
Aqira berdiri diantara selamat atau terluka. Jika orang itu menariknya maka Aqira akan selamat, tapi jika dia melepaskannya maka Aqira akan terjatuh dari lantai dua. Tentu saja orang itu memilih untuk menariknya, namun berbeda dengan pikiran Aqira, dia lebih memilih untuk melepas genggaman orang itu.
Ketika dia jatuh, dia memejamkan matanya dan melepas semua pengawasannya. Bruk… "Qian-qian!" teriak orang itu sembari menarik Aqira kedalam pelukannya.
Satu jam telah berlalu dan Aqira masih belum siuman, sementara orang itu mengurusi orang-orang dihadapannya. "ratakan saja tempat ini." ucapnya dengan dingin.
Pemilik tempat itu pun berlutut memohon, "maafkan kelalaian kami tuan, kami sudah menutup kamar ini beberapa hari yang lalu karena hal yang sama, kami tidak tahu kalau ada yang membukanya." ucapnya dengan gemetaran.
Brak… sesuatu terlempar ke kedalam.
"tuan, kami sudah menemukan orang yang memberi tempat ini." ucap seorang pendekar berjubah hitam yang melemparkan seorang laki-laki paru baya dengan pakaian compang camping.
Orang itu mendekati pria paruh baya itu, "oh, pasti kau sedang bersenang-senang kan?" ucapnya yang mendongakkan wajah pria itu, "karena sudah selesai, sekarang waktumu untuk membayarnya." sambungnya dengan tatapan membunuh.
Pria paruh baya itu langsung ketakutan dan langsung bersujud dikakinya, "tidak tuan, kumohon ampuni hamba." teriaknya yang histeris.
Dan karena inilah yang membuat Aqira terbangun dari pingsannya, "kenapa berisik sekali?" ucapnya sembari duduk.
Aura pekat membunuh orang itu sontak berubah drastis dan menendang pria paruh baya yang memegang kakinya sembari bergegas meraih Aqira dalam pelukannya, "kau tidak apa-apa kan?" ucapnya yang memeluknya dengan gemetaran.
Aqira melepas pelukan itu dengan sekuat tenaga, "si…siapa kamu?!" ucapnya sembari mendorong orang itu perlahan.
Disaat yang bersamaan, rambut yang menutupi wajah orang itu tertiup angin. Wajah tampan dengan kelegaannya membuat Aqira terpaku untuk sesaat.
"dia… He Zi!" batin Aqira sambil menatap wajah orang itu.
"aku He Zi! kau tidak ingat?" ucap orang itu yang menunjuk dirinya sendiri.
Aqira memegang kepalanya sembari beranjak turun dari tempat tidur, "aku tidak kenal kau! menjauh dariku!" ucapnya yang bergegas keluar dari kamar itu.
Aqira yang tergesa-gesa keluar sampai lupa untuk mengenakan pakaian dengan lengkap. Saat turun dari lantai dua, sorot mata para pria yang berada disana terarah kepadanya.
"kenapa semua orang menatapku? dan… kenapa pakaian wanita disini sangat terbuka?" gumamnya yang terus berjalan menuju pintu keluar sambil melirik kanan kirinya sekilas.
"hai nona, berapa hargamu?" ucap seorang pria yang tiba-tiba menghadangnya tepat didepannya.
Aqira mundur selangkah sembari mendongak kearahnya, "apa maksudmu!?" bentaknya dengan wajah marah.
Dengan tidak sabaran pria itu memegang pundak Aqira dan berkata, "jangan sombong nona, berapapun hargamu pasti kubayar." ucapnya sambil menyeringai. "menjauh dariku!" teriak Aqira sembari mendorong pria itu dengan sekuat tenaga.
Krekk… bagian yang dipegang oleh pria itu sobek setelah Aqira mendorongnya.
Whussh…cratt… tepat setelah itu sebuah pedang tajam memotong bagian tangan pria yang memegang sobekan baju Aqira.
"agghhhhhh… tanganku!!!!!!!" teriaknya yang histeris. Melihat darah yang muncrat hingga mengenai dirinya, Aqira langsung mematung, "da…rah." ucapnya dengan santai namun tatapannya kosong. He Zi datang menghampiri Aqira yang masih tidak bergerak, "kalian bereskan yang lain." ucapnya sebelum menggendong Aqira dan membawanya pergi keluar dari tempat itu.
Keesokan harinya, Mansion Jenderal Ye.
