
Saat mulut Jeni baru menyebutkan namanya, Wanda datang bergabung.
"Wanda Yolanda." ucapnya sambil berjalan menghampiri kedua temannya.
"panggil, Yolan." lanjutnya yang berdiri tegap seperti seorang gadis tangguh.
Sontak semua sorot mata mereka terarah pada Wanda yang baru datang. Dari dirinya terpancar aura keturunan bangsawan meskipun memakai pakaian sederhana.
"siapa dia?" tanya Bibi Li yang tertarik dengan identitas Wanda.
Aqira dan Jeni menjadi tenang dari hadirnya Wanda di sisi mereka.
"Jeni Mou, panggil Jean." ucap Jeni yang berinisiatif memperkenalkan dirinya dengan sikap aslinya yang dingin.
Aqira berjalan mendekat kearah kedua temannya dengan menunduk.
"Aqira Chu." ucapnya dengan mengangkat pandangannya kearah orang-orang itu.
"dan dia?" tanya salah seorang pria yang menatap Tian ai.
"Tian Tie, kakak tertua kami." jawab Wanda tanpa ekspresi.
Setelah memperkenalkan diri masing-masing, Bibi Li maju ke sesi dimana mereka akan berkompetisi memenangkan hati para wanita.
"nona, aku bisa menyanyi…"
"aku bisa bermain seruling…"
"aku bisa…"
Satu persatu dari kandidat pria ini menunjukkan bakat mereka dari menyanyi, memainkan alat musik dan masih banyak lainnya.
Bibi mendekati keempat wanita ini dan berkata, "bagaimana nona? apa ada diantara mereka yang…"
"tidak, mereka tidak menarik." potong Wanda tanpa perasaan.
"apa tidak ada harta karun yang lebih berharga?" timpal Aqira yang bertanya untuk mengalihkan perhatian atas penolakan dari Wanda.
Bibi Li berpikir tentang pertanyaan itu dalam kurun waktu semenit, "aku tidak punya." ucapnya dengan pasrah.
"tapi paviliun Tangjin punya." sahut seorang wanita cantik dengan pakaian seksi yang datang bersama seorang pria di belakangnya.
Tiga hari kemudian…
Setelah mendapat informasi dari nona cantik tiga hari lalu, Jeni ditemani Aqira pergi ke paviliun Tangjin di kota sebelah. Perlu waktu dua jam untuk sampai ke kota itu meski sudah melalui hutan belantara sebagai jalan pintas.
"apa dia ada?" tanya Jilixu kepada Wanda yang berada di kediaman Jeni dengan menyamar sebagai pemuda sederhana.
"beberapa hari kedepan dia tidak akan kemari, ada undangan merias ke luar kota." jawab Wanda.
"apa kau bisa memberi tahuku dimana?" tanya Xiao Yan kepada orang-orang sekitar klinik dengan menyamar seperti Jilixu.
"gunung Tangjin." jawab salah seorang warga.
Setelah tak menemukan orang yang mereka cari, mereka pun memutuskan untuk kembali ke istana. Dua pria ini berkumpul di taman istana dengan wajah yang sama-sama tertekuk. Mo Chen dan Yalan juga dalam fase yang sama saat itu.
Mereka berempat bagaikan pohon kering yang tidak di siram air selama beberapa tahun.
Tapi tak lama setelah itu Wanda kembali ke istana dengan raut wajah lelah. Mo Chen yang melihat dari kejauhan memerintah para pelayan untuk melayaninya.
"kalian bisa pergi." ucap Wanda hendak masuk kedalam tempat mandi.
"baik, putri." ucap mereka yang segera meninggalkan kamar Wanda.
Dengan baju yang masih lengkap, Wanda berendam didalam bak yang berisi air dingin itu. Dia menenggelamkan wajahnya kedalam air sementara kakinya berada di atas.
"pergilah! tidak ada gunanya menyelamatkanku!" bentak seorang pemuda yang berpakaian minim seperti kupu malam pada Jeni.
"hei, apa yang kau lakukan?" ucap Aqira yang datang menghampirinya.
"memangnya kenapa?" ucap Jeni yang bertanya balik padanya.
Aqira menghela nafas sembari memasukkan pil kepada pemuda tadi, "apa kau berencana menculiknya?" ucapnya seraya melepaskan ikatan itu.
