
Roarr… terdengar auman harimau dari arah Jeni. Putra Mahkota semakin menggigil.
"apa…apa harimau Kaisar Chen mengamuk?" ucap Tian ai yang terbata-bata. Putra Mahkota sontak menoleh kearah Tian ai, "disini ada harimau?" tanya dia dengan wajah serius.
Roarr…. suara auman pindah kearah Aqira, Tian ai bergegas masuk kedalam tendanya dan bersembunyi di dalam. Putra Mahkota hendak mengikutinya namun enggan karena citranya, akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari sana. Setelah beberapa saat Tian ai keluar lagi, "pff… senang sekali." tawa kecil Tian ai terdengar oleh ketiga gadis ini.
Ketiganya keluar dari persembunyiannya sembari menghampirinya, "kalian keren." ucap Tian ai yang mengacungkan jempolnya. "bagaimana kalian melakukannya? bisa ajari aku?" sambungnya dengan bersemangat.
Wanda memiringkan kepalanya sembari menunjuk kearah belakang Tian ai, "apa?" tanya Tian ai yang menatap Wanda, dia mundur selangkah dan menabrak sesuatu, "apa ini? kenapa seperti bulu." ucapnya yang meraba-raba sembari menoleh ke belakang. Ketiga gadis menutup telinga mereka, Tian ai menatap Xiabao, "Roarr?" Xiabao bertanya-tanya.
"aghhhhhhh…" teriak Tian ai dengan keras.
Mo Chen bergegas untuk membungkam mulutnya, "jangan teriak, atau yang lain akan keluar." bisiknya dengan pelan. Tian ai langsung diam detik itu juga. "dan kalian kenapa tidak menghentikannya berteriak?" tanya Mo Chen yang menatap ketiga gadis itu. Wanda menghampiri Xiabao sembari berjongkok, "itu karena…"
Srekk… Wanda berdiam sejenak sembari mengeluarkan belati kecilnya, whussh… dia melempar belati itu kearah telinga Aqira, cratt… "Qian!" "Xu!" teriak pangeran Yan dan Tian ai yang melihat telinga Aqira berdarah karena belati itu. Sementara Wanda mengambil sesuatu yang berada di belakang Aqira, dia mencengkeram kepala ular dengan erat, "ck, kurang gemuk." ucapnya yang mengukur diameter ular itu.
Aqira menekan telinganya sembari menyobek kain untuk mengusap darah yang mengalir, "itu sudah gemuk, kalau lebih gemuk nanti jadi sosis." ucapnya yang menyentuh kulit ular itu.
"dimana ada sosis? apa aku boleh minta?" tanya Jeni yang mendekat dengan semangat.
"sosis? apa itu?" ucap Tian ai dan para pria yang bertanya-tanya dengan kata asing itu.
Didalam tenda Fangze.
"semua sudah disiapkan?" tanya Aqira yang menatap kedua rekannya.
"airnya sudah siap." jawab Jeni yang merebus air.
"aku sudah siap." sahut Wanda yang siap dengan semua benda tajam di atas mejanya.
Aqira tersenyum tipis, "bagus. Sesuai perjanjian, hari ini kita akan mengajarimu sesuatu." ucapnya sembari menoleh kearah Fangze.
"apa yang akan kalian lakukan?" tanya Fangze sambil menatap ular itu. Sementara orang yang tidak berkepentingan menunggu diluar tenda, "sebenarnya apa yang akan mereka lakukan?" ucap Tian ai yang bertanya-tanya.
Beberapa saat kemudian, Aqira beserta kedua rekannya keluar dari tenda itu setelah membersihkan semuanya.
"dimana Fangze?" tanya Pangeran Yan yang menatap Aqira.
"ugh… hoeekk…" terdengar seseorang sedang muntah-muntah didalam tenda. Karena takut terjadi apa-apa, Pangeran Yan bergegas masuk kedalam, "Fangze! Err… kau kenapa?" ucapnya yang bertanya-tanya karena melihat tidak ada perubahan apapun pada tempat itu.
Fangze nampak pucat dan tak bertenaga, "pa…pangeran…" ucapnya yang mendongak kearah pangeran Yan, saat dia memiringkan pandangannya melihat wajah ketiga gadis itu, dia langsung syok dan pingsan ditempat, "oghh…"
"Fangze! Fangze!" ucap Pangeran Yan yang sontak memapahnya ke tempat tidur dengan tergesa-gesa.
