
Aqira mengisyaratkan tantangan kepadanya. Dan pria itu langsung menyerang terlebih dahulu. Klang…Klang…Klang… semuanya terpana melihat skill dari pendekar cadar itu. Jeni bersandar di pohon dan pendekar tudung duduk bersandar di tubuh harimau tadi sambil memeluk anak harimau itu.
Aqira berhasil melumpuhkannya dan menaruhnya di bawah cengkeramannya. Jrep… dia menancapkan pedangnya tepat di sebelah wajah pendekar bertopeng itu, "kau kalah."
Kemudian Aqira melepaskannya, tapi tiba-tiba pendekar bertopeng menarik Aqira sembari membuka cadarnya.
Aqira menatapnya seraya berkata, "baru sehari, kau tidak mengenaliku?" ucapnya yang tersenyum.
"Xu?" ucap Tian ai yang terkejut. Lalu ia menoleh kearah pendekar cadar dan pendekar tudung, "kalau begitu…"
whussh… sebuah anak panah mengarah pada pendekar bertopeng, dan Aqira menariknya sembari menangkap anak panah itu dengan tangannya. Aqira, Jeni dan pendekar tudung bergegas mengejar orang yang melesatkan anak panah itu. Orang yang mereka kejar mengarah pada tebing curam dekat sana, tak hanya mereka bertiga, bahkan pangeran Yan dan yang lain juga mengikuti mereka. Sesampainya disana ketiga pendekar melihat Xitian disandera oleh mereka.
Aqira mengeryitkan keningnya sembari berjalan mendekati mereka, "kalian mau apa?" tanya dia yang menghentikan langkahnya kemudian salah seorang dari bandit itu berkata, "satu nyawa untuk satu nyawa." ucapnya yang menarik Xitian ke tepi tebing. "bagaimana?" sambungnya yang mencekik Xitian ke atas jurang.
"Qian berhenti!" teriak Pangeran Yan dengan keras. "Qian-qian berhenti!" teriak pendekar bertopeng yang ikut-ikutan, dia tak lain adalah He Zi. Keduanya terus berteriak untuk mendapat perhatian Aqira.
"berisik!" ucap Aqira yang melirik kearah mereka. Seketika mereka terdiam secara serempak. "ka…kakak, aku… minta maaf… kalau aku pergi… jangan merindukan…ku." Xitian berusaha keras untuk menyampaikan pesan itu kepada Aqira.
Pendekar tudung memberikan sebuah apel kepada Jeni, "jangan kecewakan aku." ucapnya yang terus menatap Aqira.
Jeni menerimanya sembari membuka cadarnya, "kurang manis." ucapnya yang memakan apel itu sedikit. "tambahkan gula." ucap pendekar tudung itu.
Saat Jeni hendak melempar apel yang sudah ia makan, Qingqing muncul dari arah yang berlawanan dan mencoba menyelamatkan Xitian, Aqira langsung melompat untuk menyelamatkan keduanya, sementara pendekar tudung melempar ujung tali kearah Jeni dan berlari secepatnya untuk mencapai Aqira. Dengan sigap Jeni menangkapnya dan menahan pendekar tudung itu, sementara pendekar tudung berhasil menggapai kaki Aqira dan Qingqing, sertakan keduanya berhasil menggapai Xitian.
"bantu dia menariknya." perintah Tian ai yang langsung menghampiri Jeni sembari membantunya menarik.
Jilixu beserta yang lain ikut membantu menariknya. Dengan sekuat tenaga pendekar tudung melempar Aqira dan Qingqing keatas dan ia menstabilkan tubuhnya sembari meregangkan tubuhnya.
Aqira dan Qingqing mendarat dengan selamat sambil memeluk Xitian. Semua bangsawan terpesona dengan cara ketiga pendekar itu menyelamatkan rekannya.
"huff… kau tak apa-apa?" tanya Aqira yang memeriksa Xitian. Jeni mendongakkan wajah Xitian, "oleskan salep atau akan membekas." ucapnya yang melihat bekas cekikan di leher Xitian. Pendekar tudung memutar badannya kearah Aqira dan Jeni, "kalian menjengkelkan."
Keduanya menghampirinya dan berkata, "maaf" ucap mereka bersamaan sambil menjewer telinga masing-masing.
"Xu, Xi, Xuer, itu benar kalian?" tanya Tian ai yang mendekati ketiganya. Mereka menoleh kearah Tian ai dan menjawab, "salam, nona." ucapnya sembari memberi hormat.
Kembali kedalam hutan.
