Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Kejahilan Wanda



Wanda sontak berdiri dan menghampiri Pangeran Yan, "tolong obati dia." ucapnya sembari memberikan salep obat kepadanya. "kalian berdua ikut aku!" sambungnya sembari berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar lain.


Kamar Wanda


Wanda duduk di tempat tidur, Aqira duduk di kursi sambil memegang gelas teh, sedangkan Jeni menutup pintu dan jendela kamar. "dia sudah setuju." ucap Wanda sembari menyilangkan kakinya. Jeni berjalan mendekati Aqira seraya duduk di sampingnya, "dia mengajukan syarat?" ucapnya sembari menuangkan teh ke gelasnya. "tidak ada." sahut Wanda dengan santai. "tapi aku mengajukan empat enam dan dia langsung setuju." sambungnya sembari mengeluarkan selembar kertas dari saku dalamnya. Aqira mendengarkan sembari menyeduh tehnya sambil berpikir sejenak. "bagaimana menurutmu?" ucap Wanda menatap wajah Aqira yang nampak bersantai menikmati tehnya. Aqira menaruh gelasnya seraya berkata, "seperti biasa, seorang pebisnis hanya akan memikirkan keuntungan dan keuntungan." ucapnya sembari menyandarkan kepalanya di kursi. "tapi kau ada merasa aneh tidak?" ucap Jeni sembari menyeduh tehnya.


Wanda menghela nafas seraya berkata, "itu semua karena dia naksir kakakku." ucapnya sambil memijit pelipisnya. "pufff, uhuk-uhuk." mendengar itu membuat Jeni tersentak dan menyemburkan minuman di mulutnya. Aqira menyodorkan kain kearah Jeni, "ada yang salah?" ucapnya dengan wajah datar.


Jeni spontan mengambil kain lap itu sembari menyeka mulutnya yang basah, "ada sesuatu di tehku." ucapnya sambil menuangkan teh di gelasnya ke lantai. "sialan! apa mereka ingin meracuniku?!" sambungnya yang menggertakkan giginya.


Tok…tok…tok… "adik, kau di dalam?" suara Yalan yang terdengar bising dari luar sambil mengetuk pintu kamar sebelah. Jeni sontak membuang kain di tangannya sembari menggosok lantai yang basah dengan kakinya. Karena tak mendengar jawaban dari dalam, Yalan langsung mendobrak pintu dan menerobos masuk kedalam. Brak… "aaaa" jeritan seorang wanita yang keras hampir membuat seisi paviliun gempar dibuatnya. Wanda membuka pintu kamarnya sembari menuju kamar sebelahnya, "ada apa?" ucapnya yang ikut masuk kedalam. Seorang wanita dengan pakaian berantakan menghampirinya, "kak…Kakak…" ucapnya sambil menggosokkan dadanya ke lengan Wanda. "menjauhlah darinya!" ucap Yalan yang menarik tangan Wanda sembari mendorong wanita itu hingga terjatuh. "ah" rintihan wanita itu yang kesakitan akibat terbentur meja. Wanda perlahan melepaskan genggaman Yalan seraya mendekati wanita itu, "kau tidak apa-apa?" ucapnya sembari mengulurkan tangannya. "tanganmu terluka, biar ku obati dulu." sambungnya sembari menyuruhnya duduk di tempat tidurnya. "terimakasih" sahut wanita itu dengan wajah sumringah.


"adik, apa yang kau…"


Wanda sontak melirik Yalan dengan tatapan dingin yang membuatnya berhenti berbicara. Setelah mengobatinya Wanda hendak mengajak mereka keluar dari sana, namun tepat di pintu mereka dihadang oleh sekelompok gadis atas perintah wanita yang terluka itu. "kau tidak bisa pergi dari sini." ucap sekelompok gadis dengan pakaian minim dihadapannya. Wanda mendongakkan wajah salah seorang dari mereka seraya berkata, "mau bermain denganku?" ucapnya dengan mendekatkan wajahnya kearahnya. "tapi kau harus mengusir mereka terlebih dahulu." sambungannya sembari menunjuk kearah tiga gadis yang tak lain, Yalan dan kedua temannya. Sekelompok gadis menyetujuinya dan mengusir mereka keluar dari sana.


