Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Teman Usil



Aqira berdiri dari duduknya sembari memutar badannya kearah pintu masuk tadi. Pria tadi pun merespon dengan cepat.


"darimana kau dapatkan ini?" tanya dia yang menginterogasi Aqira.


Sudut bibir Aqira terangkat sedikit dengan pandangan melirik kearah pria itu yang berada dibelakangnya.


"yang pasti barang itu sudah kembali, jaga baik-baik." ucapnya yang mengembalikan pandangannya ke depan, "aku akan ke klinik." lanjutnya sembari meneruskan langkahnya meninggalkan ruangan itu.


"tidak tahu apakah mereka baik-baik saja." batin Aqira berjalan menuju kliniknya.


"bisa jelaskan padaku… apa yang terjadi padamu?" tanya Yalan kepada Wanda yang terduduk di lantai dengan ekspresi melamun.


"aku bicara padamu!" ucapnya yang berjongkok dengan mendongakkan wajah Wanda.


Ekspresi Yalan yang marah berubah setelah melihat sudut hitam di mata Wanda dengan mata merah serta sudut bibirnya yang membiru. Sementara Wanda yang masih menyeimbangkan roh dengan tubuh itu sedang mengumpulkan kesadarannya.


"kenapa kau menatapku begitu?"


Kalimat pertama yang muncul dari mulut Wanda itu langsung menusuk hati Yalan yang sedang mengkhawatirkannya. Perlahan Yalan berdiri dengan merapikan bajunya sembari hendak meninggalkan Wanda seorang diri dari tempat itu.


"tunggu! kau masih belum menjawab ku!" ucap Wanda bergegas berdiri dengan meraih tangan Yalan dan menahannya agar tidak pergi.


"apa yang perlu dijelaskan?!" sahut Yalan tanpa berpaling pada Wanda.


Tapi disaat yang bersamaan Wanda kehilangan kesadarannya dan terjatuh di lantai, dan roh Wanda pun keluar dari tubuh Qingyin.


"aish… tubuh ini tetap tidak berubah sama sekali." ucap Wanda yang berdiri di samping tubuh dingin tak bernyawa itu.


Sepuluh menit dia menunggu sampai datanglah Yalan bersama Aqira. Baru sampai Aqira terkejut melihat Wanda yang berupa roh berjaga disana.


"kenapa kau bisa keluar lagi?" tanya Aqira melalui transmisi suara sambil memeriksa denyut nadi ditangan tubuh Qingyin.


"itu kadang terjadi saat tubuh ini di titik lemah." jawab Wanda.


"bukan di titik lemah, tapi memang tubuh ini terlalu rentan untuk kau yang berenergi." timpal Aqira.


"bagaimana? apa dia baik-baik saja?" tanya Yalan dengan tidak sabaran karena Aqira memeriksanya sedikit lama.


Aqira berdiri dari duduknya sembari menoleh menatap Yalan, "dia kelelahan, sepertinya kurang makanan bergizi." ucapnya dengan tenang.


Wanda tersentak sembari menghampiri Aqira, "hei apa yang kau katakan?" ucapnya yang tidak terima dengan hal itu.


Belum selesai ucapan Wanda, rohnya tiba-tiba ditarik kembali pada tubuh Qingyin dan dia terbangun dengan cepat sembari turun dari tempat tidurnya.


"dia sudah bangun, ingat yang kukatakan." ucap Aqira bergegas pergi dari sana.


"hei tunggu sebentar!" ucap Wanda yang mencoba menghentikan Aqira namun terhalang oleh Yalan yang muncul didepannya.


"bisakah kau minggir?" lanjutnya yang mencoba untuk bernegosiasi.


"tidak! kali ini kau dengarkan aku." ucap Yalan dengan sikap dingin menekannya.


"pfftt…"


Tawa kecil Aqira saat melintasi ruang baca pangeran keempat berhenti tepat saat Xiao Yan dan Weiqi keluar dari ruangan itu. Kedua mata Aqira terpaku pada Weiqi yang mengenakan pakaian sederhana dengan rambut hitam panjang terkuncir serta lensa coklat yang menatapnya dengan hangat.


"kenapa ada rasa familiar dengannya?" batin keduanya bersamaan.


"ekhem…" suara sentakan itu muncul dari Xiao Yan yang cemburu melihat tatapan hangat Aqira yang hanya muncul sekali di hidupnya.


