Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Silaunya bulan



Pria itu masih menatap kesal kearah Aqira walau setelah pelayan wanita itu meminta maaf atas kelalaiannya.


Pandangan orang-orang yang tertuju kearah Aqira terutama para wanita disekitarnya sama seperti hal yang dilakukan oleh pelayan tadi yang menatap beku padanya.


Karena keindahan inilah mengundang bau cemburu para pria yang wanitanya menatap Aqira sedari tadi, sampai salah seorang dari mereka menghampiri Aqira seperti pria sebelumnya.


BRAKK…


Pria itu menekan tangannya di atas meja setelah memukulnya untuk menakuti Aqira tepat didepannya.


"hei kau…" bentaknya dengan nada dinaik-turunkan seperti roller coaster.


Aqira menaikkan pandangannya kearah pria yang berdiri didepan mejanya, "ada yang bisa kubantu?"


Jawaban halus yang dikeluarkannya semakin menarik perhatian para wanita akan sikapnya yang lembut seperti penampilannya.


"aaa… dia kelihatan semakin tampan ketika tersenyum…" gumam salah seorang wanita yang melihat wajah Aqira yang tersenyum ramah kearah lawannya.


"bisakah aku mendapat suami sepertinya?" timpal yang lain menambahkan.


Semakin banyak pujian yang keluar semakin membuat para pria disana bersatu untuk menemui Aqira seperti menyatakan perang.


"hei tuan…" datang lagi pria lain yang merumuni meja Aqira sampai menutupinya.


Aqira mengalihkan pandangannya kearah pria yang memanggilnya dengan nada menantang sambil tersenyum seperti sebelumnya, "ada yang bisa dibantu?"


BRAKK…


Tepat saat perkataannya terucap, pria yang memanggil tadi memukul meja dengan kerasnya hingga meja tersebut retak.


"apa maumu…" ujarnya dengan tegas tanpa basa-basi apapun.


Suasana menjadi tegang saat mendengar kata yang terucap itu kepada Aqira dengan tidak sopannya. Sontak saja Aqira berdiri dari duduknya sembari memindah bungkusan kain yang ia bawa ke kursinya.


"kenapa bertanya…" ujar Aqira berjalan menghampirinya, "bukankah sudah jelas mengapa aku kemari?" lanjutnya yang berdiri tepat di sebelah pria itu.


Keduanya berdiri secara berdampingan dengan proporsi yang berbeda dimana Aqira setinggi telinga pria yang diajaknya bicara.


Balasan pedas darinya ditanggapi sebagai candaan oleh orang-orang karena menurut mereka Aqira tidak salah.


"kau…!" geram pria itu menoleh kearah Aqira dengan alisnya yang mengeryit.


Ketegangan ini berlangsung selama beberapa detik saja karena setelah itu pelayan wanita tadi datang membawa makanan yang dipesan oleh Aqira.


"terimakasih." ujar Aqira yang menerima pesanannya sembari menukarnya dengan tiga tael perak.


"tuan, ini terlalu banyak." ujar pelayan wanita itu yang hendak mengembalikan satu tael perak kepada Aqira namun langsung ditolak olehnya.


Aqira mengambil bungkusan kain yang ia bawa sembari menggendongnya di pundak kirinya serta membawa bungkusan makanan di tangan kanannya, "untukmu, terimakasih." ujarnya kepada pelayan wanita itu.


"waah… apa dia seorang tuan muda?" gumam para wanita yang saling bertukar pikiran.


Sementara itu Aqira berjalan pergi menjauhi kerumunan dan bersiap untuk melanjutkan perjalanannya. Di setiap langkah meninggalkan restoran, terus mengundang perhatian orang-orang yang singgah disana karena perilaku Aqira yang tenang seperti air.


Dengan membawa bungkusan kain serta makanan ditangannya dia pergi mencari penginapan untuk istirahat karena hari sudah hampir gelap.


Sepuluh meter dari restoran tadi ia sampai di sebuah penginapan sederhana yang tertutup dan sunyi dari luar seperti tidak ada pengunjung disana.


TAK TAK TAK


Tepat sampai didepan pintu kayu yang tertutup rapat ini, tetiba saja pintu secara otomatis terbuka seperti pintu mall di zaman modern.


