
Pria itu tersenyum seraya berkata, "apa tuan baik-baik saja?" ucapnya sembari melangkah mendekat. Aqira yang terbengong langsung tersadar, "aku baik-baik saja." ucapnya sembari memalingkan wajahnya.
"ternyata pemilik kasino ini adalah pangeran perang… Xiao Yan!" batin Aqira bergidik ngeri.
Xiao Yan adalah pangeran keempat dari kerajaan Qing, dia mendapat gelar sebagai pangeran perang disaat usianya yang masih remaja. Dan yang paling menarik dari dia adalah, tak seorangpun berani menyinggungnya bahkan kaisar sekalipun.
"kenapa anda ingin bertemu dengan saya?" ucap Aqira memecah suasana dingin diantara mereka.
Pria itu mendekati Aqira perlahan seraya berkata, "aku hanya ingin tahu siapa yang bisa mengalahkan pemain terbaikku." ucapnya tersenyum tipis. Aqira spontan mundur selangkah, "oh, kau meragukanku?" ucapnya dengan wajah datar.
"tidak, aku tidak berkata begitu." ucap pria itu sembari membalikkan badannya. "lalu?" tanya Aqira kepada pria itu. Pria itu pun menjawab, "aku hanya ingin bertemu denganmu." ucapnya dengan polos.
Aqira berkata, "jika tidak ada urusan, aku pergi dulu." ucapnya sembari membalikkan badannya. Sontak pria itu langsung berada didepannya, "apa aku menyuruhmu kembali?" ucapnya sembari menghadangnya.
"jadi saya harus bagaimana?" ucap Aqira sembari mendongak kearahnya. Pria itu mendekatkan wajahnya kearah Aqira, "bagaimana kalau bertanding denganku?" ucapnya dengan wajah serius. Aqira mendorong tubuh pria itu perlahan, "terserah, asal kau tidak curang." ucapnya dengan acuh tak acuh.
Aqira perlahan memalingkan wajahnya, "cih, pangeran perang apanya? dia tidak lebih dari pria aneh, jika bukan karena teringat Wanda saat melihatnya, sudah kupukul dia dari tadi." batinnya menahan emosi.
Kediaman Menteri Wang
"dasar ****** kecil!" ucap Selir Rong membanting gelas yang berada di tangannya.
pyarr…
"aku tidak akan mengampunimu." ucapnya yang sedang mabuk. Seorang pria tiba-tiba masuk kedalam kamarnya, "siapa yang berani mengganggu wanitaku." ucapnya mendekati Selir Rong.
Selir Rong sontak memeluk pria itu, "mereka menindasku, seluruh kediaman Wang menindasku." ucapnya dengan menangis terisak-isak. Pria itu mendongakkan wajah Selir Rong dan berkata, "kasihan sekali wanitaku, bagaimana aku harus membalas mereka?" ucapnya dengan nada lembut.
"kau hancurkan saja reputasi mereka, ehmm… ah… mmm"
Diatas pohon terlihat seorang berjubah hitam sedang mengawasi mereka berdua, "ck, tidak berubah." ucapnya meninggalkan tempat itu. Dengan hati-hati Wanda mengintai semuanya dari kejauhan, "sepertinya seru." ucapnya melihat orang berjubah hitam itu pergi dan dua sejoli yang sedang menghabiskan waktu bersama.
Keesokan paginya
Kediaman Menteri Wang dihias untuk merayakan kembalinya putra pertamanya dari medan perang. Dari perjamuan yang mewah hingga hadirnya para tamu terhormat, membuat suasana menjadi ramai. Meskipun begitu, dia malah sibuk mencari adiknya.
"dimana Nona besar?" ucapnya bertanya pada para pelayan. "Nona besar belum keluar dari kamarnya." ucap para pelayan.
Dia langsung menuju kamar adiknya itu, "sejak kapan A'lan menjadi pemalas? sudah tengah hari masih belum keluar dari kamarnya." ucapnya berjalan dengan tergesa-gesa.
Brak…
"A'lan, kakak sudah kembali." ucapnya menerobos masuk kedalam kamar Wanda. Akan tetapi, ia tidak menemukan siapapun di dalam sana selain keheningan.
Pria itu menoleh kearahnya sambil berkata, "dimana adikku?!" ucapnya dengan tatapan dingin. Bibi Lan langsung berlutut ketakutan, "hamba ceroboh, hamba tak menjaga nona besar dengan baik." ucapnya dengan menundukkan kepalanya.
