
"baiklah." jawab remaja tadi tanpa ragu.
"apa sisa makanan dan minuman Kakekmu masih ada?" tanya Aqira yang langsung ke inti tanpa basa-basi.
"masih…masih ada." jawab remaja itu spontan.
"kalau tidak keberatan, bisakah kau menunjukkannya padaku?" tanya Aqira lagi.
Remaja itu bergegas membuka bungkusan yang ia bawa sedari tadi dengan botol air sembari memberikannya kepada Aqira.
Raut wajah Aqira tetap tenang saat mencium bekas kantung air yang diminum oleh Kakek tua itu, namun alisnya tiba-tiba mengernyit sampai menampakkan kerutan di dahinya saat melihat sisa makanan dari bungkusan tersebut.
"bagaimana tuan? apakah ada yang salah?" tanya remaja itu.
Sudut bibir Aqira naik perlahan dibuatnya, "herbal yang ada di kantung air memang baik untuk kesehatan." ucapnya sembari meminum seteguk air dari
"tapi bertemu dengan kue ini…" sambungnya yang memakan sepotong kue salju yang terdapat banyak serbuk putih di luarnya.
Kue itu baru sampai di lidah Aqira sudah memberikan rasa aneh dari dalamnya. Setelah beberapa detik saat memasuki tenggorokan, dia sontak memuntahkan cairan merah dari mulutnya.
"uhuk…"
"tuan…!" pekik kedua orang yang ada di depan Aqira yang khawatir melihatnya.
"akan menjadi beracun." ucap Aqira yang melanjutkan kalimatnya yang terpotong.
Remaja itu mendekati Aqira dengan gelisah, "paman, kau…kau…"
"aku tidak apa-apa… kalian tenang saja." ucap Aqira yang menyeka mulutnya.
Belum selesai terkejut karena hal ini, Aqira malah memberikan satu kejutan lagi yaitu hasil penelitiannya terhadap kedua benda yang baru saja masuk kedalam mulutnya.
"apa kau mengerti medis?" tanya Aqira kepada pemuda tadi.
Remaja tadi tertunduk dengan gugup, "aku…aku tidak tau…" ucapnya dengan pasrah.
"tapi aku tau." ucap wanita yang turun dari kereta tadi.
Wanita ini berjalan mendekati Aqira dan kedua orang yang bersamanya dengan beberapa pengawal di sampingnya.
"maaf sebelumnya, aku tidak sengaja melihat kejadian tadi… dan aku sangat tertarik dengan hal ini." jelas wanita tadi.
Kakek tua serta remaja tadi berubah ekspresi gembira ketika nampak wajah dari wanita muda yang ada didepan mereka.
"kakak!" "Yin" ucap kedua orang ini bersamaan sembari memeluk wanita muda tadi dengan hangat.
Mereka berpelukan dalam beberapa detik kemudian kembali tersadar akan kehadiran Aqira yang ada diantara mereka.
"maaf membuatmu melihat semua ini." ucap wanita muda itu kepada Aqira.
Tampang Aqira sama sekali tidak melihatnya dan tetap fokus pada penelitian gilanya itu.
"apa aku bisa membantu?" tanya wanita muda tadi yang mengambil inisiatif.
Aqira memberikan kue salju yang telah dilebur dengan dibasahi oleh air ramuan tadi sampai menghasilkan sebuah cairan berwarna hijau. Mata wanita muda tadi terbuka lebar dengan bola matanya yang menciut dibuatnya.
"racun dari barat!" ucap wanita muda itu yang tampak kesal.
"racun barat?" batin Aqira berpikir.
"hachu… kenapa badai salju datang lebih awal?" gumam Wanda yang berteduh didalam gua untuk menghindari badai salju.
SWASHH…SWASHH…
Gua yang nampak hening itu ternyata memendam sesuatu didalamnya. Semakin dalam Wanda melangkah semakin banyak pula bekas noda merah di sepanjang jalan.
"kali ini tidak ada yang akan menyelamatkanmu…" gema suara wanita dari titik gua yang paling dalam.
Wanda tiba di titik suara itu berasal dan berhenti persisi di jalan masuk sambil melihat isi gua yang terpancarkan sinar obor.
"wahh tempat ini lumayan juga…" batin Wanda melangkah masuk.
"siapa kau?!" teriak penjaga yang berdiri di belakang Wanda.
Wanira yang mengancam tadi membalikkan badannya kearah Wanda, "bagaimana kalian berjaga? kenapa ada yang masuk?!" teriaknya memarahi kedua wanita kekar yang datang bersamanya.
