
"siapa?!" bentak wanita itu yang kesal karena ditarik oleh seseorang dari belakang.
"aku." sahut Wanda yang datang dengan pakaian tidak kalah minim dengan miliknya berdiri dengan tegap didepannya.
Yalan berdiri disamping Wanda sambil memandangi kecantikan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"siapa kau?!" bentak wanita itu untuk kedua kalinya karena tak dihiraukan oleh Wanda.
Perhatikan Wanda pun langsung teralih kearah wanita itu sembari menghampirinya. Dia membuka rompi tipis yang ia kenakan sembari mengenakannya pada wanita itu.
"awas kedinginan." ucapnya dengan tersenyum.
Wajah kesal dari wanita itu langsung berubah menjadi tersipu karena tindakannya.
"maafkan tindakanku sebelumnya, aku hanya tidak suka seseorang menyentuh milikku." lanjutnya yang berubah menjadi lembut bagaikan sutra.
"kuharap kau mengerti." imbuhnya.
Mendengar kata-kata itu langsung membuat wanita tersebut merasa malu dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah melihatnya pergi, Wanda kembali kearah Yalan serta bingung dengan tatapan yang ditunjukkan kepadanya tak seperti biasanya.
"apa? kau ingin bermain dengannya?" tanya Wanda dengan tampang datar.
Yalan yang terbengong pun tersadar, "uhuk… tidak" ucapnya yang memalingkan wajahnya karena tersipu.
"waw kalian juga bermain?" timpal Xiao Yan yang datang ke kamar mereka dengan pakaian seorang pria melalui pintu depan bersama Mo Chen.
Alis Mo Chen langsung mengeryit ketika melihat baju yang dikenakan adiknya sangat tipis bahkan tidak ada rompi untuk menutupi dadanya. Dia bahkan menatap tajam Yalan seperti hendak ingin meremukkan seluruh tulangnya.
"kita pergi?" tanya Wanda yang sudah berganti pakaian baru yang ia modifikasi sendiri.
PLAKK…
Suara tamparan itu bergeming ke seluruh ruangan serta membekas di pipi kanan Xiao Zhennai. Nampak wajah Ibu Suri penuh dengan amarah menatap cucunya sendiri.
"bagaimana aku bisa punya cucu yang menghabisi keluarganya sendiri!" ucap Ibu Suri yang penuh dengan kebencian di matanya.
"bagaimana bisa…"
"Nenek!" teriak Mo Chen serta pangeran lainnya yang panik karena tiba-tiba Ibu Suri jatuh pingsan.
"apa yang kalian lihat?! panggil tabib!" bentak Wanda kepada semuanya karena kesal.
Wanda bersama para pelayan yang di perintah oleh Kaisar mengantar Ibu Suri kembali ke kamarnya. Sementara Mo Chen bersama Xiao Yan dan yang lain masih berada di ruang rapat kekaisaran.
Pembicaraan yang mencekam ini masih berlangsung hampir satu jam penuh sampai sebuah dekrit muncul yang menyatakan… XIAO ZHENNAI TELAH MENGHABISI BANYAK NYAWA TAK BERDOSA SAMPAI NYAWA SANG MENDIANG RATU YIN, DIA DIJATUHI HUKUMAN PENJARA SEUMUR HIDUP KARENA MENGINGAT KONTRIBUSINYA TERHADAP NEGARA SERTA DI CABUT PANGKATNYA MENJADI WARGA BIASA.
"pengawal!" teriak Kaisar Xiao dengan lantang.
Dua orang pengawal masuk kedalam ruangan dengan cepat sembari berlutut memberi hormat, "ya… yang mulia." ucap mereka secara kompak.
"seret penghianat ini ke penjara…!" ucap Kaisar Xiao yang melanjutkan kalimatnya dengan tegas.
Malam hari…
Jeni bersama wanita yang diselamatkan Wanda tempo hari datang ke penjara tempat putra mahkota ditahan sebagai seorang prajurit yang berganti shif. Keduanya merubah penampilan sampai warna kulit mereka berubah menjadi sawo matang.
"penghianat itu memiliki sifat kejam, jangan sampai nyawa kalian hilang ditangannya! paham!" ucap kepala pelayan disana dengan tegas kepada para bawahannya.
"baik, kepala Zhang" ucap para bawahan itu secara serempak.
"pergilah! aku tidak lapar!" bentak Xiao Zhennai yang mengusir penjaga yang mengantarkan makanan didalam sel tapi sama sekali tak dihiraukan oleh penjaga tersebut.
