
Tak…Tak…Tak…Brakk… Tian ai mendorong pintu dengan keras untuk membukanya.
"nona? kau tak apa-apa?" tanya Jeni yang langsung menghampirinya.
Tian ai menutup pintu dan jendela dengan cepat sembari melepas pakaiannya, "bantu aku mandi." ucapnya yang bergegas menuju bak mandi. Kebetulan saat itu air sudah siap jadi tak perlu membuka pintu lagi untuk menyiapkan air.
"apa aku boleh bertanya nona?" tanya Jeni sembari membantu Tian ai memberi lulur pada lengan Tian ai dengan lembut.
"hemm?" jawab Tian ai sambil menyandarkan tubuhnya di bak.
"maaf jika lancang, tapi mengapa nona mau menerima perjodohan ini?" ucap Jeni.
"mengapa? biar kuingat." sahut Tian ai sembari memejamkan matanya.
Ingatan Tian ai… Selalu menjadi kambing hitam atas semua kesalahan yang dilakukan Mian ai, "cucu tidak berbakti!" bayangan nenek yang marah. Dikhianati kekasih, "kau tak layak untukku." bayangan Wang Lan yang memeluk Mian ai. Merenggut dua nyawa untuk menyelamatkan Mian ai, "berikan janin itu untuk Mian ai." bayangan putra mahkota yang memegang pisau ditangannya. Bahkan merusak kepercayaan orang-orang tersayang dan merenggut nyawa mereka, "putriku tidak mungkin berkhianat." bayang jenderal Ye yang melindungi putrinya dari hukuman penggal. "kakakku bukan orang seperti itu." bayangan Lian ai yang melindunginya dari amukan masyarakat yang menuduhnya berselingkuh.
"cukup! aku tidak akan membiarkan kejadian di kehidupanku dulu terulang kembali. Aku, Ye Tian ai bersumpah, akan membalas semuanya, aku takkan membiarkan orang-orang yang melindungiku tersakiti lagi, tidak akan pernah." batin Tian ai penuh dengan dendam.
"nona, kau tidak apa-apa?" tanya Jeni sembari menepuk pundak Tian ai dengan pelan.
Tian ai tersadar sembari menoleh kearahnya, "aku tidak apa-apa." ucapnya seraya keluar dari bak mandi dan memakai pakaiannya.
Beberapa saat kemudian setelah Tian ai selesai mandi, dia memakai masker wajah dengan bantuan Jeni, "aku ingin bertanya satu hal pada kalian."
Jeni meratakan maskernya seraya menjawab, "katakan saja, nona." ucapnya yang fokus dengan wajah Tian ai.
"jika kalian punya dendam kepada seseorang, apa kalian akan membalaskannya?" sambungnya sembari membuka matanya.
Ketiganya menatap satu sama lain seraya berkata, "kami tidak tahu." ucap mereka yang bersamaan.
Mansion Tuan He.
"ugh, dimana ini?" gumam Aqira yang baru siuman. Lalu dia menoleh kearah tangannya yang berat, "siapa kamu!?" bentaknya yang langsung menarik tangannya sembari duduk dengan cepat.
He Zi terbangun sembari duduk, "kau sudah bangun? apa ada yang sakit?" ucap yang hendak menyentuh pipi Aqira dengan wajah khawatir.
Aqira menepisnya dengan sigap dan berkata, "aku tidak apa-apa, ini dimana dan bagaimana aku kemari?" tanya dia dengan wajah serius.
He Zi menghela nafas panjang seraya menjawab, "ini kediamanku dan karena kau pingsan aku yang membawamu kemari." sahutnya dengan nada lembut.
Aqira menatapnya dengan rasa bersalah, "kalau begitu, terimakasih atas bantuanmu semalam." ucapnya yang memegang erat selimutnya. "aku tidak suka berhutang, jadi aku akan membalas kebaikanmu." sambungnya yang mengangkat pandangannya sembari menatap wajah He Zi. "bagaimana kau membalasnya?" tanya He Zi.
"aku akan memenuhi satu permintaanmu." jawab Aqira.
"apapun yang ku mau?"
"kecuali cinta." tolak Aqira dengan lugas.
He Zi terdiam sejenak sembari tersenyum tipis, "kalau begitu, tinggallah di sisiku."
"berapa lama? aku tidak bisa seumur hidup bersamamu." ucap Aqira yang menjelaskan.
