
"huff…" Jeni menghela nafas mendengar nada yang keluar dari mulut Jilixu si tukang julid itu.
Kedua tangannya meraih kerah baju Jilixu dengan memiringkan kepalanya, "dosisnya tinggi!" ucapnya yang menarik Jilixu secara tiba-tiba, "atau, kau memang sengaja." lanjutnya yang melepaskan diri dengan merapikan kerah Jilixu dan melangkah kembali kearah pintu.
Kriekk… suara pintu kayu terdengar di antara keduanya hingga sinar matahari menyentuh kulit putih milik Jeni hasil dari handbody racikan sendiri. Mata Jilixu terbuka lebar dengan lensa mata coklat yang menciut menatap Jeni dari kejauhan.
"kenapa kulitmu…" ucap Jilixu terbata-bata menghampiri Jeni.
"selamat, atas hasil jerih payahmu." sahut Jeni berwajah dingin sembari berjalan keluar meninggalkan kediaman yang mengurungnya itu.
"kita tunggu sebentar lagi, aku tidak ingin pergi tanpa berpamitan." ucap Tian ai yang menunggu kepulangan Jeni.
Mo Chen berdiri di samping Tian ai dengan pakaian formal pernikahan, "baiklah, kita tunggu satu jam lagi, kalau tidak ada…"
Brukk…
Kalimat Mo Chen terpotong ketika seorang wanita berkulit putih ke abu-abuan pingsan di halaman rumah. Semua yang ada di sana pun menjadi panik sembari bersamaan menghampiri wanita itu untuk memeriksa keadaannya.
Setengah jam kemudian…
Setelah Aqira selesai memeriksa Jeni, kini mereka sedang berdiskusi di ruang tengah. Tian ai menjadi gelisah karena tidak rela untuk meninggalkan Jeni yang sedang sakit.
"aku minta maaf, ini semua salahku." ucap Jilixu dengan tampang merasa bersalah.
"lalu bagaimana sekarang? Jing Nan sudah pergi ke asrama, sementara yang lain juga memiliki urusan, kita tidak mungkin meninggalkan dia sendirian kan?" ucap Tian ai yang hendak menawarkan diri untuk menjaganya.
"jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri." timpal Jeni yang turun dari tempat tidurnya.
"kau yakin?" tanya Aqira dengan serius sambil memegangi tangan Jeni.
"ya, lagipula aku sudah tidak apa-apa." jawab Jeni dengan mengedipkan matanya perlahan sembari melepaskan dirinya untuk berdiri sendiri.
"oh iya kakak, selamat atas pernikahanmu, maaf karena tidak menyiapkan hadiah untukmu." lanjutnya yang berdiri didepan Tian ai dengan tertunduk.
"hei apa yang kau katakan? jangan pikirkan itu, pokoknya kau harus menjaga kesehatanmu dulu." ucap Tian ai meraih tangannya dengan memberinya sentuhan hangat kepadanya.
"dan ya, jangan biarkan Yin mengetahuinya." ucap Jeni memberi pesan kepada semua orang yang ada disana agar tidak memberi tahu Wanda.
"tenang saja, dia tidak akan punya waktu kemari." timpal Aqira.
"itu karena seseorang telah menahannya." lanjutnya dengan tertawa kecil.
Jeni merangkul lengan kanan Tian ai dan berkata, "sudah-sudah kita akhiri percakapan ini atau kudanya akan merajuk…"
"dan membawa lari pengantin pria." lanjut Aqira yang ikut merangkul lengan kiri Tian ai dengan semangat.
"hahaha…"
Mereka semua tertawa bahagia melihat wajah Mo Chen yang memerah serta ekspresi Tian ai yang tersipu dibuatnya. Tak lama setelah itu kereta yang biasa dinaiki oleh Mo Chen beserta dua saudarinya kini dihias cantik untuk menjemput Tian sebagai ratu dari Kaisar dataran barat.
"dimana Qingyin?" tanya Tian ai kepada Kui yang menjadi kusir kuda.
"menjawab ratu, tuan putri bersama pangeran sedang menunggu di gerbang ibukota." jawab Kui dengan menjalankan kereta kuda.
Gerbang ibukota.
Begitu banyak warga yang menunggu kereta Mo Chen di pinggiran ibukota untuk mengucapkan selamat atas pernikahannya. Para gadis-gadis yang mendambakan menjadi istri Mo Chen juga hadir untuk melihat wanita pilihan pria idaman mereka sekaligus menjadi hari dimana terbangnya para kupu-kupu itu untuk terbang mencari bunga baru.
