Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Bersama walau sebentar



Beberapa saat setelah itu Wanda mulai mencium bau masakan yang menariknya keluar dari gubuk itu.


"kenapa kalian tidak mengajakku?" tanya Wanda yang bergabung bersama yang lain.


"hei kenapa kau datang? seharusnya kau istirahat saja." sahut Tian ai yang menghentikan pekerjaannya sebentar.


Wanda mengambil satu pisau serta beberapa bahan makanan, "aku bosan didalam." ucapnya yang memulai memotong sayuran.


"asal jangan memaksakan dirimu." ucap Tian ai yang memperingati Wanda.


"tentu." sahut Wanda.


"Jian jaga apinya jangan sampai gosong!" perintah Aqira kepada Jeni.


"tenang saja." sahut Jeni yang berjongkok untuk menjaga besarnya api ditemani oleh Jilixu yang membantunya menata kayu bakar.


Setelah itu Aqira bersama Xiao Yan dan anak lelaki tadi kembali gubuk dalam kurun waktu yang cukup lama sampai semua makanan siap untuk disajikan.


"semuanya sudah siap." ucap Tian ai yang menata rapi semua makanan diatas tumpukan sisa kayu bakar yang belum terpakai.


"huhh… akhirnya selesai juga." hela Jeni yang berdiri dengan merenggangkan tubuhnya.


"kalian sudah selesai?" tanya Aqira yang baru bergabung kembali.


"iya, kita sudah selesai." jawab Tian ai.


"kalau begitu bawa masuk saja, aku sudah menyiapkan tempatnya." ucap Aqira yang mengambil satu kendi berisi sup seraya kembali ke gubuk tadi.


Xiao Yan, Jeni, Jilixu, Tian ai dan Mo Chen mengambil masing-masing barang untuk dibawa masuk kedalam. Disaat yang sama ketika Wanda hendak mengambil bagiannya, tiba-tiba Yalan menyabotase dan membawanya lebih dulu.


"hei, apa yang kau tunggu? cepat kemari!" ucap Tian ai kepada Wanda dan Yalan yang tak kunjung bergerak dari tempatnya.


"iya tunggu sebentar." sahut Wanda seraya menggapai tangan Yalan, "ayo, cepat!" lanjutnya yang berjalan membuntuti mereka sambil menarik Yalan bersamanya.


Sampai didalam mereka membagi tempat duduk masing-masing dimana pria duduk di bagian kanan makanan dan wanita duduk di bagian kiri makanan, serta anak lelaki menjadi tuan rumah yang duduk di ujung bagian tengah.


"ambil ini, apa masih kurang?" ucap Tian ai yang memberi satu porsi besar untuk Wanda.


"tidak tidak, ini sudah cukup." sahut Wanda sambil tersenyum paksa, "bantu aku sedikit." bisiknya dengan menatap kearah Jeni dan Aqira yang ada di sambil kirinya.


"dasar." timpal Jeni dengan tampang datar mengambil beberapa makanan yang ada di piring Wanda, dan membaginya dengan Aqira juga.


"baiklah selamat makan." lanjut Tian ai yang kembali duduk.


"ibu bisakah kau membantuku? makananku tersangkut di gigi." ucap anak lelaki itu meminta bantuan pada Tian ai.


"coba buka mulutmu." respon Tian ai yang menyentuh dagu anak lelaki itu seraya mendongakkannya keatas.


Melihat kedekatan ibu dan anak ini membuat Aqira termenung menatapnya. Semua orang yang nampak khawatir dengan anak lelaki itu tidak memperhatikannya, tapi tak lama kemudian salah seorang dari mereka tak sengaja menyadarinya.


"kau merindukannya?" tanya Xiao Yan pada Aqira.


"dia ada di kamp." lanjutnya sambil mengunyah makanan agar tak disadari oleh orang-orang kala dia berbicara.


Sontak wajah termenung itu pecah dan perhatiannya teralihkan pada Xiao Yan yang tengah makan. Ekspresinya berubah menjadi sesosok yang merindukan seseorang.


"aku akan membawamu menemuinya." imbuhnya.


"tidak, aku harus menjaga klinik." sahut Aqira yang meresponnya sambil makan.


