
Paviliun bunga di pusat kota yang amat terkenal akan gengsinya karena hanya dikunjungi oleh para saudagar kaya, serta kalangan bangsawan ini terlihat sangat cantik dari sini manapun orang melihat.
Rakyat biasa sesekali melihat keindahan itu saat bersamaan dengan masuknya pelanggan ke tempat itu.
"waw, indah sekali…" gumam salah seorang gadis di luar tempat itu selang sebelum pintu tertutup kembali.
BREUKK
Pintu sudah tertutup rapat kembali dengan bertambahnya tingkat kewaspadaan dari seluruh penjaga dari tempat ini.
Bahkan di sekeliling Aqira dan Jeni juga diselimuti oleh pekerja dari tempat tersebut.
"hmph…" senyuman sinis keluar dari mulut pria yang menantang Aqira sebelumnya di restoran dengan ancang-ancang bersiap untuk menyelesaikan dendam lama dan baru.
Aqira menapakkan kedua tangannya di meja yang sama di tempat Jeni bertaruh tadi, "aku akan melunasinya…" ujarnya dengan santai.
Perkataan yang begitu mudahnya keluar ini semakin memancing panas keadaan sekitar untuk berfokus terhadap mereka.
"wah… dia dari keluarga mana?" gumam salah seorang pengunjung yang tertarik akan percakapan mereka.
"iya, kenapa kita tidak pernah bertemu dengannya?" timpal saudagar lain.
"tapi aku punya dua syarat." lanjut Aqira lalu memutus perkataannya lagi.
Lawan dari Jeni sebelumnya adalah seorang pekerja top dengan papan warna biru, yakni di tingkat ke keempat dari lima tingkat.
"katakan tuan…" ujar wanita tadi.
Aqira mendekatkan dirinya kearah wanita itu sembari membisikkan sesuatu padanya, "yang pertama, aku ingin tempat tertutup untuk pertandingan, dan yang kedua… akan ku beritahu jika aku menang."
Setelah membisikkan itu dia melangkah kembali kearah Jeni yang masih duduk ditempatnya sembari menariknya untuk berdiri, "bagaimana nona?" ujarnya sambil menopang Jeni.
Wanita itu menyetujui persyaratan yang telah diajukan oleh Aqira lewat bisikan tadi. Dia mengarahkan Aqira ke lantai dua dari paviliun ini, sementara Jeni dibawa di lantai yang sama namun ditujukan ke kamar sebelah sebagai tahanan.
Tap Tap Tap
Jeni dibawa oleh pria yang menantang Aqira di restoran sebelumnya, sampai didalam langkanya terhenti melihat sesuatu didepannya, "ketu…"
"sstt…" Seorang wanita berpakaian merah layaknya pengantin dengan wajah tertutup topeng tengah duduk santai, memegang gelas ditangannya sambil melihat pertandingan di kamar sebelah dari lubang yang ada diantara dua kamar itu.
Jeni yang sudah tidak sadarkan diri ini diletakkan ke tempat tidur yang ada di kamar itu atas perintah wanita berpakaian merah tadi.
Sementara beralih ke kamar sebelah, tepatnya dimana Aqira yang akan memulai tanding dengan wanita yang bermain dengan Jeni sebelumnya.
Keduanya duduk di satu meja dan berhadapan satu sama lain sambil menunggu gelas berisikan dadu.
"kuharap anda tidak mengingkari janji." ujar wanita itu dengan tersenyum menatap tangan Aqira memainkan gelas berisikan dadu tersebut.
Mendengar nada bicaranya membuat Aqira yang semula beraut datar menaikkan sudut bibirnya dengan menggoyangkan gelas semakin cepat, "tentu." ujarnya sembari melemparkan dadu ke udara.
KLATAK…KLATAK…
"kau kalah…" ujar Aqira setelah melempar dadu terakhirnya.
Tidak terasa satu jam telah berlalu dan berakhirlah permainan ini di tangan Aqira yang menghabiskan hampir tiga perempat dari modal pihak lawan.
Kecepatan tangan keduanya yang menjadi penyebab berakhirnya permainan dengan cepat.
"bagaimana nona?" imbuhnya dengan menatap wajah lawannya yang berdiam diri sedari tadi.
Nada lembut yang terucap ini menyadarkan wanita didepannya sembari menatap balik Aqira.