"sudah datang! sudah datang!" teriak salah seorang gadis yang melihat keret kuda itu menuju gerbang ibukota.
"kya… Kaisar Chen tampan sekali." teriak mereka yang terpesona oleh ketampanan milik Mo Chen.
"untuk apa bersedih? menjadi selirnya juga tidak masalah." tambah gadis B.
"apa kau tidak dengar? generasi ke empat akan menerapkan aturan monogami." timpal A.
"kalau begitu aku sudah tidak ada kesempatan." ucap gadis B.
"bukankah masih ada Marquis Yan dan Kaisar Qin?" timpal gadis C yang ikut nimbrung.
"bagaimana? apa semuanya sudah siap?" tanya Mo Chen yang membuka tirai kereta yang berhenti di depan keretanya.
"sstt… pelankan suaramu." ucap Wanda menyuruh Mo Chen menurunkan suaranya karena seorang bocah laki-laki tidur di pangkuannya.
"semua sudah siap." lanjutnya yang memberi isyarat pada Mo Chen untuk pergi.
Selepas dari itu mereka menjalankan kereta menuju ke dataran barat menempuh selama satu hari baru sampai di tempat. Turun dari kereta cuaca di kerajaan itu sangat berbeda karena sedang musim hujan. Tian ai dan Mo Chen turun dari kereta yang di panyungi oleh Mo Chen.
"ini… hujan?" tanya Tian ai dengan mengulurkan tangannya ke depan sembari berjalan menaiki anak tangga.
"kenapa disini gelap sekali?" gumam Mo Chen melihat tempat yang akan dikunjunginya nampak gelap tanpa ada sedikit cahaya lilin.
Keempat langkah ini terhenti setelah lima langkah menjauhi tangga. Tangan Mo Chen yang hendak mendorong sesuatu didepannya tiba-tiba terbuka sendiri dengan cahaya silau yang muncul dari dalam.
"selamat datang Yang Mulia dan Ratu." ucap para pelayan dan prajurit yang ada didalam sana dengan membawa lampion di masing-masing tangan mereka.
Wajah Tian ai mematung melihat hal yang terjadi didepannya itu. Namun kemudian seorang wanita yang lebih tinggi tiga inci darinya mendekatinya.
"selamat datang adik dan adik iparku." ucapnya dengan tersenyum hangat.
Tian ai menoleh kearah Mo Chen dengan bingung.
"ah maafkan aku, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Mo Qing, kakak Mo Chen." ucap Mo Qing sembari memberi hormat sesama wanita bangsawan.
"apa berkenan berkenalan denganku?" lanjutnya yang meraih tangan Tian ai.
Wajah Tian ai semakin tegang dibuatnya, "tentu tentu, hamba Tian ai, hamba…"
"istri sekaligus ibu dari putraku." timpal Mo Chen menambahkan.
"ibu? dimana? dimana keponakanku?" ucap Mo Qing dengan bersemangat melihat Tian ai.
Melihat wajah berbinar itu membuat Tian ai semakin terkejut dibuatnya.
"kak jangan menakutinya." ucap Mo Chen memecahkan suasana canggung itu.
"dasar bocah tengil, kau tidak akan mengerti." ucap Mo Qing yang menggerutu.
Baru selesai gerutu dari mulut Mo Qing, putra Tian ai datang didampingi oleh Kui disebelahnya. Wajah Mo Qing menjadi terkejut melihat anak lelaki yang wajahnya mirip dengan Mo Chen sewaktu kecil.
Mo Qing menatap anak lelaki itu dengan seksama, "dia adalah…"
"putraku, Mo Chi." sela Mo Chen menjelaskan.
"dasar bocah tengil! jadi itu benar! aku akan memberimu pelajaran!" ucap Mo Qing kesal dengan mengepalkan tangannya.
"maafkan aku kak!" ucap Mo Chen yang bersembunyi di belakang Tian ai untuk menjadi tamengnya.
"oh iya, dimana Yin?" tanya Tian ai yang mencari keberadaan Wanda.
Kui berlutut mengeluarkan kertas yang dilipat rapi dan disodorkan kearah mereka bertiga. Mo Chen maju sembari mengambil kertas itu dan benar saja, ekspresi wajahnya berubah menjadi serius setelah membaca isi surat.