Saat mereka keluar, Jeni sudah menunggunya tepat disebelah pintu kamar. "sudah selesai?" ucapnya sembari membalikkan badannya sembari berjalan kembali ke kamarnya. "tetap disini atau masuk kedalam." sambungnya sembari membukakan pintu untuk mereka. Pangeran Yan dan Jilixu masuk dengan patuh, namun Yalan yang masih khawatir tetap menunggu Wanda di luar. Jeni menghela nafas panjang, "jangan buat onar!" ucapnya sembari menarik paksa Yalan masuk kedalam.


Setengah jam kemudian, suara riuh mulai hilang perlahan-lahan dan hampir menjadi hening. Setelah itu Wanda keluar dari sana dan kembali ke kamarnya. Melihat pakaian dan dandanan Wanda yang masih sama, membuat Yalan lega. "kau tidak apa-apa? apa mereka menindasmu?" ucap Yalan menggenggam erat tangan Wanda. Wanda tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


"jadi, bagaimana hasilnya?" ucap Jeni menatap wajah Wanda. Wanda melepaskan genggaman Yalan seraya membalikkan badannya, prok…prok… mendengar suara itu membuat sekelompok gadis tadi masuk kedalam kamarnya.


tap…tap…tap… Mereka langsung berbaris rapi membentuk saf barisan. Wanda mengambil dua kursi dan ditaruh di tengah ruangan. "kalian kemari!" ucap Wanda melirik kearah Jeni dan Aqira. Keduanya sontak berdiri dan menghampirinya. "bagaimana menurut kalian?" sambungnya sambil menatap wajah mereka. Jeni sebagai penata rias artis menilai terlebih dahulu, "ini lumayan, yang ini pas, yang ini…" ucapnya sembari berjalan menatap wajah mereka satu persatu. "sudah, sekarang giliranmu." sambungnya sembari berjalan menuju kursi yang disiapkan Wanda. Aqira sebagai desainer terkenal mulai meneliti setiap inci pakaian yang mereka kenakan, "hemm lumayan." ucapnya sembari memutari tubuh mereka satu persatu. "baiklah sudah cukup." sambungnya sembari berjalan menuju kursi disebelah Jeni.


Setelah itu Jeni dan Aqira saling berunding satu sama lain. Wanda juga ikut berdiskusi dengan wanita yang ia rias, "siapapun yang terpilih, kalian tidak boleh cemburu, sepakat?" ucapnya sembari mengulurkan tangannya. Sekelompok wanita itu menumpukkan tangannya diatas tangan Wanda sambil berkata, "sepakat." ucap mereka bersamaan.


"uhuk-uhuk, okeh para hadirin sekalian." ucap Jeni dan Aqira yang berdiri. Wanda beserta yang lain kembali ke posisi awal lagi. "kami memutuskan… dialah pemenangnya!" ucap mereka sembari menunjuk gadis yang memakai gaun sederhana dengan rambut yang terurai dan dandanan tipis sebagai pemenangnya. "selamat!" ucap mereka bersamaan. Gadis pemenang itu terbengong sesaat, "aku menang?" ucapnya yang tak percaya. Wanda menghampirinya seraya berkata, "selamat pemenang, ini hadiahmu." ucapnya sembari memberikan set make up kepadanya. "yang lain jangan cemburu, di kamar kalian aku sudah menyiapkan hadiah untuk semuanya. sambungnya dengan wajah bahagia. "benarkah?" ucap mereka yang spontan kembali ke kamar mereka.


Tepat saat para wanita itu mengambil hadiah mereka, Wanda menarik tangan Yalan bersama kedua couple lainnya keluar dari tempat itu melalui jendela kamarnya. "terimakasih, eh kemana mereka?" ucap para wanita itu melihat seisi ruangan yang hening dan tak menemukan siapapun disana.


"huff, akhirnya kelar juga." ucap Wanda yang ngos-ngosan setelah berlari. "kau memang hebat." ucap Jeni sembari mengusak rambut Wanda. "yang penting semua bahagia." ucap Wanda sembari merangkul leher kedua temannya. "bisakah kalian menjelaskan apa yang terjadi?" tanya Yalan yang menghentikan langkahnya bersama kedua temannya.


Wanda menoleh ke belakang seraya berkata, "nanti akan ku jelaskan, sekarang mari berpesta dulu." ucapnya sembari menarik tangan Yalan kearahnya.