
Tiga hari kemudian…
Istana telah dihias begitu ramai dan para tamu undangan hadir satu persatu untuk memberikan hadiah.
"salam yang mulia ibu suri, semoga yang mulia ibu suri panjang umur."
Perkataan itu terus didengar oleh ibu suri sejak tadi pagi.
"pangeran keempat telah tiba…"
"salam nenek, maaf aku terlambat." ucap Xiao Yan yang datang seorang diri dengan mengenakan pakaian resmi seorang pangeran kerajaan.
"apa dia pangeran keempat? dia tampan sekali." gumam para gadis yang berada di ruangan itu.
"kukira kau tidak akan datang." ucap ibu suri dengan wajahnya yang kaku menunggunya dari tadi.
Xiao Yan melihat sekelilingnya tanpa mengatakan apapun. Hal itu membuat ibu suri paham akan cucunya yang tidak nyaman dikelilingi begitu banyak gadis, ia pun meminta para gadis untuk meninggalkan ruangan.
Belum juga memberikan hadiah kepada neneknya, tiba-tiba suara langkah kaki datang menghampiri.
"apa aku terlambat?" ucap seorang pria dengan mengenakan jubah emas seorang kaisar agung.
"A Li, kau juga datang." ucap ibu suri kepada pria itu yang adalah Jilixu.
"Jilixu memberi hormat kepada nenek." ucapnya dengan berlutut memberi hormat.
Ibu Suri sontak berdiri dari duduknya dan berkata, "apa yang kau lakukan? kau seorang kaisar."
"apa karena itu aku bukan lagi cucumu?" sahut Jilixu yang mendongak kearah ibu suri.
Ibu suri tersenyum tipis mendengarnya seraya menghampirinya, "kemarilah, cucuku." ucapnya dengan mengulurkan tangannya kearah Jilixu.
"selamat ulang tahun nenek." ucap Jilixu meraih tangan ibu suri seraya memeluknya dengan hangat.
"ck, dasar curang." Xiao Yan membuang muka kepada Jilixu karena mengambil bagiannya.
"oh iya, kudengar Mo Chen sedang dalam perjalanan." lanjut Jilixu yang duduk di samping ibu suri.
"bagaimana dengan Yalan, apa dia akan hadir?" timpal Xiao Yan.
"Kaisar Tang, hati-hati dengan ucapanmu A Yan." sahut seorang pria yang datang dengan pakaian berbulu di pintu.
"Mo Chen!" ucap Jilixu dan Xiao Yan secara bersamaan.
"mau bagaimanapun keadaannya, dia pasti akan datang." lanjut Mo Chen yang berjalan kedalam sambil memberikan hadiah yang dia bawa untuk ibu suri.
"selamat ulang tahun nenek." imbuhnya.
"darimana kau dapatkan kepercayaan sebesar itu?" ejek Jilixu dengan tampang tak percaya.
"maaf mengganggu, tapi tabib Lin sedang menunggu ibu ratu." ucap seorang pelayan wanita.
"aish bagaimana ini, aku harus melakukan pengobatan." hela ibu suri yang enggan berpisah dengan ketiganya tambah lagi belum bertemu dengan satu cucu yang lain.
Ketiganya pun keluar dari kamar ibu suri menuju istana timur untuk bernostalgia. Sementara itu, disisi lain, taman istana di penuhi para gadis bangsawan berkumpul.
Mereka sedang berbincang serta memamerkan kelebihan mereka dari kecantikan sampai kepintarannya. Semuanya tampil semaksimal mungkin untuk menarik para pria bangsawan sekaligus menjalin hubungan dengan mereka.
"hufff… membosankan sekali." helaan nafas keluar dari mulut Jeni yang harus terjebak diantara para wanita ini.
"ada apa nona Mou? apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Xiao Xilin.
"kalau begitu…"
"tidak perlu, hamba akan ke dapur untuk mengambil air, hamba akan segera kembali." potong Jeni yang bersiap meninggalkan kerumunan itu.
Dia berjalan menuju arah dapur berada. Saat melintasi kamar ibu suri, ia bersisipan dengan Aqira yang datang dengan pakaian putih-putih serta cadar yang menutupi wajahnya masuk kedalam kamar ibu suri. Jeni menoleh kebelakang namun tak menemukan siapapun dan langsung bergegas ke dapur, saat yang bersamaan Aqira kembali keluar tapi tak menemukan wanita yang berpapasan dengannya dan kembali kedalam.
