Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Kotak Ajaib?



"aku lelah, aku ingin istirahat." ucap Jeni memegang punuk lehernya. "hoam, aku juga." Aqira menutup mulutnya yang menguap. "kalau begitu, kembali ke tenda kita." ucap Pangeran Yan dan Jilixu bersamaan. Jeni dan Aqira sontak menjawab, "siapa yang ingin satu tenda denganmu?" ucapnya dengan wajah datar. "tapi disini hanya ada empat tenda, salah satunya milik kaisar. Tidak mungkin kalian akan satu tenda dengannya kan?" ucap Jilixu menjelaskan.


"jika iya bagaimana?" ucap Wanda yang berjalan menuju tirai tenda. Yalan yang terkejut spontan meraih tangan Wanda, "apa kau serius?" ucapnya sembari membalikkan badan Wanda. Wanda tersenyum sembari menyentil kening Yalan, "aku hanya bercanda." ucapnya dengan santai.


Tak lama kemudian, Chui-chui datang menghampiri Wanda, "nona, tendanya sudah siap." ucapnya dengan nada pelan. Wanda menjawabnya dengan mengacungkan jempol dan mengedipkan mata kanannya. Kemudian ia mendekati kedua temannya, "sudah siap, ikut denganku." ucapnya sembari berjalan melintas di sebelahnya. Tanpa menjawabnya, keduanya langsung berjalan membuntuti Wanda dari belakang menuju tenda mereka.


Diluar tenda


Seorang penjaga dan pelayan wanita nampak sedang menunggu diluar tenda. Keduanya langsung menghampiri Aqira yang berjalan kearah tenda itu, "tuan, akhirnya aku menemukanmu." ucap pengawal itu memberikan hormat. Jeni masuk kedalam tenda terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Wanda, "bawa mereka masuk." ucapnya yang melintas dibelakangnya. "kalian ikut denganku." ucap Aqira sembari berjalan masuk kedalam tenda.


"apa kita diabaikan?" ucap Yalan yang menatap Wanda dari tendanya. Ketiganya langsung berpelukan untuk menyeimbangkan suasana yang ada.


"ada apa?" ucap Aqira sembari melepas rompinya. Pengawal itu ragu-ragu untuk mengatakannya sambil menatap Wanda dan Jeni yang berada disana. "katakan saja, mereka rekanku." ucap Aqira sembari duduk di kursi. "nona, baru-baru ini nona Yaran datang mencarimu di tempat rahasia, dia menitipkan ini untukmu." ucap prajurit itu sembari memberikan selembar kertas kepadanya. Disaat yang bersamaan, Wanda dan Jeni membuat keributan agar tak ada yang menguping percakapan Aqira dan pengawalnya itu. "lihat ini, pasti cocok di badanmu." ucap Jeni menunjukkan pakaian wanita kepada Aqira. "kau ingin aku memakainya?" sahut Aqira dengan wajah datar. Jeni memutar bola matanya, "ayolah, kapan lagi." ucapnya sembari menarik tangan Aqira untuk berdiri. Pengawal dan pelayan Aqira terdiam mendengar hal itu. "Chui-chui, bawa kotak ajaibku kemari." ucap Wanda memberikan kode kepadanya. "baik, nona." sahut Chui-chui berjalan menuju tenda Yalan.


Didalam tenda Yalan, ketiga pria ini saling merenungi diri mereka sendiri. Suasana hening terpecahkan saat Chui-chui meminta izin untuk mengambil barang Wanda yang tertinggal di tendanya. "salam untuk para bangsawan." ucap Chui-chui dari luar tenda. Yalan yang mendengarnya sontak bergegas keluar dari tendanya, "uhuk, ada apa?" ucapnya yang mengubah sikapnya menjadi serius. "nona meminta saya untuk mengambil kotaknya yang tertinggal." sahut Chui-chui.


"kotak yang mana?" ucap Yalan masuk kedalam tendanya. "kotak kayu yang memiliki ukiran bunga diatasnya." sahut Chui-chui. "maksudmu ini?" ucap Yalan membawa kotak itu di tangannya. Chui-chui melirik sekilas kearah kotak itu, "benar tuan."


"ngomong-ngomong mereka sedang apa? dan apa isi kotak ini?" ucap Yalan sembari memberikan kotak itu kepada Chui-chui. Chui-chui menjawabnya sembari menerima kotak tersebut "hamba tidak tahu apa yang akan dilakukan nona, tapi isi kotak ini adalah…"


"Wang Yolan!" "Chu Qian!" "Mou Jian!" ketiga pria ini bersamaan menuju tenda yang dibangun untuk ketiga gadis tadi.


