
Perjalan Aqira dan Jeni sudah di mulai kembali setelah berhasil menata bagian sudut sudut buku yang berantakan akibat ulah para eksekutor yang gagal dalam misinya.
Jeni sampai di ibukota lebih dulu dengan identitasnya sebagai tabib yang tengah berkelana membeli obat untuk membantu warga korban bencana di desa-desa terpencil.
"nona, ada yang bisa ku bantu?" tanya bibi pemilik toko kepada Jeni yang melihat jenis obat sedari tadi.
Pemilik toko merasa aneh terhadap sikap Jeni yang melihat jenis-jenis obat namun tak kunjung bertanya, ia pun berpikir kalau wanita dihadapannya merasa kesulitan pada rempah yang terlihat sama itu.
Belum selesai dengan dugaannya, Jeni menunjuk rempah-rempah yang ia amati dari awal.
"aku ingin lima bungkus dari setiap rempah itu." ujar Jeni dengan singkat sembari menatap wajah pemilik toko tersebut.
Jeni tampak terdiam ketika melihat bibi pemilik toko yang melamun menatapnya seperti memikirkan sesuatu.
"nona, kau yakin mau beli disini?" tanya bibi pemilik toko memastikan dengan raut wajahnya yang ragu-ragu.
Kerutan halus pada wajah pemilik toko terlihat samar di mata Jeni disebabkan oleh stres berat. Jeni juga berpikir agak aneh jika toko obat yang bagus seperti itu tapi tidak ada pengunjung sama sekali.
"apakah ada yang salah?" tanya Jeni dengan lugas.
Bibi pemilik toko baru hendak membuka mulut untuk menjawab namun disela oleh suara lantang seorang wanita yang berdiri tepat di pintu toko itu.
"mungkin kau orang baru nona, tapi dengarkan baik-baik." ujar wanita yang berdiri di pintu dengan gaun berwarna merah serta kipas merah di tangannya.
Mendengar satu kalimat yang belum lengkap itu sudah membuat bibi pemilik toko semakin menampakkan kerutan di keningnya.
"rempah di toko ini tidak layak dipakai bahkan ada yang beracun." lanjut kata wanita dengan dengan lantang sampai mengundang perhatian para warga yang berlalu-lalang melewati tempat itu untuk melihat.
Gunjingan dari orang-orang setempat yang melihat hampir menutup pintu dari toko tersebut.
"toko ini kan yang meracuni para warga."
"iya, bukankah toko ini seharusnya sudah tutup?"
"pasti dia punya kekuatan dibelakangnya."
"dan suaminya yang meninggal itu kan pejabat yang berkolusi."
Terus menerus perkataan mereka terlontar satu persatu sampai membuat bibi pemilik toko berdiam diri menunduk ke bawah.
"jadi nona, lebih baik kau beli di tokoku saja." imbuh wanita itu yang mengeluarkan tujuannya kemari.
"iya betul nona, bahan di toko Guiyan sangat bagus." tambah yang lain membesarkan perkataan dari wanita ini.
Srggg…
Kilatan tajam dari seorang Jeni muncul dari nama toko yang disebutkan tadi. Dia yang semula ingin langsung bekerja mengurungkan niatnya untuk bermain terlebih dahulu.
"Guiyan ya…" batin Jeni mengangkat sudut kanan bibirnya dengan wajah sinisnya.
Ia menulis sebuah kata 'jangan khawatir' di meja tempat ia hendak membeli rempah menggunakan tinta hitam yang teroles di tangannya.
Bibi pemilik toko yang terus menunduk itu tetap dalam posisi yang sama setelah membaca tulisan itu.
"kalau boleh tau apa bedanya?" ujar Jeni sembari memutar badannya kearah orang-orang yang ada dibelakangnya tadi.
Melihat wajah Jeni yang seputih giok dengan riasan halus di wajahnya menarik perhatian pria maupun wanita yang melihatnya.
"wah nona itu cantik sekali."
Wanita yang berkata lantang tadi tidak memedulikan paras Jeni melainkan penampilannya yang sederhana dan tidak ada tanda pengenal seperti giok di badannya.
