Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Malam Yang Singkat



Sampai di depan kamar Wanda, para pelayan dan prajurit yang berjaga di luar kamar terbengong melihat Wanda di gendong oleh seorang pria yang adalah Yalan.


"salam kaisar Tang." ucap mereka yang berlutut memberi hormat.


"berdirilah, aku hanya mengantar tuan putri kalian." ucap Yalan yang hendak menurunkan Wanda.


"bisakah sampai kedalam, kakiku tidak bisa digerakkan." bisik Wanda didalam pelukan Yalan.


"apa aku boleh masuk?" tanya Yalan dengan sopan kepada mereka.


Mereka tertegun mendengar permintaan dari Yalan, "silahkan kaisar…" ucap salah seorang pelayan wanita yang membukakan pintu kamar untuk keduanya.


Didalam kamar…


"berapa banyak yang kau minum?" tanya Yalan yang berdiri disamping tempat tidur Wanda.


"tidak banyak, hanya satu botol saja." jawab Wanda dengan lugas.


"sebenarnya apa yang terjadi denganku!?" batinnya yang tidak bisa mengontrol setiap tindakannya seperti dikendalikan oleh seseorang.


"baiklah, kalau begitu aku akan pergi." ucap Yalan yang berbalik kearah pintu.


Wanda dengan cepat terduduk dengan menarik pelan ujung jubah Yalan, "kakak, apa benar itu kau?" ucapnya dengan pelan.


Yalan tidak bergerak ataupun menoleh kearah Wanda.


"apa kau sudah melupakanku?" tanya Wanda untuk kedua kalinya.


Mendengar lirih nada suara Wanda membuat hati Yalan merasa sakit.


"jangan katakan itu, aku masih Yalan untukmu." ucapnya dengan mengusap pelan rambut Wanda.


"berhenti bicara, dan cepat tidur, atau kau akan sakit." lanjutnya yang memapah Wanda untuk tidur.


"selamat malam." imbuhnya dengan mengusap pelan sudut kening kanan Wanda.


Diluar istana…


Aqira dan Jeni berjalan berdua menuju jalan rumah mereka masing-masing.


"racun apa yang dia tambahkan dalam minuman." gumam Jeni yang berjalan sedikit sempoyongan.


"bukan racun, tapi kau yang rakus." timpal Aqira yang harus memapah Jeni berjalan.


"apa aku bisa membantu?" tanya Jilixu yang berdiri di jalan seorang diri dengan pakaian rakyat biasa.


Aqira menatap hening Jilixu tanpa bergerak sedikitpun dari tempat ia berdiri.


"kau tidak percaya padaku?" tanya Jilixu untuk kedua kalinya.


Aqira melepas tangan Jeni yang melingkar di lehernya, "tidak, hanya saja takut merepotkanmu." jawabnya.


Setelah itu Jeni dipindahkan pada Jilixu, "baiklah, sampai jumpa." ucap Aqira yang meneruskan langkahnya menuju kediamannya.


"semoga dia sudah tidur." gumam Aqira yang berdoa didepan pintu rumahnya.


Tangannya baru saja menyentuh pintu, tapi seseorang tiba-tiba memanggilnya dari belakang.


"siapa kau?" tanya Aqira kepada sesosok pria yang ada dibelakangnya.


"hamba Leng Qi, pengawal pangeran keempat kemari untuk menjemput tabib Lin." jawab pria itu.


"selarut ini?" gumam Aqira berpikir, "baiklah, tunggu sebentar, aku akan memanggilnya." lanjutnya yang bergegas masuk kedalam rumahnya.


Sampai didalam ia langsung menuju kamar Lin Chen.


Tok…tok…tok…


"Chen? apa kau didalam?" tanya Aqira yang menunggu di luar pintu kamar Lin Chen.


Sudah menunggu selama lima menit tapi tak ada jawaban dari dalam, Aqira pun memutuskan untuk langsung menerobos masuk kedalam.


"tidak ada orang?" gumamnya yang melihat sekelilingnya.


Aqira sontak kembali ke kamarnya dengan terburu-buru. Sesuai dugaannya, selembar kertas ditinggalkan oleh Lin Chen untuk Aqira.


"aku harus kembali ke gunung, jagalah klinik beberapa hari ini." ucap Aqira yang membaca isi surat itu.


"huff… sepertinya aku harus lembur." gumamnya yang menghela nafas panjang.


Tak…tak…tak…


"salam pangeran." ucap Leng Qi kepada Xiao Yan yang duduk di tempat tidurnya.


