Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Pertunjukan drama



Meskipun mereka bertiga bertemu juga tidak melihat jelas wajah masing-masing karena tertutup oleh penutup wajah.


"apa yang dia lakukan?!" geram Mo Chen yang melihat Wanda di tarik dalam pusat perhatian orang-orang.


"ini khusus untuk ibu suri." ucap pria itu memberi hormat pada ibu suri.


Tang…tang…tang… tanpa basa-basi pertunjukan pun dimulai. Pria itu menggerakkan ketiga gadis ini seperti boneka yang dikontrol.


Pertunjukan itu menceritakan tentang kehidupan ibu suri saat masih muda hingga sekarang. Bahkan di pertunjukan itu juga menampilkan jati diri ibu yang sebenarnya sebagai seorang pemimpin pasukan tersembunyi.


Aqira yang berperan sebagai Bixi, seorang jenderal pasukan tersembunyi, rela mengorbankan nyawanya demi pasukan beserta sang pimpinan, dan demi peran ini dia sampai mengotori pakaian putihnya dengan noda merah seperti darah.


Jeni yang berperan sebagai Bai Wuxia, kakak ibu suri yang menggantikan ibu suri dihukum penggal oleh penghianat, leher serta baju bulunya harus terkotori oleh noda merah.


Sementara Wanda yang memegang peran penting sebagai ibu suri, Bai Wuxie. Dia dengan sekuat tenaga menampilkan karakter tangguh ibu suri yang menghadapi persaingan istana harem, sampai ada adegan dimana dia bertarung dengan ratu terdahulu yang meninggalkan bekas di sudut alisnya.


Para penonton yang melihat sedikit takut namun malah bertambah ramai karena penasaran dengan seluruh kisah yang ada.


Setelah kedua orang kepercayaan ibu suri sudah tidak ada, Wanda masuk kedalam sesi dimana ia mengeluarkan sifat aslinya sebagai tiran yang meratakan pemberontak dengan bantuan suaminya, sang kaisar terdahulu yang diperankan oleh pria yang membuat drama ini.


"hidup Kaisar agung."


"hidup permaisuri."


Suara sorak-sorakan itu muncul di akhir cerita saat Wanda dan pria itu berdiri berdampingan setelah memenangkan pertarungan. Kemudian para pemeran drama dan empat pemain utama ini berdiri secara berdampingan.


"pertunjukan yang hebat, bolehkah kalian memperkenalkan diri?" ucap ibu suri kepada ketiga gadis yang menjadi pemeran utama drama tadi.


Aqira melepas cadarnya seraya menjawab, "Chu Qian dari klinik ChuLin." dengan sikap berwibawa seorang tabib.


Pandangan mata Xiao Yan yang semula hanya fokus pada gelas ditangannya berubah kearah tengah ruangan.


Jeni menundukkan kepalanya seraya melepas cadarnya, "Mou Jian dari paviliun bulan." ucapnya dengan salam seorang wanita.


Kaki Jilixu yang hendak berdiri pun tertunda dan kembali duduk seraya melihat ke tengah ruangan.


Wanda mengangkat sudut bibirnya sebelum membuka cadar yang menutupi wajahnya seraya mendongak kearah ibu suri berada, "Mo Qingyin dari bangsa barat memberi hormat kepada semuanya." ucapnya yang memberi hormat dengan gaya wanita serta melepas cadarnya.


Wajah ibu suri termenung mendengar nama yang terucap serta wajah dari Wanda, sementara Yalan langsung menengadah kearahnya karena suara familiar yang keluar dari mulutnya.


Ibu suri dan Kaisar Xiao bergegas turun dari kursinya seraya menghampiri Wanda, sedangkan Yalan dengan sekuat tenaga menenangkan dirinya agar tetap duduk.


"cucuku." ibu suri langsung memeluk erat Wanda.


Setelah ibu suri melepas pelukannya, Kaisar Xiao menyentuh lembut rambut Wanda dengan mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes.


"apa ada yang salah?" batin Wanda yang bingung dengan tingkah mereka.


"lanjutnya pestanya." ucap Kaisar Xiao yang kembali ke kursinya.


Pesta yang tertunda sejenak ini dilanjutkan kembali sampai malam hari. Semuanya kembali ke kediaman dengan senang menikmati pesta yang meriah itu.


Sementara di pojok sudut istana, ketiga gadis ini berkumpul disana. Wanda yang selalu datang pertama kini menjadi anggota yang datang paling akhir.