"maafkan aku." ucap Weiqi memalingkan pandangannya sejenak sementara Aqira menundukkan kepalanya.


Wajah yang semula tertunduk ini terangkat cepat memandang pria tampan ini, "tentu, namaku Qian." ucapnya yang menjabat tangannya sebagai perkenalan.


Xiao Yan semakin kesal melihat tingkat keduanya yang tampak mesra didepannya, karena di zaman itu pria dan wanita yang tidak ada ikatan keluarga tidak diperbolehkan untuk menyentuh satu sama lain.


Melihat tampang Xiao Yan seperti hewan buas yang siap menerkamnya kapan saja, Weiqi dengan terpaksa menghentikan percakapan itu.


"saya masih ada urusan, pamit undur diri." ucap Weiqi bergegas pergi.


"jika dilanjutkan takutnya tinggal namaku tersisa." batinnya yang bergidik ngeri.


"kalau begitu, aku juga permisi." ucap Aqira yang hendak pergi.


"tunggu!" ucap Xiao Yan menghentikannya.


"aku tadi mendengar kau tertawa…" lanjutnya yang sedikit enggan untuk mengatakan maksudnya.


Diingatkan oleh itu membuat sudut bibir Aqira terus keatas, "jika aku mengatakannya, kau juga akan tertawa."


Beberapa saat kemudian…


"kau serius? aku bisa membayangkan bagaimana kondisi temanmu saat ini." ucap Xiao Yan sambil menggeleng perlahan setelah mendengar cerita dari Aqira.


"aku ingat saat usia kita masih sepuluh tahun, nenek dan pangeran serta ayah melakukan perjalanan ke rumah leluhur, saat itu Yalan mendapat amanat untuk merawat Qingyin yang sedang sakit, dan kau tahu… tiga tidak bertemu, berat badan Qingyin naik dua kilo." jelas Xiao Yan dengan bahagia layaknya anak kecil berusia lima tahun yang bercerita kepada ibunya.


"apa? pffhh… ahaha…" tawa kecil Aqira dengan raut wajah canggung.


"kuharap saat bertemu lagi dia tidak memukul wajahku." batinnya.


"hachu… kenapa… jadi seperti ini…" gumam Jeni dengan memegangi sapu tangan karena terus bersin sejak ia bangun dari pingsannya tadi.


"sesuai resep yang kau berikan." ucap Jilixu datang membawakan semangkuk kecil berisi cairan berwarna gelap.


Penciuman tajam Jeni langsung mengidentifikasi setiap bahan yang berada didalam cairan tersebut. Walau mulutnya tidak berkata tapi otak serta penciumannya bekerja aktif saat ini.


"kau yang buat?" tanya Jeni sambil meminum cairan itu yang adalah herbal untuk meredakan flunya.


"tidak, koki yang membuatnya." jawab Jilixu dengan menyembunyikan kedua tangannya didalam jubahnya.


Ujung gaun tipis berwarna kuning serta kain selimut yang menutupi tubuh Jeni turun perlahan ke lantai dengan berdirinya dia membawa mangkuk kecil itu. Kaki yang masih sedikit kaku ini melangkah kecil menuju pintu.


"kau mau kemana?" tanya Jilixu yang khawatir dengan kondisi Jeni.


"antar aku menemui koki itu." sahut Jeni menanggapinya.


"untuk apa?" tanya lagi Jilixu dengan penasaran.


"aku ingin berbicara tentang resep obat ini dengannya." jawab Jeni dengan santai.


"kenapa? kenapa kau ingin menemuinya?" tanya Jilixu yang menghampiri perlahan dengan raut wajah sedikit gugup.


Begitu wajah Jilixu tersorot oleh sinar di luar jendela atas, Jeni mengangkat perlahan pandangan matanya kearah rambut Jilixu yang berantakan.


"begitu banyak serbuk bunga di rambutmu…" ucapnya yang menaikkan tangan kanannya untuk menggapai rambut itu, "berapa banyak yang kau tuangkan pada resepku." lanjutnya yang berbisik tepat di telinga Jilixu.


"oh… kau sudah tau?" respon Jilixu dengan cepat menangkap tangan Jeni sembari memojokkannya ke dinding.


"kenapa? apa resep itu sangat berharga bagimu?" lanjutnya yang bertanya dengan meraih dagu Jeni serta wajahnya yang berjarak lima cm dengan Jeni.