
Istana Utara
Halaman depan kamar putri jenderal Ye.
"untuk apa aku memelihara kalian jika tidak berguna." bentak seorang wanita dari dalam ruangan. Salah seorang dari gerombolan mereka berkata, "seperti biasa, jangan melawannya." ucapnya sembari menoleh kearah yang lain. Mereka semua mengangguk dan ketiga gadis ikut mengangguk kepalanya.
Mereka masuk kedalam kamar putri jenderal Ye secara bersamaan sambil membawa barang yang diminta olehnya. Tepat saat mereka selangkah di depan pintu, seorang pelayan tersungkur di lantai dengan wajah yang penuh bekas pukulan.
"pelayan ini membawakan barang yang nona minta." ucap mereka memberikan salam sembari menyodorkan barang yang mereka bawa.
"hmph, bawa kemari!" ucap putri jenderal Ye sambil menatap cermin didepannya. Jeni berdiri seraya memberikan parfum di tangannya. Melihat wajah mulus Jeni, putri jenderal Ye menarik tangannya dan berkata, "kau sangat cantik, darimana kau belajar merias?" ucapnya yang melihat wajah Jeni dari dekat.
"Ye Tian ai!" batin Jeni. Jeni segera berlutut dan menjawab, "terimakasih atas pujiannya, tapi hamba tak layak mendapatkannya." ucapnya yang berakting seperti seorang rakyat jelata merendahkan dirinya.
Tian ai mendongakkan wajah Jeni dengan tersenyum picik, "bantu aku merawat diriku, jika sampai musim berikutnya hasilnya bagus, ku hadiahkan kau seratus tael emas untuk setiap bulannya." ucapnya yang membujuk Jeni. "terimakasih atas kebaikan anda, semoga nona selalu berjaya." ucap Jeni sembari bersujud di lantai.
Setelah itu Tian ai meminta pakaian yang dibawa oleh Aqira untuk ditunjukkan kepadanya, "menurutmu mana yang cocok?" ucapnya sambil menatap wajah Jeni.
"semuanya cocok dengan anda, nona." sahut Jeni.
"pilihkan yang menurutmu cocok dengan riasanku." ucap Tian ai.
Jeni mendongak perlahan melihat gaun itu hingga berakhir menatap wajah Aqira. Dengan kode mata, Aqira memberikan saran, "biru lebih cocok." sembari melihat sekilas kearah gaun ditangan kanannya.
Jeni berjalan mendekati gaun tersebut dan berkata, "mungkin warna ini cocok nona." ucapnya sembari menunjuk kearah gaun tersebut.
Tian ai menuruti perkataan dari Jeni dan mencobanya sebentar, "kau benar, ini sangat cocok denganku." ucapnya sembari menatap dirinya di depan cermin, "baiklah, kalian bisa kembali, mulai besok kau yang akan mendandaniku." sambungnya dengan wajah bahagia.
Semua membungkukkan badannya dan berkata, "hamba pamit undur diri." ucap mereka bersamaan sembari berjalan keluar meninggalkan ruangan.
Untuk melancarkan rencana, mereka bertiga harus tidur di kamar pelayan untuk satu malam ini. Melihat mereka yang tak kunjung kembali, ketiga pria yang sedang menunggu mulai gelisah mengkhawatirkan mereka. Demi tidak membuat semuanya khawatir, Wanda membaur dengan pelayan istana timur yang hendak berganti shif. Karena diantara mereka bertiga, hanya Wanda yang belum terlihat oleh putri jenderal Ye. Mereka tidak bisa kembali ke istana barat dengan sewenang-wenang karena mereka diawasi oleh orang Ye Tian ai sedari mereka keluar dari sana, jadi mereka memilih kembali bersama yang lain daripada kembali ke istana barat.
Istana Barat, kamar Yalan.
"tidak ada orang disini, kau jangan berbohong!" ucap pak penjaga.
Wanda mendongak sambil menunjukkan ekspresi terkejut, "lalu, siapa yang meminta ini? aa…apakah seorang hantu?" ucapnya yang ketakutan.