Sampai di dapur Jeni malah dibuat bingung akan dapur yang berantakan.
"ini dapur atau kapal perang?" batin Jeni yang berjalan berhati-hati takut akan merusak benda dapur.
Semakin menghindari benda-benda yang berserakan, Jeni semakin terpojok di sudut ruangan.
"coba kesana saja." ucap Jeni yang melangkah kearah tengah, karena lantai yang licin membuatnya terjatuh.
Yang lebih parah adalah ketika tangannya mencari pegangan malah mendarat ke tempat yang salah dan membuat tubuhnya di taburi tepung hingga membuat wajahnya seputih dinding.
"hufff… kenapa harus begini." batinnya yang kesal.
Jilixu yang hendak masuk ke dapur berhenti sejenak di pintu melihat seorang wanita yang membersihkan tepung di bajunya.
"darimana datangnya kucing liar ini?" batinnya tersenyum sekilas dan membatalkan niatnya untuk ke dapur seraya memutar langkahnya kembali ke istana timur.
"ada apa? apa kau tidak jadi ke dapur?" tanya Mo Chen sambil bermain catur dengan Xiao Yan.
"tidak, ada kucing liar memberantakan dapur." jawab Jilixu seraya duduk di kursinya.
Mendengar itu membuat tangan Mo Chen terhenti saat hendak memindahkan bidak catur, "gawat, apa yang dia lakukan pada dapur." ucapnya yang berdiri dari duduknya seraya meninggalkan istana timur menuju dapur istana.
Setelah akupuntur yang dilakukan oleh tabib Lin kepada ibu suri, acara yang sebenarnya dimulai. Pesta ulang tahun ibu suri diadakan di ruang utama kerajaan dengan penampilan wanita bangsawan tadi beserta penampilan lainnya.
Semuanya sudah hadir di tempat dari Xiao Yan, Jilixu, Aqira hingga Jeni. Tak lama setelah acara dimulai, tiba-tiba pertunjukan dihentikan untuk menyambut ibu suri. Semua orang dikejutkan ketika ibu suri datang bersama seorang pria perkasa yang mengenakan pakaian tebal seperti dari dataran yang berbeda.
"Yalan!" batin Jilixu dan Xiao Yan.
Keduanya berjalan berdampingan kedalam ruangan itu. Ibu suri duduk di kursi utama karena ini adalah harinya.
"kaisar Tang Ziyu, selamat datang." ucap Kaisar Xiao yang memberi hormat.
"maaf karena datang terlambat, paman." sahut Yalan dengan membungkuk memberi hormat.
"hahaha… tidak perlu sungkan, silahkan duduk." lanjutnya kaisar Xiao yang menyuruh pelayan untuk menjamu Yalan.
Lalu Yalan diarahkan ke meja kosong diantara Xiao Yan dan Jilixu. Setelah itu disusul Mo Chen yang datang dengan membawa hadiah untuk putri serta anggota keluarga kerajaan lainnya.
Dia diarahkan ke meja di sebelah meja Jilixu. Jadi tatanannya adalah, Xiao Yan berada paling kiri dekat ibu suri, lalu di sebelahnya ada meja Yalan, Mo Chen dan Jilixu berada paling kanan.
Acara dilanjutkan dan sampai pada pertunjukan drama supranatural. Seorang pria berpakaian seperti biksu mengeluarkan tiga batang bambu runcing seraya melemparkannya keatas.
Ajaibnya, tiga bambu tadi tidak turun melukainya melainkan terbang kearah sudut yang berbeda. Satu mengarah kepada ahli ramuan, satu mengarah kepada kerumunan gadis bangsawan, dan yang satu lagi keluar dari ruangan.
"apa yang terjadi? kemana bambu tadi?" gumam para orang-orang yang kebingungan akan hilangnya bambu tadi.
Pria tadi mengangkat tangannya keatas dan menarik keluar tiga orang yang dipilih oleh bambu itu ke tengah ruangan. Seorang tabib dengan pakaian putih-putih, perias milik putri ke sebelas, dan wanita yang mengenakan pakaian yang hampir mirip dengan Mo Chen.
Ketiganya berdiri berdempetan secara membelakangi. Mereka tak lain adalah Aqira, Jeni dan Wanda, tapi karena cadar yang menutupi wajah mereka membuatnya tak dikenali oleh orang sekitar.
"sebenarnya siapa pria ini?" batin Jeni menatap langsung wajah pemilik bambu tadi.
"kekuatannya tidak bisa diremehkan." batin Aqira yang menusuk ke bawah.