Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Membawa lari seorang pemuda



"mau kau bawa kemana dia?"


Terdengar lantang suara seorang wanita bertanya kepada Aqira dan Jeni yang hendak membawa pergi pemuda itu serta dua orang kekar tiba-tiba menghalangi jalan mereka. Jeni mengangkat pandangannya kearah dua pria kekar yang berdiri tepat didepannya itu.


"ada masalah?" tanya Aqira kepada suara lantang tadi tanpa mencari keberadaannya.


TAK TAK TAK


Suara langkah kaki turun dari belakang mereka dan mendekat secara perlahan. Pemuda tadi melirik kearah seorang wanita berpakaian mewah dengan kipas merah bermotif merak yang datang dari belakangnya. Lensa matanya perlahan menciut menatap wajah wanita itu.


"apa dia kekasihmu?" bisik Jeni kepada pemuda itu.


"kau bercanda?" ucap pemuda itu meresponnya.


"hanya bertanya." sahut Jeni mengalihkan perhatiannya karena sementara berhasil mengalihkan perhatian pemuda itu karena melihat wanita tadi.


"tentu." jawab wanita itu yang merespon pertanyaan dari Aqira tadi.


Perlahan wanita itu sampai didepan Aqira dengan tampang arogansinya itu. Dengan kepercayaan dirinya ia bertanya pada Aqira.


"apa kau punya hak untuk membawanya pergi?" ucapnya dengan tatapan tajam untuk menggertak seseorang.


Aqira tersenyum tipis mendengar nada menantang dirinya, pandangannya yang semula menunduk karena enggan menatap kerumunan ia paksa untuk mendongak.


"apa ini cukup?" ucapnya yang menunjukkan selembar kertas berisi kontrak diri serta giok berwarna putih yang menjadi benda kontrak milik pemuda itu.


"apa sekarang, kau bisa minggir?" lanjutnya yang memasukkan kertas tadi kedalam sakunya kembali.


"pff… ahaha… kau pikir dengan kertas palsu dan giok palsu itu kau bisa membohongiku?"


Wanita itu beserta orang-orang sekitar pun menertawakan Aqira dan Jeni karena hal itu.


"oh… apa buktinya kalau ini palsu?" tanya Aqira dengan melipat tangannya menangkis tuduhan itu.


Wanita itu mengangkat sudut bibirnya sembari menunjuk kearah pintu besar yang sudah tertutup selama bertahun-tahun.


"itu adalah pintu spiritual, jika giok itu asli maka bisa membukanya, dan jika palsu… kau akan hilang terserap olehnya." jelas wanita itu.


Tanpa basa-basi Aqira pun langsung menghampiri pintu yang ditunjuk itu sembari mendekatkan giok tadi untuk menyelesaikan semuanya dengan cepat.


Krak…Kratak…


Benar saja, pintu itu benar-benar terbuka karena giok yang dibawa oleh Aqira.


"pintu itu benar-benar terbuka! benar-benar terbuka!"


Semua orang merasa takjub kepada Aqira bahkan wanita juga terseret kagum untuk sesaat. Dari dalam pintu itu muncul sinar terang yang membuat mata semua orang harus memejamkan mata mereka karena silauannya.


Wanita tadi hendak masuk kedalam ruangan yang terang itu namun terhenti karena Aqira lebih dulu menutupnya.


"kenapa kau menutupnya?!" bentak wanita itu karena kesal.


"jadi, apa sekarang kami bisa pergi?" tanya Aqira yang mengalihkan perhatian.


"tidak! kalian tidak bisa pergi!" jawab wanita itu dengan nada tinggi.


BRUAKK…


Baru selesai dengan kalimatnya, pintu besar yang menjadi akses keluar masuk tempat itu rusak karena sebuah lonceng baja yang menabraknya.


Mereka semua mencari-cari sudut darimana lonceng besar itu berasal.


"ck, untung tidak meleset." gumam Wanda yang menjadi dalang pelemparan lonceng tadi.


"maaf, tapi kami harus pergi." ucap Aqira yang mengucapkan selamat tinggal pada wanita tadi sembari melompat seperti pendekar meninggalkan tempat itu.


Jeni mengangkat pemuda tadi bersamanya menyusul Aqira, sementara Wanda melempar sekantung emas saat melintasi wanita tadi dari atas.


