
Tian ai mendekati mereka seraya berkata, "wah adik, apa mereka teman barumu?" tanya dia sambil tersenyum.
Mian ai mengubah ekspresinya dengan cepat dan menjawab, "bukan kak, mereka kan temanku sejak dulu." ucapnya sambil tersenyum paksa.
Tian ai mendekatkan dirinya kepada Mian ai, "oh benarkah? tapi kenapa yang kudengar kau tidak punya teman perempuan, jadi… yang mana yang benar?" ucapnya dengan nada menyindir.
"itu pasti lelucon yang dibuat para pelayan." ucap Mian ai yang berusaha bersikap tenang dan menahan amarahnya.
Tian ai mundur selangkah ke belakang sembari menegakkan tubuhnya, "adik sungguh baik, hal seperti ini sama sekali tidak dipermasalahkan." ucapnya sembari menutupi wajahnya dengan lengan bajunya. Dia berbalik sembari melangkah dua langkah ke depan, "kalau begitu, aku akan bilang pada bibi Zu untuk mendidik mereka lebih baik. Sampai jumpa." ucapnya yang berjalan meninggalkannya.
Setelah Tian ai dan pelayannya menjauh, para wanita bangsawan mulai menggunjing Mian ai, "apa rumor itu benar, kalau selama ini kita hanya dianggap pelayannya saja?" gumam mereka yang bertanya-tanya.
Mian ai menatap mereka para wanita bangsawan itu, "kakakku suka bercanda, jadi jangan dimasukkan ke hati." ucapnya yang mencoba mengambil kepercayaan mereka kembali.
"Dasar ******! berani sekali kau melakukan ini, aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan semua usahaku! tidak akan pernah! Kau tunggu saja pembalasanku." batin Mian ai yang penuh dengan kebencian didalam lubuk hatinya.
Dibalik pohon dekat sana saat ini… "kau pasti mengutukku saat ini kan? tapi aku tidak peduli, di kehidupanku dulu kau sudah menghancurkanku, di kehidupan ini aku akan mengancurkan semua usahamu dengan caramu sendiri." batin Tian ai yang melihat diam-diam Mian ai. "ayo pergi." ucapnya sembari meninggalkan tempat itu dan kembali ke kamarnya.
Saat Tian ai baru sampai di kamarnya untuk mengganti pakaiannya, seorang pelayan datang ke kamarnya, "kau dipanggil ke aula oleh nyonya besar." ucapnya tanpa memberi salam ataupun rasa hormat sedikitpun.
Jeni menoleh kearah Tian ai, dan dia menjawab tatapan Jeni dengan menggelengkan kepalanya perlahan.
"baiklah, kau bisa pergi." ucap Tian ai yang acuh tak acuh.
Pelayan itu kemudian meninggalkan kamar Tian dengan cepat tanpa pamit.
"aku tau maksudmu, tapi lebih baik kita melepas umpan kecil untuk mendapatkan yang besar." imbuh Tian ai sembari menoleh kearah Jeni.
"maaf meragukan niat nona." ucap Jeni yang berlutut dihadapannya.
Tian ai memapahnya berdiri seraya berkata, "sudah kubilang, orangku tidak boleh ditindas." ucapnya sambil tersenyum. "jadi… tetap tegakkan pandanganmu." sambungnya sembari berjalan keluar dari kamarnya menuju aula utama.
Saat sampai di taman air dekat sana Tian ai berjalan dengan hati-hati dan mulai waspada, "seharusnya sekarang nenek akan memarahiku karena perbuatanku pada Mian ai tadi dan memaksaku untuk menerima perjodohan dari tuan muda Wang Lan itu, tapi kali ini berbeda… ku pastikan kalian akan syok ditempat." batinnya dengan mengepalkan tangannya.
Tap…tap…tap…
"Tian ai memberi salam kepada semua orang." ucapnya sembari mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tangan yang disatukan untuk memberi salam.
"cucu tidak berbakti!" bentak seorang wanita tua sambil menghentakkan tongkatnya dengan penuh amarah, dia tak lain adalah nyonya besar di kediaman ini sekaligus nenek Tian ai.
Tian ai langsung terkejut dan langsung berlutut, "ne…nenek, apa salah Tian ai?" ucapnya yang ketakutan. Mian ai mengambil inisiatif dengan mendekati Tian ai sembari berlutut disebelahnya, "nenek, aku mohon maafkan kakak, dia tidak bersalah dalam hal ini." ucapnya yang meminta pengampunan untuknya. "aku tidak tahu ada apa dengannya, semenjak pulang dari istana, sikapnya berbeda dari sebelumnya, dia terlihat lebih tenang dari biasanya." batin Mian ai saat ini.
Tian ai menggunakan wajah polosnya dan bertanya sekali lagi, "apa yang terjadi? apa nenek bisa memberitahu Tian ai?"
"jangan berpura-pura, kenapa kau ingin mempermalukan adikmu!" sekali lagi wanita tua itu membentak Tian ai dengan meninggikan nadanya sedikit dari yang pertama.
"nenek aku tidak…"
"cukup! kau akan dikurung sampai acara perjodohanmu dengan tuan muda Wang." final wanita tua itu yang tak ingin mendengar penjelasan dari Tian ai.
Tian ai menundukkan kepalanya sambil tetap berlutut, "sebentar lagi." batinnya yang berdiam diri seperti patung.
Tak…tak…tak… terdengar suara langkah kaki yang anggun sedang menghampiri Tian ai. Sesosok pria berjubah brokat coklat memasang wajah datar hadir disana.
"siapa yang sedang kau bentak nyonya?" ucapnya sambil memapah Tian ai berdiri.