Tiba-tiba seseorang menyentuh pundak Xiao Zhennai sampai ke dadanya yang membuat Xiao Zhennai geram.
"kau…!!" dia menjadi kaget ketika melihat wajah seorang wanita yang tak lain adalah selirnya sendiri yang hendak dijatuhi hukuman mati.
"bagaimana…"
"ssttt… jangan bersuara atau… kau akan menyesal." ucap wanita itu yang membungkam mulut Xiao Zhennai dengan mendekatkan wajahnya kearahnya.
Wanita itu berbicara beberapa patah kata pada Xiao Zhennai dengan tampang aslinya sebagai seorang putri Jenderal dari kerajaan milik Mo Chen yang mengerikan. Setelah itu ia pergi dari sana dengan penuh kebencian. Tapi tak ada yang tau setelah itu Wanda mendatangi Xiao Zhennai yang masih berada dalam keadaan syok bertemu wanita itu.
"bagaimana? kuharap kau menyukai hadiahku." ucapnya yang berdiri didepan pandangan Xiao Zhennai berada.
"kau…!" pekik Xiao Zhennai yang membuka matanya lebar-lebar dengan bola matanya yang menciut serta tatapan ketakutan sampai memunculkan kerutan di wajahnya.
"ada apa? apa kau mengenalku?" tanya Wanda dengan polos sembari mendekatkan wajahnya kearah Xiao Zhennai.
"menjauh dariku!" bentaknya yang hendak berdiri namun pundaknya ditekan oleh Wanda yang membuatnya tak bisa berdiri.
"berhenti mengacau!" ucap Wanda yang memasukkan sebutir pil berwarna coklat ke mulut Xiao Zhennai dengan cepat.
"uhuk-uhuk… apa, apa yang kau masukkan dalam mulutku!" ucap Xiao Zhennai yang memukul punggung lehernya untuk mengeluarkan pil tadi.
Wanda duduk di ranjang bambu yang ada disana dengan menyilangkan kakinya.
"aku hanya ingin memastikan satu hal denganmu." ucap Wanda dengan sikap elegan seorang bangsawan.
"pergilah! aku tidak akan mengatakan apapun padamu." ucap Xiao Zhennai yang membantah.
Sudut bibir Wanda naik perlahan dengan matanya yang mulai menyipit, "bukan kau yang memutuskan."
Dalam kurun waktu satu menit sebelum pengawal lain berganti penjagaan, Wanda pergi dari sel itu tanpa meninggalkan jejak apapun. Sampai di luar istana dia langsung pergi ke kediaman milik Jeni.
"Aqira!" bisik Wanda yang berdiri di samping Aqira yang sedang memasak di dapur.
"apa?" sahut Aqira sambil memotong sayuran.
"apa kau ikut ke penjara tadi?" tanyanya tanpa basa-basi.
Tangan Aqira terhenti sejenak sembari menoleh Wanda, "tidak"
"dan dimana Jeni?" lanjut Wanda yang meneruskan pertanyaannya.
"ada apa? kau merindukanku?" sahut Jeni yang datang membawa kayu bakar bersama Tian ai.
"narsis" gumam Wanda yang memalingkan wajahnya.
"jika semua disini, lalu… siapa yang melakukannya?" batin Wanda yang tengah berpikir.
Kembali ke alur sebenarnya.
Setelah kematian Xiao Zhennai, Kaisar Xiao mengangkat putra ketiganya, Xiao Baili sebagai putra mahkota karena ia yang paling tertua serta yang sudah memiliki istri.
"oh iya, kudengar empat hari lagi kau akan kembali." ucap Aqira kepada Wanda.
"apa? secepat ini?" timpal Jeni yang terkejut.
Wanda menancapkan pisau yang ia buat mainan di pilar rumah milik Jeni sampai pilar rumah itu mengeluarkan lelehan ungu dari dalamnya.
"Kakak dan keluarga kecilnya yang akan kembali." ucapnya sembari mengeluarkan jarum perak yang ia ambil dari saku Aqira tanpa sepengetahuannya, "kalau aku… masih ingin bermain disini." lanjutnya yang menunjukkan jarum perak itu berubah menjadi hitam kearah kedua rekannya tersebut.
"oh iya, aku kau pernah ke perguruan tabib Lin?" tanya Wanda sambil menatap wajah Aqira.