Tian ai menoleh kearah ketiganya, "hemm?" sembari mengangkat alisnya. Ketiganya sontak menatap satu sama lain, "tidak!" ucap mereka secara serempak sambil menggelengkan kepalanya.
"ku serahkan padamu." kode dari Tian ai untuk Jeni dengan menggerakkan jarinya. Jeni mengangguk sembari keluar dari kamar Tian ai, "maaf, nona tidak bisa menerima tamu." ucapnya dengan tegas.
"hei, kau siapa!? berani berbicara begitu kepada nonaku!" bentak pelayan yang datang bersama nona kedua.
"Yuzi, tenanglah." ucap nona kedua yang menepuk pundak pelayannya itu. "saya Ye Mingyan ai ingin bertemu dengan kakak tertua." ucapnya yang bersikap formal.
Ye Mingyan ai, adalah putri pertama dari paman ketiga Tian ai. Dia sarjana yang baru saja lulus, dia unggul dalam hal taktik dibandingkan fisik. Dia adalah Phoniex kecil yang sangat dibanggakan oleh nenek Tian ai, semua orang sangat menghormatinya tapi tidak untuk Tian ai, mereka berdua sering berselisih untuk setiap hal karena pemikiran yang saling bertolak belakang.
"maaf nona, tapi nona kami sedang tidak menerima tamu." jelas Jeni untuk kedua kalinya.
Tap…tap…tap… suara langkah kaki terdengar dari dalam kamar Tian ai. "maafkan aku tidak mendengar mu datang adik. Hoam… aku baru saja bangun." ucap Tian ai melangkah keluar, "kenapa kalian tidak membangunkanku?" sambungnya sembari menoleh kearah ketiganya.
Qingqing maju selangkah dan menjawab, "maaf nona, sesuai perintah dari putra mahkota, kami tidak akan menggangu istirahatmu." ucapnya dengan menundukkan kepalanya.
Tian ai menghela nafas seraya menepuk pundak Qingqing, "baiklah, aku harus berterimakasih kepada putra mahkota untuk hal ini." ucapnya dengan nada menyindir.
Raut wajah Mingyan ai sontak menunjukkan ekspresi tak senang. Wanda menatap Mingyan ai tanpa ekspresi, "pekat sekali." batinnya.
"baiklah adik, kalau begitu apa yang membuatmu kemari?" tanya Tian ai sembari menatap wajah Mingyan ai.
"ah nanti saja kak, kulihat kau sangat lelah setelah perjalanan dari istana, aku akan datang lagi nanti, pamit undur diri." ucap Mingyan ai sembari bergegas pergi dari sana.
Krik…krik… Tian ai melirik kearah ketiga pelayannya itu, dan mereka saling menatap satu sama lain, "puffff, kau lihat wajahnya yang pucat? itu lucu sekali." ucap Tian ai dengan penuh kegembiraan. Wanda dan Jeni menghela nafas secara bersamaan, "layak mendapat piala oscar." batin keduanya sambil tersenyum untuk satu sama lain.
Tian ai mendekati Wanda sembari menepuk pundak Wanda, "setelah yoga, selanjutnya apa?" bisiknya dengan tatapan polos.
"berkeliling untuk merilekskan pikiran." jawab Wanda dengan santai.
Tian ai memutar badannya kearah halaman, "kalau begitu, ay…"
"ganti baju dulu, nona." ucap Qingqing yang memotong kalimat Tian ai sembari menariknya masuk kedalam kamar.
Beberapa saat kemudian…
"seleramu tidak buruk, bahkan sangat pas di badanku, bagaimana kau melakukannya?" tanya Tian ai sembari mendekatkan wajahnya kearah Qingqing. Qingqing bercucuran keringat dingin sambil mencari alasan, "tidak mungkin aku bilang kak Qian yang mengatakannya padaku." batinnya yang berpikir.
"kenapa kau tak menjawab?" ucap Tian ai yang terus mendesaknya.
"aiyo, bukankah ini kakakmu Tian ai, Mian?" tanya seorang wanita bangsawan yang kebetulan melintas didekat sana.
Tian ai melirik kearah sumber suara, "aku akan tanya lagi nanti, sekarang aku akan bersenang-senang dulu dengan mereka." ucapnya sembari mengubah langkahnya menuju kearah mereka.
Jeni melirik kearah Wanda, "lagi?" memberi isyarat mata. "biarkan saja." jawab Wanda dengan memejamkan matanya beberapa detik.