Semua orang terkejut melihatnya dan langsung berlutut, "kediaman Ye, memberi salam kepada putra mahkota." ucap mereka bersamaan.
"jangan berlutut, berdiri di sampingku." ucap putra mahkota yang menarik Tian ai ke belakangnya.
"titah kaisar…" ucap seorang Kasim yang datang bersama para pengawal dan sebuah gulungan kertas ditangannya.
Semua orang bersiap untuk mendengarkannya, "Jenderal Ye telah berkontribusi untuk negara, dan Kaisar menganugerahkan pernikahan untuk Putri Jenderal Ye, Ye Tian ai dengan putra mahkota Xiao Zhennai." ucap Kasim Liu yang membaca titah ditangannya.
Duarr… semuanya terdiam tak berkutik mendengar hal itu. "itu saja." sambung Kasim Liu yang menutup titah suci sembari memberikannya kepada nenek Tian ai.
"kediaman Ye menerima titah Kaisar." ucap nenek Tian ai sembari menerima titah tersebut.
Putra mahkota maju selangkah seraya berkata, "mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan siapapun merendahkan calon istriku… termasuk anda." ucapnya dengan tegas.
Kemudian putra mahkota mengajak Tian ai keluar dari sana. Sesampainya di taman air, seperti anak kecil yang manja, Tian ai menarik lengan baju putra mahkota dengan pelan, "apa aku bisa bicara berdua denganmu?" tanya dia dengan pelan.
Putra mahkota melirik kearah orang-orang disekitarnya dan mereka langsung pergi meninggalkan keduanya berduaan, "katakan ada apa?" ucapnya yang menurunkan nada bicaranya. "aku…aku…" ucapnya yang ragu-ragu.
Putra mahkota meraih tangan Tian ai sembari memegangnya dengan erat, "apa kau masih Tian ai yang berani berdebat denganku di istana?"
"kau!" ucap Tian ai yang sontak mendongak kearahnya, "aku… aku hanya bercanda dan kau… kau benar-benar datang untuk melamarku." sambungnya sembari memalingkan wajahnya karena tersipu malu.
Putra mahkota mendekatkan wajahnya ke telinga Tian ai, "karena aku akan menganggap semua perkataanmu dengan serius." bisiknya sembari meniup pelan telinganya.
"tolong jaga sikap anda putra mahkota." ucap Tian ai yang mundur selangkah.
Putra mahkota menegakkan tubuhnya dan berkata, "baiklah, hal apa yang ingin kau bicarakan denganku?" ucapnya yang kembali ke sikap wibawanya.
Tian ai mendekat kearah kolam ikan sembari berjongkok, "apa boleh mengajukan beberapa persyaratan untuk perjodohan ini?" tanyanya yang menatap dirinya di pantulan air kolam.
Putra mahkota berjalan menghampirinya, "jika aku tidak mau?"
"aku akan meminta kaisar membatalkan perjodohan ini." jawab Tian ai dengan spontan sembari berdiri.
"karena kau berkata seperti itu, maka aku akan mempertimbangkannya, katakan."
"aku punya tiga syarat. Pertama, aku tidak mau masuk kedalam istana haremmu. Kedua, hubungan ini hanya untuk keuntungan masing-masing kau dapat kekuatan pasukan ayahku dan aku mendapat posisi, itu artinya kita bukanlah pasangan asli, jadi… tidak ada hubungan suami-istri diantara kita dan… urus urusan masing-masing. Ketiga, aku ingin pernikahan dilangsungkan setelah acara pertukaran dipertengahan musim gugur. Apa kau keberatan?"
Putra mahkota menghela nafas seraya menjawab, "akan ku setujui asal kau juga memenuhi persyaratan ku." ucapnya sambil tersenyum menyeringai.
"katakan!"
"untuk persyaratan pertama, aku tidak setuju…" sahut putra mahkota.
Tian ai langsung termenung mendengar hal itu. "karena kau akan ditempatkan di istana pribadiku." sambung Putra Mahkota. "kau janji?" tanya Tian ai yang mengulurkan tangannya. Putra Mahkota menjabat tangannya dan berkata, "aku… Xiao Zhennai bersumpah padamu."
Tian ai terharu hingga tak bisa mengontrol emosinya.
"Untuk persyaratan kedua, walau kita bukan suami-istri sungguhan, tapi saat kau sudah menjadi pasanganku, aku takkan biarkan kau bersama laki-laki lain, jadi jangan harap ada laki-laki lain selain diriku di hidupmu. Untuk persyaratan ketiga, aku ingin tahu alasannya dahulu." ucapnya dengan tatapan dingin.
"untuk yang ketiga, karena aku ingin mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku, hanya itu saja." jawab Tian ai. "jadi… buat kesepakatan?" sambungnya sembari yang mengulurkan tangannya. Putra mahkota meraih tangannya sembari menariknya, "sepakat." bisiknya tepat di telinganya.
Srak… merasa seseorang sedang mengawasi mereka, Tian ai mendorongnya perlahan sembari menghindarinya, "aku…aku ingat masih ada urusan, aku permisi dulu." ucapnya yang panik dan bergegas kembali ke kamarnya dengan tergesa-gesa.
"imut sekali." gumam putra mahkota yang melihatnya semakin jauh. "cepat atau lambat… kau akan jadi milikku, Ye…Tian…ai." sambungnya sambil tersenyum.
Dibalik semak-semak saat ini… "kenapa harus kau! seharusnya itu semua milikku! tunggu saja kau Tian ai!" batin Mian ai yang geram sambil menggertakkan giginya.