Saat ini Wanda menyamar menjadi seorang pria untuk memutus jejak indentitas lamanya. Dan sikap dinginnya berubah menjadi tingkah seorang anak kecil yang manja.
"berhenti…" ucap Wanda sambil mengisyaratkan dengan tangannya.
"bisakah kau menjawab ku, dimana ini?" lanjutnya yang bertanya.
Wanita itu mengerutkan keningnya dan menjawab, "mengapa? apa kau tersesat?"
"tepat sekali…" sahut Wanda spontan.
"jadi… bisakah kau memberitahuku?" imbuhnya.
Sudut bibir wanita itu naik secara perlahan melihat keberanian dari Wanda, "aku akan memberitahumu asal…" melangkah mendekati Wanda.
"bagaimana?" tanya wanita itu setelah membisikkan sesuatu pada Wanda.
"kau menantangku?" sahut Wanda memiringkan kepalanya menatap wanita yang berdiri disampingnya itu.
"jika kau berhasil, aku sendiri yang akan mengantarmu pulang…" ucap wanita tadi menunjuk kearah ia berdiri sebelumnya.
"jangan janji kau akan menyesal…" ucap Wanda yang berjalan kearah yang ditunjuk wanita itu.
Dia sampai di balik batu besar yang ada disana dan terlihat seorang wanita berpakaian berantakan terduduk di tanah.
"apa aku salah melangkah?" batin Wanda yang diam untuk sesaat.
Dia tidak berpikir dua kali dan langsung memutuskan untuk menghampiri wanita dibalik batu tadi. Lima langkah ke depan ia sampai didepan wanita itu.
Tanpa pertimbangan apapun ia langsung membungkuk untuk memastikan keadaan wanita yang ada didepannya itu. Tapi saat wajah Wanda berjarak sepuluh cm dari rambut wanita itu, tiba-tiba sebuah benda tajam mengarah padanya.
Wanda duduk terpental didepan wanita itu dengan ekspresi terkejut, "kau…kau seorang pria!?" teriaknya histeris.
Wanita yang memberi kesepakatan tadi menghampiri Wanda yang menjerit.
"tak kau cukup berguna…" puji wanita itu kepada Wanda.
"kau gila?! kenapa menjadikanku sebagai umpan!" teriak Wanda yang kesal sembari berdiri.
"baiklah pekerjaanku sudah selesai… sekarang antar aku pulang" lanjutnya yang masih dengan nada kesal.
Ketika Wanda bicara tadi ia tak menyadari bahwa pria yang berpakaian wanita berdiri tepat dibelakangnya dan siap untuk menerkamnya.
"kalian jangan maju kalau tidak…" ucap pria yang berpakaian wanita sambil menyandera Wanda dalam dekapannya.
Pisau tajam yang digunakan untuk mengancam berjarak satu senti dari leher Wanda.
"bagaimana ini? aku tidak bisa menahannya…" batin Wanda yang terjepit harus mempertahankan ketakutan dalam ekspresi serta menahan tawa dalam dirinya karena baru pertama kali melakukannya.
"apa yang kalian lihat! cepat mundur!" teriak Wanda yang melepaskan emosinya.
Saat Wanda yang panik karena ancaman itu, tiba-tiba seseorang datang dari belakang dan membuat pingsan pria yang mengancam tadi.
"maaf terlambat…" ucap seorang pendekar wanita yang membuat pria tadi pingsan.
Wanita yang memberi Wanda kesepakatan itu tersenyum pada pendekar wanita, "tidak buruk" ucapnya yang memuji.
"berhenti…bicara…cepat…bantu aku…" ucap Wanda yang tertekan karena menopang tubuh pria tadi.
Atas perintah majikannya, dua penjaga tadi menarik tubuh pria cantik dari Wanda.
"haahh… tulangku hampir saja patah…" gumam Wanda memegangi punggungnya sembari duduk di bebatuan yang ada disampingnya.
Pendekar wanita itu berbicara pada wanita yang bersekepakatan dengan Wanda, keduanya berbicara membahas sesuatu yang serius.
Setelah selesai kedua wanita itu menghampiri Wanda.
"tuan, aku akan menepati janjiku tapi… kau yang akan memutuskan." ucap wanita yang bersepakatan dengan Wanda untuk bernegosiasi.
"anda ikut saya atau wanita yang ada disamping saya." lanjutnya.
Wanda menatap kedua wanita itu bingung, "kau bercanda? tentu saja aku ikut denganmu!" ucapnya yang kesal.
"kalau begitu selamat tinggal." ucap pendekar wanita meninggalkan gua.