Terbukanya pintu ini menarik perhatian orang-orang dibelakang Aqira yang sedang melintas disana.


Gemerlap kehidupan terlihat jelas dari dalam paviliun dimana para saudagar dan orang-orang kaya berkumpul disana berbincang sambil menikmati keindahan sang pencipta.


Mata tajam seorang Aqira bekerja dengan cepat merekam seluruh isi tempat dari luar tempat yang hendak ia masuki.


"hei! kau sudah kalah! serahkan seluruh taruhannya ke mami Wang!" bentak arogan seorang pria kepada wanita yang tampak terhuyung tak sadarkan diri di meja yang sama dengannya.


Melihat rumah bulan berkedok paviliun tertutup ini mengurungkan niat Aqira untuk melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam.


Baru juga memutarkan badannya empat puluh lima derajat ke kanan langsung dihadapkan oleh pria tinggi yang tak lain pria di resto sebelumnya.


"kenapa tuan? bukankah sayang jika melewatkannya." ujar pria itu sambil tersenyum ramah kepada Aqira.


Kepala Aqira terangkat kearahnya sambil menahan tudung kepalanya, "maaf, lain kali saja…" sahutnya membalas dengan senyuman sembari hendak melangkah pergi.


"tidak perlu sok suci, kalau mau masuk ya masuk saja." sela pria lain yang berdiri dibelakang pria didepan Aqira dengan mengejek.


Pria yang berdiri tepat didepan Aqira menegur rombongan yang ia bawa untuk bersikap lebih sopan padanya.


"omong kosong!" terdengar lagi suara bentakan yang berasal dari dalam paviliun itu.


Langkah yang semula sudah mantap untuk meninggalkan tempat itu terhenti dengan terdiam sejenak.


"aku belum kalah!" bentaknya lagi dengan keras. Sangking kerasnya sampai seluruh pandangan pengunjung di paviliun itu serta gerombolan pria yang berdiri di depan Aqira juga tertuju pada sumber suara.


Pemilik dari suara lantang ini adalah seorang gadis yang tampak mabuk berat sambil memegang gelas berisikan dadu didalamnya.


"sudah kubilang aku paass…tii, menang…" ujar wanita itu dengan terhuyung-huyung.


Pria yang berdiri didepan Aqira ini tersenyum picik saat melihat perubahan ekspresi tenangnya menjadi serius.


"ada apa tuan?" ujarnya berpura-pura ikut serius.


Dengan kepala miring ke kanan dia menatap sekilas pria didepannya itu, "kupikir kau benar…" ujarnya sembari memutar badannya kembali ke arah pintu masuk, "karena sudah disini, apa salahnya mampir sebentar…" lanjutnya dengan melangkahkan kakinya kedalam tempat bergelimang harta karun itu.


Kedatangan Aqira dengan gerombolan pria dibelakangnya menarik perhatian orang-orang yang semula fokus ke wanita mabuk sebelumnya kearahnya.


"aku…akan, melempar… da da…dunya" ujar wanita tadi berdiri secara tidak stabil.


Saat gelas dadu hendak dibalikkan dengan sigap dirampas oleh Aqira dari samping kanannya.


"siapa?!" bentak wanita itu menoleh kearah samping kanannya.


Mata setengah pandangan ini berubah terbelalak menatap wajah Aqira dengan kedua alisnya hampir menyatu.


"saa…ngat seru ya… Jean." ujar Aqira tersenyum pahit menatap wanita itu yang adalah Jeni.


"a, a…qira…" sahut Jeni tergagap-gagap.


Jeni nampak seperti anak kelinci yang ketakutan melihat Aqira bagaikan harimau yang siap menyantapnya kapan saja.


"hei tuan!" bentakan ringan muncul dari mulut seorang wanita yang memutus ketegangan antara Jeni dan Aqira.


"apa kau mengenal wanita ini? dia berhutang padaku seribu tael emas." lanjutnya.


Lawan yang berbicara pada Aqira ini berpakaian sama dengan pria yang menghadang Aqira didepan pintu tadi.


Gerombolan pria yang berdiri didepan Aqira tadi langsung mengepungnya serta Jeni agar tidak kabur dari sana.


"jangan biarkan mereka kabur." ujar pria yang menantang Aqira di resto sebelumnya.