"dimana kak Qian dan yang lain?" Wanda mendengar suara Qingqing yang berjarak sepuluh meter dari tenda, dia berjalan keluar dari tenda itu. "ada informasi apa?" tanya Wanda kepada keduanya.
Kui hendak berlutut, "katakan Qingqing." ucapnya dengan tegas, Kui akhirnya tidak jadi berlutut. "kak, kami sudah mendapatkan informasi yang kalian butuhkan." ucap Qingqing yang menatap Wanda.
Aqira melirik kearah Jeni, "dimana Wanda?" bisiknya yang mendekatkan wajahnya kearah Jeni.
"aku juga tidak tahu." bisik Jeni yang menoleh kearahnya. Aqira mengangkat tangannya keatas, "kalian semua diam." ucapnya dengan nada pelan sambil menunjuk kearah bayangan yang diluar tenda.
Pangeran Yan dan Jilixu saling mengangguk dan memberi kode, keduanya bergegas keluar untuk menangkap asal bayangan itu.
Bruak… perhatian para penjaga teralihkan dan menghampiri mereka, "ada apa?" tanya Pangeran Yan kepada kedua penjaga itu dengan tatapan dingin. "kita sedang mengejar penyusup, apa Pangeran melihat orang mencurigakan disini?" jawab salah seorang dari mereka.
"tidak ada." ucap Pangeran Yan sembari mengambil barang yang berantakan di tanah.
"apa kami bisa membantu." hendak berjongkok.
"tidak perlu, lanjutkan tugas kalian" tolak pangeran Yan mentah-mentah dengan nada ketus.
"baiklah, kalau begitu kami pamit dulu." ucap penjaga itu sembari kembali ke tenda Kaisar. Setelah keduanya menjauh dari tenda Fangze, Pangeran Yan kembali kedalam tenda, "huff… untung saja." ucap Tian ai yang menghela nafas lega. "dan ya… tindakanmu seperti suami yang mengusir istri." sambungnya sambil tertawa kecil.
Beberapa saat yang lalu, "siapa kau?" Jilixu menyergap orang itu dari belakang. Drap…drap…drap… "aku melihat dia disana." terdengar suara para penjaga yang mendekat kearahnya. Aqira menoleh kanan kirinya sembari melempar sesuatu keluar, brak…
"kepalamu memar." ucap Aqira yang menatap wajah Pangeran Yan, dia menariknya duduk sembari menyentuh keningnya, "jangan bergerak, biar aku lihat memarnya. Kenapa bisa begini, apa yang aku lempar?" ucapnya yang menurunkan pandangannya kearah Pangeran Yan.
"ini." Pangeran Yan menunjukkan barang yang berada ditangannya.
"ah maafkan aku, sebentar… Jian, dimana kotak obatnya?" ucap Aqira yang panik. "aku akan mengoleskan obatnya." sambungnya yang membuka botol salep dengan tergesa-gesa. Pangeran Yan menggapai tangan Aqira dan berkata, "jangan khawatir, ini tidak apa-apa." ucapnya dengan nada lembut.
Tap…tap…tap… suara langkah kaki masuk ke dalam tenda.
"apa yang terjadi?" tanya Wanda yang menghampiri Jeni dengan isyarat tangan. Jeni mendekatkan wajahnya kearah Wanda, "permainan." bisiknya dengan nada pelan.
"siapa dia?" tanya Wanda yang mendekati tawanan yang berada di tangan Jilixu. "korbannya." jawab Jeni dengan cepat.
"katakan!" bentak Jilixu kepada tawanan itu. tawanan itu tak melontarkan sepatah katapun. Wanda mendekatinya sembari mendongakkan wajahnya, "apa yang kau lakukan?" ucapnya yang memeriksa wajah tawanan itu. Fangze yang baru siuman melihat kekacauan yang hendak dilakukan oleh Wanda langsung pingsan lagi. Jilixu menoleh kearah Jeni, "tenang saja." isyarat Jeni dengan mengedipkan matanya perlahan. Jilixu mengangguk meninggalkan tawanan itu di tangan Wanda sembari menghampiri Jeni.
Wanda mendekatkan wajahnya kearah telinga tawanan itu sambil membisikkan sesuatu padanya. "aku akan bicara." ucap tawanan itu ketakutan.
"anak baik." ucap Wanda yang mengusak rambut tawanan itu.
Jilixu terbengong mendengar itu, "semudah itu?" gumamnya yang terheran.