"kenapa kita bersembunyi? kenapa tidak pergi dan hadapi mereka?" tanya pemuda itu kepada Jeni.


Aqira yang mendengarnya juga keheranan sambil menatap Wanda yang masih tak berbicara dari tadi. Dari keheningannya membuat Jeni dan Aqira merasakan firasat buruk akan terjadi.


"hei apa kau dengar? paviliun Tangjin kebakaran!" gosip warga setempat.


Pemuda itu dan kedua gadis ini terkejut mendengarnya. Aqira dan Jeni perlahan kembali menoleh kearah Wanda, tentu saja, ada sebuah senyuman tipis muncul di bibirnya.


"siapa dibalik ini?" tanya Aqira dengan serius.


Wanda menurunkan senyuman dan kembali ke mode datar, "kakak pertamaku, Yalan."


"lapor tuan, semua orang yang berada didalam tempat itu sudah di evakuasi." ucap Cheng Nan kepada seorang pria berjubah hitam yang menatap paviliun Tangjin dimakan habis oleh kobaran api.


Pria itu maju selangkah dengan wajahnya yang semula terhalang pohon tersinari oleh sinar bulan, "bagus, sekarang kita selesaikan sisanya." ucapnya dengan nada berat, dia adalah Yalan.


"sulit dipercaya." ucap Jeni setelah mendengar cerita dari Wanda.


Saat ini mereka tengah berbicara bertiga di dalam kamar di penginapan pinggiran kota.


"kalian tau, aku menemukan sebuah rahasia tadi…" bisik Wanda yang nampak serius kepada kedua temannya itu.


Tak lama dari perbincangan itu, pemuda tadi datang ke tempat mereka setelah berganti pakaian yang dibawa oleh Wanda. Pembicaraan itu pun berakhir saat itu juga karena tak ingin melibatkan orang luar.


"kenapa kau kemari?" tanya Jeni kepada pemuda itu.


"itu… itu…" pemuda itu terbata-bata karena ragu akan mengungkapkan perkataannya.


Akhirnya Wanda dan Aqira pun hendak memutuskan meninggalkan keduanya agar bisa leluasa berbicara. Akan tetapi pemuda itu malah menghentikannya agar mereka tetap di tempat.


"katakan." ucap Aqira dengan kedua tangannya yang dilipat.


"karena kalian sudah menyelamatkanku, bisakah kalian memberitahuku syaratnya?" ucapnya menjelaskan.


"kenapa? kau sangat tidak sabaran." timpal Jeni.


"tidak bukan begitu! aku, aku hanya tidak suka berutang budi!" sahutnya dengan wajahnya yang kesal menatap Jeni.


Wanda menekan ringan pundak Jeni untuk berhenti bertengkar dengan pemuda itu.


"pertama kenalkan diri terlebih dahulu." ucap Jeni dengan mengulurkan tangannya kearah pemuda itu, "Jian." lanjutnya yang memperkenalkan diri.


Pemuda itu merasa bingung namun tetap menjabat tangannya, "Jing Nan." ucapnya dengan nada rendah.


Setelah melepas jabatan tangan dengan Jeni, Jing Nan menoleh kearah Aqira dan Wanda yang berada di samping kiri Jeni.


"Qian." ucap Aqira yang menatap pemuda itu tanpa menjabat tangannya.


"Qingyin." ucap Wanda tanpa menatap wajah pemuda itu serta dengan tangannya yang bersendekap.


Pemuda itu merasa tertarik dengan sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh Wanda.


"kalian selesaikan semuanya, aku harus kembali." ucap Wanda yang berpamitan kepada kedua temannya sembari keluar dari jendela.


"jadi, apa kau siap untuk menerima syaratnya?" ucap Jeni yang mengalihkan perhatian pemuda itu terhadap Wanda.


"ekhem… ya! katakan saja!" sahut Jing Nan dengan bersemangat.


TAK TAK TAK


Wanda memasuki sebuah gubuk tua di pinggiran hutan dengan di tuntun oleh seorang pria didepannya.


"bagaimana? apa sudah selesai?" tanya seorang pria didalam kegelapan tempat itu.


Wanda mendekati karung besar yang tergeletak di lantai, "seharusnya aku yang bertanya, apa semuanya beres?"