"apa? kau ingin membawanya secara terang-terangan?" ucap Jeni mundur dari keduanya.
"jika tidak? untuk apalagi?" sahut Aqira yang memukul punggung leher pemuda itu untuk menyadarkannya.
"apa yang terjadi?" ucap pemuda itu yang memegang punggung lehernya yang terasa sakit.
"kau?! dan siapa kau?!" lanjutnya yang mendorong Aqira sembari menjauhi kedua gadis itu.
"dimana ini?" gumamnya yang melihat sekelilingnya.
Jeni menggulung lengan bajunya seperti hendak memukulnya lagi namun dihentikan oleh Aqira. Ia pun menghela nafas sembari memutar badannya membelakangi keduanya.
"kita masih ditempat yang sama." ucap Aqira yang satu langkah mendekatinya.
"berhenti disana!" bentak pemuda itu dengan menunjukkan jarinya pada Aqira.
Aqira tersenyum paksa sambil menahan amarahnya demi Jeni, "aku punya cara agar kau keluar dari sini…"
Pandangan mata dari pria itu tetap tidak menunjukkan reaksi dan tetap tenang ditempatnya.
"melalui pintu itu." lanjutnya yang menunjuk kearah pintu yang menguncinya selama ini.
"jika mau, kau bisa membuat kesepakatan dengan kami." imbuhnya.
Pemuda itu menatap Aqira selama beberapa detik kemudian beralih kearah Jeni yang membelakanginya, "apa syaratnya?" tanyanya dengan serius.
"akan kukatakan setelah keluar dari sini." jawab Aqira yang mengulurkan tangannya kearah pemuda itu.
Pemuda itu tanpa ragu menerima kesepakatan dengan menjabat tangan Aqira, "baik, aku akan memenuhi syarat apapun itu."
Jeni yang masih menatap bulan dari jendela menjadi tenang setelah mendengar pemuda itu menerima kesepakatan.
"tapi aku hanya akan memenuhi syarat pada orang yang menyelamatkanku." lanjutnya.
Jeni tersenyum sekilas sembari memutar badannya kearah Aqira dan pemuda itu, "sepakat." ucapnya yang meyakinkannya.
Setelah pembicaraan singkat itu, Aqira pergi ke pintu tempat ia masuk tadi.
"terkunci?" ucap Aqira yang mencoba menarik pintu namun tersegel oleh sesuatu dari luar.
Pemuda itu tersenyum menertawakan dirinya yang akan kehilangan harapan lagi untuk keluar dari sana. Tapi senyuman pahit itu hanya berlangsung beberapa detik saja karena Aqira berhasil membukanya.
"bagaimana mungkin? bagaimana kau bisa membukanya?" tanya pemuda itu dengan penasaran pada Aqira sambil mencermati pintu itu.
"dia bisa memecahkan labirin dalam waktu singkat, apalagi pintu seperti itu, hanya mainan kecilnya saja." batin Jeni.
Saat hendak keluar dari sana, rintangan baru muncul. Dua pengawal ruangan sedang berjaga disana. Tanpa pikir panjang Jeni keluar dari sana untuk mengatasi kedua penjaga ini.
"bagaimana? bagaimana dia yang bertangan halus bisa memukul dua pria kekar ini tanpa meninggalkan bekas di tangannya?" batin pemuda itu.
"sebenarnya, siapa mereka?" lanjutnya yang masih kebingungan.
Lalu mereka berjalan sepuluh langkah kearah anak tangga yang menuju lantai satu. Semua orang bahkan wanita yang mengunjungi rumah Jeni beberapa hari lalu, yang juga pegawai disana pun mereka terkejut melihat Aqira dan Jeni keluar dengan keadaan sehat. Tapi setelah kemunculan pemuda itu di belakang kedua gadis ini, mereka bertambah syok sampai ada yang pingsan di tempat.
"bagaimana? bagaimana mereka bisa keluar?" batin wanita tadi yang menatap ketiganya turun dari tangga.
Aqira melihat kerumunan di bawah selama berjalan turun dari tangga, Jeni menurunkan lengan bajunya yang ia lipat tadi tanpa menatap area kerumunan yang ada, sementara pemuda itu terus menundukkan kepalanya karena benci dengan kebisingan yang ada.