Yalan bersama kedua temannya tiba-tiba menerobos masuk kedalam tenda Wanda. Wanda berpaling ke belakang sembari berkata, "ada apa?" ucapnya dengan nada dingin. "apa kalian hanya diam setelah ditanya?" ucap Jeni mengambil kotak dari tangan Chui-chui. "dimana Chu Qian?" ucap Pangeran Yan dengan wajah serius.


bruk…


"siapa disana!?" ucap seorang pria yang melihat sekelilingnya. Aqira bersembunyi didalam semak-semak agar tidak ketahuan, "apa kau ketahuan?" bisik Wanda yang muncul disampingnya. Aqira seketika terdiam karena terkejut. "apa mereka belum selesai?" ucap Jeni yang muncul tiba-tiba di sampingnya. Aqira menghela nafas panjang, "diam! dan lihat sendiri." ucapnya dengan nada pelan sambil menutup mulut keduanya.


"mereka sedang apa?" ucap Jilixu yang memantau dari kejauhan. Yalan sontak menghampiri ketiganya, "jika ingin tahu, harus bergabung." ucapnya yang ikut bersembunyi didalam semak-semak. Jilixu melirik kearah Pangeran Yan dan keduanya saling memberi kode satu sama lain.


"apa kita bisa bergabung?" bisik Pangeran Yan di telinga Aqira. "apa ini kebiasaanmu?" ucap Jilixu mendekatkan wajahnya kearah Jeni. "sejak kapan kau menjadi seperti ini?" bisik Yalan menatap wajah Wanda. Ketiga gadis sontak memutar wajah ketiga pria disampingnya itu, "diam atau pergi." ucapnya yang kembali fokus melihat setiap kejadian.


Akhirnya ketiga couple ini menjadi penguntit orang yang sedang berkencan di dalam hutan. Sang pria merasakan keromantisan di setiap kejadian, sedang para gadis sibuk mengintai keadaan sekitar agar tidak ada yang merusak kencan mereka.


"huff, cukup melelahkan." ucap Aqira yang merenggangkan ototnya. Jeni berjalan menuju tempat tidur, "hoam, aku sampai mengantuk." gumamnya yang tengkurap di tempat tidur. "baiklah, karena ini sudah malam, sebaiknya kalian segera kembali atau kalian akan sakit, selamat malam." ucap Wanda berjalan masuk kedalam tendanya sembari menutup tirainya dan mematikan lampu lilin.


woshh… angin malam yang dingin berhembus kencang, dan ketiga pria ini telah sepenuhnya diabaikan oleh ketiga gadis yang kelelahan.


"kita benar-benar diabaikan?" ucap Jilixu menatap yang lain. Ketiganya sontak berpelukan satu sama lain untuk berbagi simpati.


Keesokan harinya, semuanya berkumpul untuk mendengar pengumuman pemenang dari perburuan musim panas. Setelah itu, mereka kembali ke ibu kota untuk menghadiri jamuan untuk merayakannya di istana.


Perjamuan perayaan perburuan musim panas, dihadiri oleh para bangsawan yang diundang oleh sang kaisar sendiri. Perjamuan hampir dimulai, namun ketiga gadis belum menunjukkan batang hidungnya. Hingga membuat ketiga pria itu bagai raga tanpa nyawa. "hahaha, suatu kehormatan Kaisar Jilixu bisa datang kemari." ucap Kaisar kepada Jilixu. Jilixu tersenyum dan berkata, "jangan seperti itu paman, bagaimanapun identitasku. Aku tetaplah A Li, teman A Yan." sahutnya dengan menunjukkan sikap sang Kaisar. "hahaha, baiklah, kalian nikmati saja pestanya." ucap Kaisar sembari menyanjung segelas anggur keatas.


Di perjamuan para wanita bangsawan ingin membangun koneksi dengan ketiga pria muda berpengaruh ini, dari putri jenderal hingga putri pejabat lainnya, semuanya mencoba yang terbaik untuk mendekati mereka. Sementara di sisi lain, ketiga gadis mafia keluar dari kota untuk mencari informasi mengenai token yang mereka temukan tempo hari.


"bagaimana? sudah terkonfirmasi?" Jeni memberi kode kepada Aqira. Aqira melirik sekilas kearah yang berlawanan, "sudah" memberi isyarat OK dengan jarinya.


Wanda memasang kain di wajahnya, "kalau begitu, selesaikan sekarang!" ucapnya sembari mengambil ancang-ancang. Keduanya berjalan kearah yang berlawanan satu sama lain, "ide bagus." ucap keduanya bersamaan