"Yo… pemilik klinik ChuLin sudah datang." ejek Jeni yang melipat tangannya sambil bersandar di batang pohon.


"ada apa pemilik paviliun bulan?" sahut Aqira yang membalasnya.


"berapa lama kau disini?" lanjutnya yang memberikan sekantung jajanan kepada Jeni.


Jeni mengambil kantung itu seraya menjawab, "belum lama, dan dimana si tepat waktu ini?"


"berhenti membicarakanku." sahut Wanda yang tiba-tiba muncul dari sisi lain pohon.


"ambil ini." lanjutnya yang berjalan mendekati keduanya sambil memberikan masing-masing sebotol kendi minuman.


"kenapa? apa kau tidak meminumnya setelah menjadi tabib?" ucap Wanda yang bertanya balik.


"aku hanya penasaran apakah rasanya enak." jawab Aqira seraya mengambil botol jatahnya.


Ketiganya terdiam sejenak sambil menatap satu sama lain.


"pffhh… ahaha…" mereka tertawa lepas melihat tingkah masing-masing.


"kau tidak berubah." ucap Wanda yang mengejek Aqira.


"begitu juga denganmu." sahut Aqira.


"sudah-sudah, sekarang mari kita duduk dan nikmati kebersamaan yang singkat ini." timpal Jeni seraya duduk di kain besar yang ia jadikan alas duduk.


"melihat keadaan sekarang, sepertinya kalian hidup dengan tidak nyaman." ucap Aqira yang melihat penampilan kedua temannya.


"tebakanmu memang benar, aku harus melayani Xiao Xilin si gadis pembuat onar itu." sahut Jeni sambil memakan jajanan yang ada di kantung tadi.


"kau sendiri?" tanya balik Jeni kepada Aqira.


"sangat damai dengan aromaterapi dan bahan herbal yang menyelimuti diriku, tapi akhir-akhir ini aku menjadi bidan dadakan." jawab Aqira menjelaskan.


"sungguh? kapan-kapan ajak aku juga." timpal Jeni dengan bersemangat.


"jika kau mau, dan ya… bagaimana denganmu?" pertanyaan itu berpindah pada Wanda yang sedang menikmati makanannya.


Wanda menaruh kantung jajanannya dengan menghela nafas panjang, "sangat membosankan."


"memangnya kenapa?" tanya Jeni dengan penasaran sambil meminum air yang diberi oleh Wanda tadi.


"banyak sekali rahasia dibalik rahasia yang tak sengaja kutemukan." jawab Wanda.


"dan itu membuatku kesal setelah mengetahui rahasia-rahasia itu." lanjutnya.


"sepertinya itu berhubungan dengan nilai sejarahnya." bisik Aqira kepada Jeni.


"haish… itulah yang terjadi jika membolos saat jam sejarah." timpal Jeni yang menambahkan.


Semakin lama mereka berbincang sampai tak terasa sudah larut malam.


"baiklah, sampai jumpa besok." ucap Wanda yang berjalan kembali menuju kamarnya.


"aku harus kembali, atau dia akan menyuruhku menyalin kitab lagi." gumamnya yang berjalan dengan tergesa-gesa.


Tapi tiba-tiba angin malam berhembus sampai membuat pakaian Wanda melilit tubuhnya hingga tak sengaja menginjak ujung bajunya sendiri.


"aaa…"


"kau tidak apa-apa?" tanya seorang pria yang wajahnya tertutup kegelapan sambil memegangi Wanda yang hampir terjatuh dengan menahan perutnya.


Wanda mendorong perlahan pria itu seraya menyeimbangkan dirinya berdiri, tapi disaat yang bersamaan dia malah merasa mual, dengan secepatnya ia memutar badannya membelakangi pria tadi


"ugh… uwekk…"


Wanda berjongkok agar muntahannya tidak mengotori bajunya tapi malah membuat kakinya lemas.


"apa yang terjadi? kenapa kakiku tidak bertenaga?" batinnya yang bertanya-tanya.


Dengan berpegangan pada pilar istana dia memaksakan dirinya untuk berdiri.


"ada masalah apalagi tubuh ini." batinnya yang sedikit kesal.


Saat ia melangkahkan kakinya untuk berjalan, tubuhnya langsung jatuh tak berdaya. Pria tadi pun harus menggendong Wanda kembali ke kamarnya.