao Yan


Xiao Yan menaiki anak tangga dengan hati-hati dan berkata, "ya" sahutnya dengan pelan.


Dari enam wanita yang berjalan berdampingan itu, mereka dibagi menjadi dua kelompok untuk memasuki dua kamar yang berbeda. Dari dua barisan kelompok ini, Xiao Yan dan Wanda berada di kelompok kedua yang akan memasuki ruang tengah yang amat mewah.


Mereka berenam memasuki kamar yang berbeda pada saat yang bersamaan dengan kedua mata tertutup kain seperti seorang tahanan.


"aku sudah bawa yang kau inginkan, silahkan nikmati malammu."


Baru memasuki ruangan Xiao Yan dan Wanda sudah disambut dengan kalimat itu oleh pengurus paviliun tersebut. Mereka yang sama-sama profesional dalam hal ini memerankan peran mereka dengan sangat baik dengan tetap tenang.


PYARR…


Suara kedua yang muncul adalah sebuah benda pecah yang jatuh ke lantai sampai mengenai kaki tiga dari enam orang yang harus membuatnya dikeluarkan dari kamar. Dan kini tersisa tiga orang saja yang satu dari Xiao Yan dan Wanda merasa bergetar untuk tetap bertahan.


Melihat kegigihan serta sikap tenang dari Wanda Xiao Yan menarik perhatian dari orang yang memesan kamar itu, dia memerintahkan pengawalnya untuk membawa Xiao Yan dan Wanda ke kamar sebelah kiri yang nampak sederhana dari luar.


"kuharap kalian pandai bermain…" terdengar suara serak seorang pria mendekati keduanya serta bunyi derapan langkah kaki keluar dari ruangan itu.


"kalian lumayan wangi." ucapnya dengan membelai rambut Xiao Yan dan Wanda secara bergantian.


Sementara Yalan dan Mo Chen masing-masing dipapah oleh wanita pekerja di tempat itu ke ruangan yang berada tepat di samping kiri dari Wanda dan Xiao Yan saat ini.


"tuan…" rintih seorang wanita yang sedang menggoda Yalan dengan menggosokkan dada besarnya tepat di lengannya.