"bukan hantu, tapi aku yang memintanya, kau ikutlah denganku!" ucap seorang pria yang tiba-tiba muncul. Wanda sontak bersembunyi dibelakang kedua penjaga dan berkata, "apa…apa dia seorang hantu?" ucapnya sembari menyembunyikan wajahnya. Pria itu pun mendekati Wanda sembari mengulurkan tangannya ke depan, "pegang dan lihat sendiri."
Wanda yang sedikit takut mulai memberanikan diri dengan mengulurkan tangannya kearah pria itu, dengan sigap pria itu menarik tangan Wanda dan menggendongnya pergi dari sana.
Kedua penjaga itupun berkata, "apa kita sudah tua sekarang?"
Pria itu membawa Wanda ke istana barat. Mereka tak berbincang sedikitpun selama perjalanan.
tok…tok…tok… "tuan, hamba membawakan arak yang anda minta." ucap Wanda sembari mengetuk pintu kamarnya. Merasa tidak ada yang memesan arak, Yalan sontak membukakan pintu dan langsung menarik Wanda masuk kedalam.
pyarr…
"huff, kau menumpahkannya." ucap Wanda sembari menghela nafas.
Pangeran Yan dan Jilixu menoleh kearah pintu dan tak menemukan siapapun selain Wanda. "tidak perlu khawatir, mereka aman." ucap Wanda sambil menatap yang lain, "kalau begitu, aku pamit dulu." sambungnya yang melompat keluar dari jendela kamar.
Jilixu menepuk pundak Yalan yang sedang bengong, "sedang memikirkan apa?"
Yalan tersadar dan berkata, "dimana dia?" ucapnya yang menoleh kanan kirinya. Pangeran Yan berjalan mendekati pintu dan menjawab, "dia sudah pergi, kau bisa bertemu dengannya besok." ucapnya sembari keluar meninggalkan kamar itu.
Keesokan harinya, ketiga gadis mulai bekerja untuk putri jenderal Ye untuk merawat dirinya menjadi secantik Jeni dengan waktu sampai pertukaran di pertengahan musim gugur. Dari berjemur di pagi hari, memulai pola makan sehat, tidur di siang hari, mandi dengan air susu di sore hari, makan malam sebelum jam delapan malam, hingga memakai masker sebelum tidur. Ketiganya menghabiskan waktu seharian dengan putri jenderal Ye. brak… Ye Tian ai memukul meja dan berkata, "siapa yang membuat makanan ini?" ucapnya dengan wajah serius. Wanda maju selangkah seraya menjawab, "Sa…saya yang membuatnya." ucapnya sambil memegang erat ujung bajunya. "koki dapur sedang sakit, ham…hamba takut makanan nona terlambat, jadi…" "aku tidak menyalahkannmu, hanya saja…" ucap Ye Tian ai memotong kalimat Wanda. "terlalu kemanisan sedikit, lain kali jangan terlalu manis." sambungnya sembari tersenyum hangat.
Ye Tian ai berdiri sembari menghampiri, "mulai besok, kau yang akan mengurus makananku bersama koki pribadiku!" ucapnya memberi tahu mereka semuanya.
Setelah selesai makan, Wanda menganjurkan agar Ye Tian ai duduk menikmati pemandangan malam sambil menunggu makanan itu dicerna diperutnya. Dengan patuh ia menuruti perkataan Wanda. Setelah beberapa saat, Ye Tian ai tertidur di dekat jendela sambil menikmati angin malam. Putra mahkota tiba tepat setelah dia tertidur, ia tak jadi masuk dan kembali ke kediamannya. Setelah mengurus putri jenderal Ye seharian, ibu pelayan Hua menghampiri mereka sembari mengarahkan mereka ke tempat tinggal baru. Sebagai pelayan eksklusif, mereka bertiga ditempatkan di kamar yang berbeda dengan pelayan lain, karena alasan mereka bersentuhan dengan putri jenderal Ye, yah bisa dikatakan dia adalah OCD akut.
"kalian akan tinggal disini mulai sekarang." ucap ibu pelayan Hua mengantar mereka sampai di depan pintu. Ketiganya membungkukkan badannya seraya berkata, "terimakasih, bibi." ucap mereka bersamaan. Ibu pelayan Hua tersenyum dan berkata, "kedepannya, aku akan mengandalkan kalian menjaga nona Ye." ucapnya sembari meninggalkan mereka. "baik, bibi." sahut Aqira memberikan salam.