
"aku bukan pencuri, aku cuman ingin mengambil milikku saja." jelas tawanan itu dengan wajah serius. Wanda menoleh kearah Jeni, lalu Jeni menghampiri tawanan itu, "jawab pertanyaanku, akan kulepaskan kau." ucap dia yang menatap wajah tawanan itu. Tawanan itu mengangguk dengan cepat, "baiklah."
"nama?" "Pu Zen."
"umur?" "lima belas tahun."
"asal?" "negara barat, rakyat Kaisar Chen."
Wanda melirik kearah Mo Chen yang berada di sudut ruangan yang tak terlihat oleh tawanan itu.
"tujuanmu kemari?" "mengambil barangku yang dicuri."
"apa?" "harta karun paviliun Cuya."
"!?" semuanya terkejut mendengar hal itu, Mo Chen menghampirinya sembari berjongkok dihadapannya, "bagaimana kau bisa keluar dari pengawasan yang ketat di ibukota?" tanya dia dengan tatapan dingin. "kau siapa?" tanya tawanan itu dengan polos. Mo Chen tersenyum pahit sambil menahan emosinya, "aku…"
"temanku." ucap Wanda yang menyela, "tapi kenapa kau melakukan ini?" menatap tajam Mo Chen. Tawanan itu sontak bersujud dan membenturkan kepalanya di lantai, "maafkan aku, aku tahu ini salah. Tapi jika aku tidak mendapatkannya ibuku akan mati." ucapnya dengan gemetaran.
"katakan siapa yang menyuruhmu? dan siapa yang mengambil itu?" tanya Mo Chen dengan tegas.
"aa…aku…aku…" tawanan itu terbata-bata saat hendak mengatakannya. Wanda mendekat kearah tawanan itu sembari mengusak rambutnya, "sudah cukup, kau bisa istirahat. Sisanya, serahkan pada kami." ucapnya sambil tersenyum.
"tapi benda itu…"
"jangan khawatir… kebetulan kita punya urusan yang sama." ucap Wanda sembari menoleh kearah kedua rekannya itu, "jika kau terus kan, kau akan menyesal." lanjutnya yang mengancam Mo Chen.
Jeni dan Aqira mengangguk kearah Wanda, dan ketiganya memasang cadar di wajah masing-masing sembari langsung keluar dari sana. "memang kucing liar." gumam Mo Chen yang menatap Wanda pergi. Jilixu dan Pangeran Yan keluar dari tenda sembari memanggil pengawal bayangan miliknya, "lindungi mereka." ucap mereka bersamaan.
Yalan merasa tertekan dengan hal itu sembari keluar dari sana, "pada akhirnya… aku tetap terlambat." gumamnya yang menangis di bawah pohon besar dalam hutan.
Ketiga gadis sedang mengintai gerak gerik dari selir putra mahkota yang menyamar untuk masuk kedalam sebuah paviliun kupu malam, saat mereka melihat dua kupu malam dan seorang pria yang hendak masuk, "kita buat taruhan?" tanya Jeni sambil menatap yang lain dengan mengulurkan tangannya. Wanda dan Aqira menatap satu sama lain, "siapa takut." bersamaan menjabat tangan Jeni.
Edisi merampas benda ditempat telah terlaksana, "kenapa rasanya… baju ini sangat ketat." celoteh Jeni yang menarik kain bajunya. Wanda memberikan rompi tipisnya kepada Jeni, "bukan bajunya yang ketat, tapi kau yang gemuk." olok dia tanpa ekspresi, "sudah siap?" lanjutnya yang melangkah ke depan pintu.
"hem" sahut kedua rekannya dengan kompak.
Wanda dan Jeni membaur dengan para pekerja lain disana, "maaf terlambat." ucap Jeni dengan lemah lembut.
Aqira duduk bersama para pelanggan sambil melihat mereka dari kejauhan.
"iya, maafkan kami." ucap Wanda yang bersikap sama seperti Jeni.
Sontak Jeni terbatuk sementara Aqira tersentak air saat minum, "apa dia masih tiran yang sama?" batin keduanya yang melihat tingkah Wanda.
"baiklah, kalian berdua ikut denganku, ada tamu yang menunggu kalian." ucap ibu pemilik paviliun itu.