Aqira masuk kedalam sementara Leng Qi berjaga diluar. Dia memulai pengobatan pada luka yang ada di kaki Xiao Yan.


Selama pengobatan, Xiao Yan sama sekali tidak mengetahui bahwa tabib yang ada di depannya adalah Aqira.


"kenapa tangan Fangze sedikit berbeda?" batin Xiao Yan yang merasakan telapak tangan Aqira yang menyentuh kakinya untuk mengobati lukanya.


Beberapa saat kemudian…


Aqira membereskan barang-barangnya kedalam kotak tasnya. Sebelum ia pergi Xiao Yan bertanya.


"kau bukan Fangze, siapa kau?"


Aqira menggendong tas kotak itu di pundaknya seraya menjawab, "kenapa? kau akan membunuhku?"


Mendengar suaranya saja sudah membuat Xiao Yan panik, dia bergegas turun dari tempat tidurnya.


"butuh sesuatu? jika tidak ada, aku akan pergi."


"tunggu!"


Xiao Yan hendak meraih tangan Aqira namun tidak sampai, "bisakah kau menetap lebih lama."


"kau bercanda?" sahut Aqira spontan.


"aku serius." timpal Xiao Yan dengan tegas.


"ti… baiklah." ucap Aqira.


"apa yang terjadi dengan lidahku? kenapa tidak terkendali?" batinnya yang bertanya-tanya.


Disisi lain, Jeni yang diantar Jilixu sangat rewel selama di perjalanan.


"lepaskan aku! kenapa kau menggendongku?!" rontah Jeni yang memukul dada Jilixu.


Jilixu berhenti didepan pintu kayu yang terukir marga Mou pada papan nama di atas pintu. Kemudian ia menurunkan Jeni seraya mengetuk pintu.


"tidak ada yang… a, kan mem, bukakan pintu." ucap Jeni yang mendorong pintu dengan dipegangi oleh Jilixu.


"kenapa tidak bilang dari tadi?" gumam Jilixu.


"hati-hati!" ucapnya menahan Jeni yang hampir terjatuh karena tidak bisa menyeimbangkan dirinya.


"terimakasih, aku bisa sendiri." sahut Jeni yang mendorong perlahan Jilixu seraya masuk kedalam halaman rumahnya.


"tolong… tutupkan pintunya." lanjutnya seraya melangkah masuk kedalam rumah.


BRAKK…


Jilixu seperti seorang yang diabaikan dan ditinggalkan sendiri ditemani oleh hembusan angin malam.


Baru juga hendak menutup pintu tadi, tiba-tiba suara tabrakan yang nyaring datang dari dalam.


BRUAKK… KLONTANG…


Jilixu bergegas masuk kedalam untuk memeriksa keadaan Jeni.


"apa yang… terjadi?" dia yang panik pun terdiam melihat Jeni duduk di lantai dengan bajunya yang basah terkena tumpahan air se baskom.


"shhh… kenapa kepalaku pusing?" batin Jeni yang memegangi kepalanya.


Jilixu melangkah mendekat seraya mengulurkan tangannya pada Jeni, "ulurkan tanganmu."


Mendengar suara asing itu membuat Jeni waspada sampai mengeluarkan pisau kecil di sepatunya, "siapa kau?" ucapnya yang menodongkan pisau itu kearah Jilixu dengan pandangan matanya yang masih kabur.


Jilixu mengangkat sudut bibirnya dan menjawab, "ketahananmu hebat juga, satu baskom air bisa menyadarkanmu."


"jawab!" ucap Jeni untuk kedua kalinya.


Jilixu mengambil perlahan pisau dari tangan Jeni seraya membisikkan sesuatu di telinga Jeni, "lama tidak bertemu Jian." bisiknya dengan pelan.


"oh… itu kau." respon yang diberikan oleh Jeni sangatlah tenang dan pandangan matanya perlahan-lahan pulih serta bisa melihat wajah Jilixu.


"maaf harus melihat kekacauan ini." lanjutnya seraya keluar dari genangan air yang ia pijak itu.


Dia mengajak Jilixu ke ruang tamu yang berada di dua kamar ke kanan dari tempat tadi.


"jika ada masalah penting, kau tunggu disini saja, jika tidak, kau bisa langsung pergi." pesannya kepada Jilixu yang langsung kembali ke kamarnya tadi.


Setengah jam telah berlalu, Jeni baru keluar dari kamarnya tadi. Dia melihat lampu di ruang tamu masih menyala dan memutuskan untuk kesana.


"kelihatannya sangat penting." ucap Jeni dengan santai di pintu.