"aku mengerti." ucap Xiao Yan yang menutup pembicaraan.


Setelah makan siang itu selesai, tiga gadis bersama Tian ai dan putranya kembali ke kota menuju rumah Jeni, sementara para pria langsung ke istana karena urusan militer.


"kalian bisa pilih kamar yang kalian suka." ucap Jeni kepada Tian ai dan anak lelaki itu.


"wah nona Jian tamumu banyak sekali." ucap seorang wanita yang datang berkunjung sambil membawa anak lelakinya yang masih lajang.


"oh bibi Li, mereka sepupuku." sahut Jeni dengan ramah.


"apa mereka datang mencari jodoh? kebetulan aku punya calonnya." lanjut Bibi Li yang berinisiatif menarik putranya untuk diperkenalkan.


"tidak-tidak, mereka hanya datang membesuk ku." sahut Jeni dengan spontan sambil menengahi bibi Li.


"apa calonku kurang baik?" tanya bibi Li tanpa ragu-ragu.


"bukan, bukan begitu." sahut Jeni yang hendak menghindar sambil berpikir mencari alasan yang tepat.


"oh atau mungkin kau mau kandidat yang lain?" ucap Bibi Li yang hendak kembali ke pintu.


"tidak-tidak bibi, tidak perlu." ucap Jeni yang mencoba untuk menghentikannya namun tidak sampai.


Dengan muka sedikit tertekuk ia kembali kearah Tian ai dan dua temannya.


"bagaimana ini?" ucap Jeni dengan tampang gelisah.


"sejak kapan kau bergabung?" tanya Aqira dengan santai sambil memetik daun layu yang hampir jatuh.


"belum lama, masih setahun yang lalu." jawab Jeni dengan tampang cemas.


"bukankah itu mak comblang yang terkenal? Bibi Li Feili?" timpal Tian ai yang menambahkan.


"kau tau?" tanya Jeni penasaran.


"tidak banyak, tapi kadang aku mendengar tentangnya saat pergi ke ibukota untuk membeli barang." jawab Tian ai.


Ditengah kekacauan yang akan datang, Wanda yang belum tau situasi dengan santainya berjalan-jalan di halaman belakang kediaman bersama putra Tian ai.


"nona, apa aku bisa bertanya satu hal padamu?" ucap putra Tian ai kepada Wanda.


"katakan." sahut Wanda.


"apa kakak nona adalah ayahku?" ucapnya dengan ragu-ragu.


Tangan Wanda yang hendak memetik daun layu terhenti seraya menoleh kearahnya, "kenapa? apa kau meragukannya?" ucapnya yang bertanya balik padanya.


"tidak, hanya saja… aku takut dia seperti pria kejam itu." sahut anak itu dengan menunduk takut.


Mendengar kalimat itu Wanda mulai mengepalkan tangannya karena marah. Tapi dia sadar, saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal bodoh itu.


"jika ada kesempatan membalasnya, apa kau akan menghukumnya?" tanya Wanda yang mengulurkan tangannya kearah anak itu.


Tanpa ragu anak itu meraih tangan Wanda dan berkata, "tentu, aku pasti akan melakukannya." ucapnya dengan tampang serius.


"patut menjadi putranya." batin Wanda.


Tak lama setelah itu Bibi Li datang bersama enam orang pria lajang ke kediaman Jeni dengan pakaian resmi.


"perkenalkan nona, dia adalah…"


Bibi Li mulai memperkenalkan kandidat yang ia bawa satu persatu kepada tiga wanita ini dan Wanda serta putra Tian ai masih belum bergerak dari halaman belakang.


"kapan ini akan berakhir? aku harus kembali ke klinik." batin Aqira yang mulai tidak tenang.


Pada saat mengenalkan kandidat ke enam, Wanda datang bersama putra Tian ai ke halaman depan. Dia meminta putra Tian ai untuk kembali ke kamarnya sementara ia hendak bergabung bersama yang lain.


"mereka sudah memperkenalkan diri, jadi bisakah kalian juga memperkenalkan diri? termasuk nona Jian." minta Bibi Li kepada para gadis.


"aku juga?" ucap Jeni sambil menunjuk dirinya sendiri.