"ku ucapkan selamat padamu tuan…" ujarnya.
"tapi…" imbuhnya yang menanggungkan ucapannya melihat sekitarnya.
Ketidaknyamanan yang tertaut pada wajah wanita ini sudah diketahui oleh Aqira karena ia sendiri ialah seorang wanita.
Wanita itu dengan tergesa-gesa menyuruh orang-orang yang berada di ruangan ini untuk mengosongkan tempat.
"tidak perlu basa basi, aku akan langsung ke intinya…" ujar wanita itu yang mengubah nada bicaranya menjadi angkuh.
"untuk persyaratan kedua aku tidak bisa memenuhinya…" lanjutnya menutup percakapan sembari hendak meninggalkan meja itu.
TAK TAK TAK
Bunyi dadu terdengar nyaring karena gerakan cepat dari tangan Aqira selama sepuluh detik. Dan di detik berikutnya ia mengibaskan gelas ditangannya ke depan hingga terlemparnya dadu menembus ke dinding sebelah.
WHOSSHH
"hanya duduk dan menonton bisnismu ditutup?" ujar Aqira duduk kembali sembari menikmati teh hijau khas dari paviliun ini.
Dan disisi lainnya, wanita berpakaian merah dengan wajah tertutup topeng menghampiri meja Aqira dengan tangan kirinya yang mengepal.
DAKK
Gebrakan ringan muncul dengan diletakkannya dadu sama yang dilempar Aqira.
"nona…" gumam wanita yang menjadi lawan Aqira sebelumnya.
Dirinya menjadi panik karena baru pertama kali ada yang mengalahkan bidak berharga di tempat ini, dan imbalan untuk kemenangannya bukan berupa emas atau harta benda lainnya.
Beberapa saat lalu saat Aqira berbicara pada lawan mainnya saat ini…
"sebagai imbalannya, aku ingin bertemu pemilik tempat ini." bisik Aqira dengan lugas.
Yah, seperti itulah permintaan Aqira yang sederhana namun sedikit ekstrim. Bagaimana tidak? bahkan pelanggan setia disana belum ada satupun yang bertemu dengannya selain karyawan disana.
Kembali ke plot, Wanita bergaun merah ini berjalan menghampiri Aqira yang tengah duduk santai di tempatnya.
"hallo tuan, senang bertemu denganmu." ujarnya dengan sopan menyapa Aqira sembari duduk di tempat lawan Aqira sebelumnya.
Alis yang terangkat dengan senyuman tipis muncul di raut wajah Aqira sembari meletakkan gelas tehnya di meja.
"sepertinya budaya sudah maju…" ujar Aqira mengangkat pandangannya kearah wanita di seberangnya itu.
Wanita bergaun merah ini tertarik dengan cara bicara Aqira yang santai namun berlidah tajam seraya mengambil gelas dadu yang hendak diambil oleh Aqira.
Dia mengocok gelas dadu dengan santai, "kau benar tuan…"
TAK TAK TAK
"demi menyambut budaya yang maju ini… bagaimana kalau kita bermain sekali lagi." lanjutnya menghentikan tangannya dengan menatap wajah Aqira.
Berhenti di kalimat ini seluruh karyawan yang berada di satu ruangan menjadi hening saat kalimat itu keluar dari mulut wanita bergaun merah.
"oho… kau yakin nona?" ujar Aqira berdiri dari duduknya sembari mendekatkan wajahnya kearah wanita itu.
"tapi sebelum itu…" lanjutnya yang hendak mengambil gelas dadu di tangan wanita itu namun dielakkan oleh lawannya.
KLATAK…
Topeng merah yang semula menutupi wajah wanita bergaun merah ini jatuh ke meja. Rupanya Aqira membuat muslihat untuk menjatuhkan topeng itu dengan alibi mengambil gelas dadu.
"Wanda…" ujar Jeni menatap datar wajah dari wanita bergaun merah yang tidak mengenakan topeng.
Dirinya berdiri tepat di perbatasan tempat wanita beragun merah tadi muncul.
"hai…" ujar Wanda tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Jeni sudah dalam kondisi sadar setelah di rendam air dingin sejak Aqira bermain tadi, menghampiri keduanya dengan raut datar ia berkata, "sangat seru ya…"
...TAMAT...