Pria itu berjalan menuju pintu, "kau berhutang penjelasan untukku, sekarang aku akan mencari adikku dulu." ucapnya meninggalkan kediaman Menteri Wang. "Cheng Nan" ucapnya dengan nada pelan.
Tiba-tiba seorang pria muncul di belakangnya, "hamba disini, tuan" ucapnya dengan berlutut. "aku punya tugas untukku… cari adikku Wang Yolan, jangan menunjukkan wajahmu sebelum menemukannya." ucapnya sembari menoleh ke belakang. "baik, tuan." ucap pria itu pergi dengan cepat.
Toko kue di pasar
"nona, aku berterimakasih padamu, karena kau dagangan ku laris manis." ucap seorang wanita sembari menyajikan makanan di meja. Wanda mendongakkan wajahnya seraya berkata, "aku hanya membantu sebisaku, maaf kalau ada sedikit kesalahan." ucapnya dengan nada lembut.
Saat Wanda hendak menyantap makanannya, tiba-tiba seseorang menerobos masuk kedalam.
brakk…
"Adikku yang manis, lama tidak berjumpa." ucapnya melangkah mendekatinya. Sontak Wanda menoleh ke belakang dengan perlahan, "siapa dia?" gumamnya dengan mengernyitkan alisnya.
Wanita di sampingnya tercegang untuk sesaat, "tuan muda… Wang Yalan." ucapnya langsung berlutut dihadapannya.
"Wang Yalan? bukankah itu kakak dari pemilik asli?" batin Wanda.
Diam-diam Wanda ingin kabur selagi tidak diperhatikan olehnya, namun semua itu sia-sia jika berhadapan dengan kakaknya. Ketika membuka jendela, sosok bayangan hitam teleportasi ke hadapannya, "adikku yang manis, mau kemana kau?" ucapnya memberi senyuman pahit kepadanya.
Dengan cerdiknya Wanda mengubah strateginya, "kakak, apa kau ingin makan juga?" ucapnya dengan muka polosnya itu. Tanpa disadari ia hampir luluh oleh wajah polos adiknya itu, "jangan merayuku, itu tidak akan mempan lagi." ucapnya sembari memalingkan wajahnya.
"dan… sedang apa kau disini!?" ucap Yalan menoleh kearahnya dengan tatapan tajam. Wanda menurunkan pandangannya dan tak melontarkan sepatah katapun. Yalan menoleh kearah Chui-chui yang berada disamping Wanda, "katakan!" ucapnya memberi tatapan dingin. Dengan patuh ia langsung menjawab, "nona bekerja untuk mencukupi kebutuhannya." ucapnya yang gemetaran. Wanda menarik tangan Chui-chui, "jangan katakan lagi." ucapnya dengan nada pelan.
"aku mengerti." ucap Yalan menanggapi kata-kata Chui-chui. "kak, tidak perlu dipermasalahkan." ucap Wanda berjalan mendekatinya. Dengan tegas ia menjawab, "ikuti kataku, jangan membantah." ucapnya memberi tatapan tajam.
Wanda mencoba untuk membujuknya lagi, "kau bukan kakakku." ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Yalan menjadi panik melihat adiknya itu, "ja…jangan menangis, aku tidak sengaja, maafkan aku." ucapnya mencoba menenangkannya. "sama seperti pemilik tubuh asli, sangat muda dibohongi." batin Wanda tersenyum picik.
Yalan menarik tangan Wanda untuk membawanya pergi, namun ia terus menolak dengan berbagai alasan hingga membuat Yalan kehabisan kesabaran. "apa kau takut dengan wanita itu?" ucapnya yang bertanya kepada adiknya. Tiba-tiba Wanda mengubah ekspresinya seperti membalikkan buku, "aku…aku…" ucapnya yang ketakutan. "ck, jika bukan karena tubuh ini, aku akan langsung menguburnya hidup-hidup." batin Wanda.
"kau tenang saja, sekarang ada kakak disini. Tak seorangpun dari mereka yang akan menindasmu lagi." ucap Yalan sambil mengusak rambut Wanda. "tapi, Kak…"
"kembali dengan patuh atau masih butuh bantuanku?" ucap Yalan tersenyum pahit. Wanda menelan ludahnya sendiri sambil mengangguk, "aku bisa sendiri." ucapnya sembari berjalan keluar.
"kau mau kemana?" ucap Yalan meraih tangan Wanda. Ia menoleh ke belakang seraya berkata, "pulang." sembari mendongak kearahnya.
"apa kau akan jalan kaki kesana?" ucap Yalan menatapnya dengan wajah datar.