"tidak peduli dia dari orang biasa atau orang kaya, yang penting aku harus mengusir seluruh pelanggan yang ingin membeli di toko ini." batin wanita itu menatap Jeni dari atas sampai ke bawah.
Mendengar pujian serta tatapan langsung dari wanita itu membuat Jeni beraut datar karena mereka bertele-tele.
Lensa coklat dengan bulu mata panjang membuat sorot mata Jeni terlihat tajam kepada orang-orang yang melihatnya.
"haruskah aku bertanya dua kali." lanjut Jeni dengan raut tanpa ekspresi menatap wanita itu.
Sambung kata dari Jeni menarik khayalan dalam pikiran wanita itu untuk melanjutkan komunikasi dengannya.
"ekhem… begini nona, di toko kami…"
Wanita itu berbicara layaknya air sungai yang mengalir deras dan bersiap untuk memeluk laut.
Sementara Jeni sendiri bagaikan pohon mangrove yang berdiam diri karena sudah terbiasa merasakan ombak laut.
"bagaimana nona? apa kau masih yakin ingin membeli disini?" ujarnya yang selesai setelah dengan perkataannya.
Pertanyaan final yang menjadi puncak perseteruan ini membuat bibi pemilik toko khawatir serta semakin kuatnya gunjingan orang-orang setempat.
"apa kalian membawa sampel rempah kalian?" ujar Jeni kepada wanita itu sembari memutar badannya kembali kearah bibi pemilik toko, "dan aku minta rempah tadi bibi." lanjutnya.
Wanita itu dengan santainya menyuruh salah seorang anak buahnya untuk mengambil beberapa rempah dari tokonya untuk ditunjukkan pada Jeni, sementara bibi pemilik toko ini masih ragu-ragu.
"jangan khawatir." ujar Jeni melalui kontak mata dan bahasa bibir kepada bibi pemilik toko.
Selesai berkontak kata, bibi pemilik toko segera mengambil semua bahan yang dibutuhkan oleh Jeni dengan secepat mungkin.
Keduanya mengambil beberapa bahan rempah untuk diberikan kepada Jeni. Rempah dari kedua orang ini sudah berada di tangan Jeni untuk dibandingkan.
Mari tinggalkan kerumunan ini ke suatu tempat tidak jauh dari sana tepatnya pada Restoran Tanyang yang terkenal di ibukota.
Saat ini, Aqira tengah duduk seorang diri di meja sudut restoran yang tidak terlalu ramai pengunjung. Dirinya mengenakan pakaian pria berwarna putih-putih dengan membawa bungkusan kain bersamanya.
Seorang pelayan wanita restoran itu menghampiri Aqira membawa catatan kecil di tangannya berjalan dengan gugup.
"tuan, mau pesan apa?" tanyanya dengan lembut sambil memasang wajah ramah.
Mata Aqira tetap tertunduk memandang menu yang tertulis di lembaran yang ada di mejanya itu, "aku mau segelas teh hangat dengan dua bakpao." ujarnya sembari mengangkat pandangannya kearah pelayan yang menanyainya saat ini.
Pelayan wanita yang semula berwajah ramah berubah menjadi kagum ketika melihat keindahan yang dipancarkan oleh Aqira.
"tampan sekali." batin pelayan wanita itu yang terpaku menatap wajah Aqira.
Karena termenungnya pelayan wanita ini mengusik ketenangan pelanggan lain karena tak kunjung dilayani.
"Yoo… apakah disini sedang ada pesta amal?" ujar seorang pria yang adalah salah satu pelanggan disana menghampiri Aqira.
Hal itu sengaja ia lontarkan untuk menarik perhatian orang sekitar lantaran melihat penampilan Aqira seperti pendeta yang sedang berkelana membawa bungkusan kain.
"uhmm." gumam pelayan wanita itu yang ditarik paksa untuk kembali ke kenyataan.
"maaf atas kelalaianku." lanjutnya dengan gugup sambil membungkukkan badannya.