Keduanya mengikutinya dengan patuh dibelakangnya. Saat tiba dikamar itu mereka melihat selir putra mahkota juga berada didalamnya bersama seorang pria dan dia sontak bergegas keluar dari sana. Jeni dan Wanda memberi salam pertemuan untuk pria yang memesan mereka berdua. Tepat setelah ibu pemilik paviliun itu keluar dan menutup pintu, Jeni berdiri dibelakang pria itu sambil memegang kedua tangan, sementara Wanda memegang kedua kaki pria itu dengan tenang. "tuan, apa kau sedang berkencan dengan Nona tadi?" tanya Jeni yang mendekatkan wajahnya kearah pria itu sambil mengikat tangan pria itu tanpa sepengetahuannya.
"tuan… apa kau mau bermain." goda pekerja wanita dari paviliun itu kepada pria disebelah Aqira. "maaf Nona, aku lebih suka bermain dadu daripada wanita." jawab pria itu dengan tegas. Setelah ditolak oleh pria itu, wanita tadi berpindah menggoda Aqira, "tuan…" bersikap manja dan lemah lembut dihadapannya. Aqira berdiri dengan cepat dan berkata, "maaf Nona, aku tidak tertarik pada wanita." ucapnya tanpa menatap wajahnya.
Karena tak terima sudah ditolak dua kali oleh pria, dia pun menarik paksa Aqira, "aku tidak percaya kau tidak tertarik." bisiknya yang membuat wajah Aqira jatuh di dadanya.
"menjauh dari istriku!" seorang pria datang menarik Aqira ke sisinya sembari mendorong wanita itu hingga jatuh ke lantai, "berani sekali kau menggoda istriku!" lanjutnya yang memberi tatapan dingin kepada wanita itu.
Aqira mendongak kearah pria itu sekilas sembari duduk ke kursinya kembali. Pria pertama yang menolak wanita itu bertanya pada Aqira, "apa dia suamimu?" ucapnya yang menatap pria kekar yang mengatakan Aqira adalah istrinya.
"menurutmu?" sahut Aqira yang mengocok dadunya. Pria itu kembali fokus pada dadu yang akan dilempar, "menurutku kau masih lajang." ucapnya yang menunggu angka dadu.
Aqira melempar dadu itu sambil berkata, "lalu untuk apa bertanya."
tak…tak…tak… angka dadu muncul dan, "semua ini milikku." lanjutnya yang langsung merampas semua uang dan benda yang menjadi taruhan dimeja itu, "aku berhenti, terimakasih." berdiri sembari meninggalkan tempat itu.
Tapi tiba-tiba pria yang mengakui Aqira sebagai istrinya menghadang Aqira di depan pintu keluar paviliun itu, dia memohon agar Aqira ikut pulang bersamanya sampai membuat kegaduhan di paviliun itu, "jika kamu tidak mau ikut, aku… aku akan mengobrak-abrik tempat ini." ancam dia yang mengangkat kursi didekat sana.
Aqira menghela nafas panjang sembari berjalan mendekatinya, "terserah." ucapnya yang berhenti sejenak disampingnya dan langsung keluar dari tempat itu. Karena tak dipedulikan, pria itu sontak menurunkan kursi itu sembari mengejar Aqira sebelum jauh dari pandangannya, "istriku tunggu aku." teriaknya dengan kencang, "ehh, dimana kamu istriku?" mengikuti Aqira hingga berakhir disebuah gang buntu namun tak menemukan seorangpun disana, "istriku kau dimana?" tanya dia untuk kedua kalinya, "gawat! kalau dia hilang, aku akan celaka." gumamnya yang ketakutan.
Ctak… sebuah kerikil kecil mengenai keningnya, "siapa!?" ucapnya dengan nada berat sembari meningkatkan kewaspadaannya. Aqira muncul dari balik sudut gelap di tempat itu sambil memakan apel, "siapa tuanmu?" tanya dia sembari mendekatinya.
Pria itu tak melontarkan sepatah katapun namun dia membuat pergerakan kecil seperti hendak melakukan sesuatu. Melihat seperti dia akan mengeluarkan senjata, Aqira dengan sigap menekan tangan pria itu, "aku benci diacuhkan." bisiknya dengan rendah.