He Zi mendekatkan wajahnya kearah Aqira dengan cepat, "bagaimana kalau satu bulan?" bisiknya tepat di telinga Aqira.
He Zi turun dari tempat tidur sembari mengulurkan tangannya, "mari, akan kubawa kau ke suatu tempat." ucapnya sambil tersenyum.
Aqira meraih tangan He Zi sembari beranjak turun dari tempat tidur, tapi He Zi langsung menggendong Aqira sebelum kakinya menyentuh lantai, "apa yang kau lakukan?!" ucap Aqira yang terkejut.
He Zi menuju balkon sembari melompat dari atap ke atap yang lain dengan teknik meringankan tubuh, Aqira memeluk He Zi dengan erat sembari menyembunyikan wajahnya di dada He Zi.
Setelah itu He Zi mendarat di dekat danau, saat hendak menurunkannya Aqira memeluknya semakin erat.
"kita sudah sampai." bisik He Zi dengan pelan.
Aqira mendongak kearah He Zi dan keduanya saling menatap satu sama lain dari jarak yang sangat dekat, "wah dia tampan sekali kalau dari dekat. Eh… apa yang kupikirkan, Aqira sadar! ini bukan waktunya untuk memikirkan ini!" batin Aqira sambil menatap wajah He Zi.
"dia sangat cantik bahkan tanpa riasan sekalipun. Bagaimana di kehidupanku dulu aku malah menjadikan berlian menjadi kerikil." batin He Zi yang menatap wajah Aqira.
"turunkan aku!" ucap Aqira dengan wajah serius.
He Zi menurunkannya dengan hati-hati sembari menatap Aqira yang berjalan menuju tepi danau.
"danau apa ini? indah sekali." ucap Aqira sembari menatap air danau dengan mata yang bersinar.
"ini adalah danau cinta, kata orang-orang siapapun yang berlayar ke tengah danau dan melihat air danau akan melihat wajah orang yang dia cintai." jawab He Zi sembari mendekatinya.
Aqira menoleh kearahnya sembari mendekatinya, "kau percaya?" ucapnya dengan wajah curiga.
He Zi berjalan menuju perahu didekat sana sembari menyentuhnya, "mari buktikan sendiri, kau mau ikut?" ucapnya sembari menoleh kearah Aqira. "boleh." sahut Aqira yang berjalan menghampirinya dengan cepat.
Sesampainya ditengah danau…
"setelah kau melihat wajah orang yang kau suka, apa yang akan kau lakukan?" tanya Aqira sembari menatap wajah He Zi.
He Zi menghentikan tangannya yang mendayung seraya menjawab, "entah aku mengungkapkannya atau tetap memendamnya." ucapnya dengan santai. "sudahlah, bahkan kita belum tahu itu benar atau tidak." sambungnya sembari hendak melihat air danau.
Batin Aqira saat ini, "aku sebenarnya tidak percaya dengan hal ini, karena aku sudah mencobanya di dunia modern dulu, alhasil tidak ada wajah siapapun selain wajahku, hufft… mungkin aku akan melakukan hal konyol untuk kedua kalinya." sembari mendekatkan wajahnya di dekat air danau.
Saat Aqira menurunkan pandangannya kearah air danau ia terkejut, "apa!? kenapa bisa…" batinnya sembari mengobok air danau. "mungkin salah, coba sekali lagi." ucapnya yang panik.
"hei-hei bisakah kau diam sedikit atau kita akan terjatuh." ucap He Zi yang mempertahankan keseimbangan perahu.
Aqira kembali menstabilkan tubuhnya dan tak mau melihat air danau lagi.
"kau kenapa? apa kau melihat wajah seseorang disana?" tanya He Zi yang mendayung perahu kembali ke tepi danau.
Aqira menggembungkan pipinya dengan wajah kesal, "jangan tanya lagi, hal itu membuatku kesal."
"kenapa? apa kau tidak menyukai orangnya?" tanya He Zi dengan penasaran.
"apa kau bercanda? mana mungkin aku membenci diriku sendiri?" jawab Aqira dengan kesal.
"apanya melihat wajah orang yang disukai, yang ada hanya wajahku sendiri yang kulihat, hahh… benar-benar konyol." celoteh Aqira yang meninggalkan tempat itu dengan wajah kesal.