Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Berpencar



Klontang…


Sebuah gelas perak jatuh dari tangan Mo Chen yang baru saja hendak minum untuk melepas penat. Wajah marah diiringi oleh awan gelap disisinya membuat orang disekitarnya bergidik ketakutan.


"apa yang kau katakan?!" bentak Mo Chen kepada prajurit bayangan milik Xiao Yan.


"kupikir kau sudah mengetahuinya." ucap Xiao Yan yang kebingungan.


"katakan apa yang terjadi?!" tanya Mo Chen dengan tatapan tajam dan tidak sabaran sambil memendam api dalam dirinya.


Jilixu berjalan kearah Mo Chen dan berkata, "Tadi mereka berpamitan akan ke hutan untuk melakukan pertapaan tertutup, dan tidak ingin salah satu diantara kita berempat yang terlibat, yakni kau, aku, A Yan dan Ziyu. Kami menyetujuinya dan mengirimkan beberapa prajurit bayangan untuk menjaga tanpa sepengetahuan mereka, lalu…" menghentikan kalimatnya sembari melihat prajurit bayangan yang mereka utus tadi.


"lalu saat ditengah perjalanan, tiba-tiba kita kehilangan jejak seperti ada dinding transparan yang menutupi mereka, saat kita mendekat sudah tidak ada apa-apa." lanjut salah seorang prajurit bayangan.


Mereka bertiga menyimak perkataan dari prajurit bayangan itu dengan serius sampai tidak menyadari Yalan juga hadir di tengah-tengah pembicaraan.


"bagaimana kalian bisa ceroboh?" tanya Yalan yang berdiri diantara mereka.


"hufff… sejuk sekali." gumam Jeni yang memunculkan kepalanya di permukaan air.


"ehh… tapi kemana yang lain?" lanjutnya yang berenang ke tepi sungai sembari mengambil pakaiannya.


Whosshh… Jrep… Bunyi anak panah yang menancap di pohon sekitar terdengar hingga ke telinga Jeni dengan munculnya seekor rubah putih yang menghampirinya.


"cantik sekali." ucap Jeni sembari menggendong rubah putih itu dalam dekapannya.


"permisi nona, apa kau melihat rubah putih bermata biru lewat?" nada berat seorang lelaki muncul dari belakangnya.


Dengan anggunnya Jeni memutar badannya kearah suara tadi dengan disertai naiknya sudut bibir untuk menyambutnya, akan tetapi hal itu berubah ketika melihat noda merah di baju hingga pedang yang dibawa oleh lelaki tersebut.


"sialan! ternyata sudah dimulai!" batin Jeni yang kesal menahan amarah karena ditinggal oleh kedua temannya.


Dua jam yang lalu…


Ketiga gadis sampai di hutan, mereka memasuki area yang di selimuti oleh mantra penghalang, yang artinya tidak ada yang akan melihat ataupun masuk kedalam tempat itu selain mereka.


Setelah sampai disana mereka disambut oleh sistem milik mereka masing-masing. Ketiganya langsung diberi instruksi oleh sistem untuk menyelesaikan misi tahap kedua.


"karena kalian sudah berhasil menghilangkan penjahat novel yaitu putra mahkota palsu dinasti ini, kalian mendapat hadiah tranformasi ke dimensi lain untuk membawa barang-barang yang kalian butuhkan pada misi kedua." jelas sistem berjubah hijau mengeluarkan gambar 3 dimensi dari tangannya seperti properti di dunia modern.


"misi kedua adalah mencari putra mahkota yang sebenarnya dan menyusun kembali tata keseimbangan antar tiga kerajaan sebelum hari dimana novel ini akan hancur… dan waktu kalian hanya satu tahun." ucap si jubah merah mengeluarkan sihir seperti menampilkan layar LED dimana memberikan gambar susunan setiap negara.


"seperti pada misi sebelumnya, kalian harus berpencar menyelesaikan misi ini." tambah si jubah biru mengupgrade kekuatan dari liontin giok ketiga gadis.


"karena ini peraturan permainannya." ucap ketiga gadis bersamaan.


"misi baru, identitas baru, lingkungan baru…" batin Jeni yang masih memikirkan kejadian sebelumnya itu.


"nona, apa kau mendengarku?" tanya lelaki itu lagi.