"aku tidak percaya, kalian seperti dua orang yang berbeda." ucap Tian ai yang menatap ketiganya. Aqira menjawab, "terkadang tidak semua yang kita lihat adalah aslinya." ucapnya sambil mengoleskan salep ke leher Xitian. "jika sakit katakanlah." sambungnya yang menatap Xitian dengan cemas. "tidak kak, asal itu kamu… tidak akan sakit." sahut Xitian yang menenangkan Aqira.
"bagaimana keadaannya?" ucap Tian ai yang bertanya kondisi adiknya kepada Fangze.
"dia tidak apa-apa, tapi mungkin goresan itu akan membekas di wajahnya." jawab Fanze dengan serius. Jeni mendekati Lian ai sembari memberikan sesuatu padanya, "pakai ini, ini bisa menutupi bekasnya, dan ini bisa menghilangkan bekasnya dalam beberapa minggu." ucapnya yang menyodorkan dua salep yang berbeda.
Lian ai menerimanya tanpa ragu, "apa ini bisa membantu?"
"dimana Xiabao?" tanya Wanda kepada Mo Chen sambil membalut luka ditangannya. Mo Chen menjawab, "bersama Kui." sahutnya sambil menjaga api unggun dan membakar semua pakaian yang terkena noda darah.
"bocah itu?" ucap Wanda tanpa ekspresi.
Roarr…Roarr… terdengar suara harimau yang mendekati Wanda, semua orang hendak memburunya namun dihentikan oleh Mo Chen, "hentikan harimau gilamu!" ucap Yalan yang panik. "jika kau menggoresnya, kau akan menyesal." sahut Mo Chen dengan santai.
Saat Wanda memutar badannya kearah harimau itu, harimau itu langsung menerkamnya.
"Alan!" "Xuer!" "Wanda!" teriak Yalan, Tian ai dan kedua teman Wanda bersamaan.
"aaa… Xiabao." ucap Wanda yang memeluk harimau itu dengan erat. Sementara harimau itu menggosok dirinya kepada Wanda dan bersikap manja.
"Er…" semua yang panik langsung mematung melihat hal itu. Seorang pria datang berlutut dihadapan Mo Chen, "maafkan hamba, tuan."
"berdirilah." ucap Mo Chen.
"ini yang kedua." ucap Wanda yang menatap Kui. Xiabao yang melihat anak harimau disamping Wanda berusaha untuk menggapainya, "kau mau apa?" ucapnya yang menggendong anak harimau itu. Ibu dari harimau itu mendekati Wanda sembari mengisyaratkan sesuatu, kemudian Wanda menurunkannya dan mereka melihat Xiabao tampak akrab dengan ibu dan anak harimau itu. "jadi, Xiabao sudah jadi ayah." ucap Wanda yang menatap kemesraan mereka, dan ia juga melihat Qingqing dan Kui tampak aneh, "Qian, rupanya kau akan melepas adik perempuanmu." ucap Wanda yang menatap Qingqing dan Kui.
"Ya-ya-ya, kau benar." sahut Aqira sembari tersenyum.
"kenapa kita tidak langsung membunuhnya?" tanya Jilixu sambil menatap yang lain.
Tian ai maju selangkah dan menjawab, "untuk apa membunuhnya, jika kita bisa membuatnya hidup dalam neraka."
"biarkan dia menyesal seumur hidup…" ucap Jeni yang bersandar di pohon.
"sudah menyentuh hal yang seharusnya tidak ia sentuh." sambung Aqira yang mengusap pipi Xitian.
"kita buat dia, hidup segan, matipun enggan." Wanda menatap bara api. Para pria pun merinding melihat tatapan dan nada bicara mereka.
Whussh… angin tiba-tiba berhembus kencang.
"ugh" Jeni mulai mual lagi.
"ugh, kenapa lagi ini?" Aqira yang ikut tersetrum oleh Jeni.
Wanda langsung berlari ke balik pohon, "hoeekk" dia langsung muntah-muntah lagi.
Ketiga gadis ini terus mual dan muntah-muntah. Para pria panik dan menyuruh Fangze untuk memeriksa mereka, setelah memeriksanya dia terdiam selama beberapa saat, "apa Louyang ada?" tanya dia kepada He Zi. He Zi menoleh kearah Moxi dan menyuruhnya untuk menjemputnya. Selang beberapa saat, Louyang datang, "kenapa kau menyuruhku kemari?" tanya dia mendekati Fangze. "coba kau periksa mereka, aku takut ada yang salah." jawab Fangze dengan serius. Louyang langsung memeriksa mereka, setelah memeriksanya dia menoleh kearah Fangze, "apa itu hasilnya?" tanya dia dengan ragu-ragu.
"iya" jawab Fangze sembari mengangguk dengan enggan.