"ahh… iya?" sahut Jeni yang menanggapinya setelah lama termenung seperti patung.


"baiklah, karena kelinci datang sendiri, jangan salahkan pemburu ini yang kelaparan." batin Jeni yang memeluk erat rubah tadi sambil menatap pemuda itu.


"maafkan aku, aku tidak bisa mengembalikan rubah ini." sambung perkataan Jeni yang sudah dalam keadaan normal.


Mendengar perkataan itu membuat pemuda itu menaikkan pedang tajam hingga secercah kilauan yang tidak terkena darah menghunus pandangan Jeni.


Dengan santainya Jeni berteduh dibawah pohon itu sembari duduk dan membelai rubah putih itu, sementara pemuda tadi menuju sungai untuk membersihkan dirinya.


Lima belas menit kemudian…


Pemuda tadi menghampiri Jeni yang tertidur di bawah pohon karena hilirnya angin lalu. Dia meninggalkan brokat coklat yang terkena noda merah dan hanya mengenakan pakaian putih dalamnya dengan hilangnya bau amis dari tubuhnya.


"nona…" ucap pemuda itu dengan pelan karena takut mengejutkannya.


Kedua mata Jeni terbuka perlahan sembari menengadah kearah pria didepannya itu, "mengapa menginginkan rubah ini?" ucapnya tanpa basa-basi.


Wajah pemuda itu nampak bingung mendengar pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.


Perlahan Jeni berdiri dengan tetap membawa rubah tadi dalam dekapannya, "pertanyaanku sulit?" tanyanya lagi.


Lamunan pemuda itu terpecah mendengar nada dingin dari Jeni, "tidak-tidak." ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.


"sebenarnya itu untuk adikku, aku ingin memberikan rubah itu untuk ulangtahunnya yang ke tujuh belas." lanjutnya.


Jeni menundukkan kepalanya menatap rubah itu, "huff…" helaan nafas itu keluar karena enggan untuk melepaskan rubah putih itu.


"ambillah, maaf menunda pekerjaanmu." lanjutnya yang menyodorkan rubah itu kearah pemuda tadi.


Pemuda itu menerima rubah putih tersebut dengan wajah yang kebingungan sedang Jeni memutar badan membelakanginya sembari hendak pergi meninggalkannya.


"tunggu!" ucap pemuda itu meminta.


"apa aku boleh berkenalan denganmu?" tanya pemuda itu dengan mantap.


Sudut bibir Jeni terangkat perlahan disertai raut wajah datar mendengar itu, "kena…" batinnya.


TOPLAK…TOPLAK…


Terdengar suara kaki kuda yang membawa kereta sederhana mendekati pinggiran sungai. Tak lama setelah itu kereta kuda berhenti dan keluarlah seorang wanita berpakaian seperti gadis desa mendekati tepi sungai.


"uhuk-uhuk…" sentakan keras keluar dari mulut wanita paruh baya di tepi sungai tak jauh dari tempat ia berada.


"terima…terimakasih tuan…" ucap kakek tua itu kepada seorang pendekar berjubah putih yang berjongkok disebelahnya sembari hendak bersujud didepannya.


"Paman, apa yang kau lakukan? jangan seperti itu." ucap pendekar itu yang adalah Aqira sembari menahan kedua lengan pria paruh baya tersebut.


Aqira memilih untuk menyamar menjadi seorang pria sampai menggunakan sebuah pil untuk menyembunyikan wajah asli seorang tabib Chu, sebab wajah tersebut sudah terlihat hingga ke pelosok desa.


"jika…jika tidak ada tuan…mungkin kakekku tidak akan tertolong." ucap remaja laki-laki yang berdiri di samping Kakek tua tadi.


"jangan bicara seperti itu." sahut Aqira dengan santai.


"sebagai ucapan terimakasih, terimalah ini tuan." ucap Kakek tua tadi yang memberikan satu tael perak kepadanya.


Aqira mendorong dengan lembut tangan Kakek tua tersebut, "Paman, itu tidak perlu." ucapnya yang menolak pemberian tersebut.


"jika tuan menolak, apa yang bisa kami berikan untuk berterimakasih?" tanya remaja lelaki tadi.


"jawab saja pertanyaanku." jawab Aqira dengan tegas.