Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Jangan Memprovokasi!



Wanda dan Jeni menoleh kearah Aqira, "kau saja yang urus." memberikan kode mata. Aqira menjawab mereka dengan menyipitkan matanya.


Fengyan memulai serangan terlebih dahulu, "memang cantik… tapi seorang penari." bisiknya ditelinga Jeni. Xilin memberikan sebuah koin emas kepada Wanda, "ambil ini dan pergilah, kau tidak cocok untuk jenderal Yalan." ucapnya dengan nada menggertak. Fenfen maju seraya memberikan pakaian pelayan dan mengenakannya pada Aqira, "hemm, lebih cocok menjadi budakku." ucapnya dengan tersenyum sinis.


Beberapa saat kemudian, ketiga gadis bangsawan itu sudah puas mencaci maki mereka bertiga. "kau mengerti? sekarang pergilah!" bentak Fengyan kepada mereka bertiga. Ketiganya melangkah hendak meninggalkan tempat itu, namun para pelayan mereka menghalanginya. "beri mereka pelajaran!" ucap Xilin memberikan perintah. Wanda sontak berdiri di depan Aqira dan Jeni, "aku akan mengurusnya." ucapnya sembari mempererat tali bajunya. "mereka ku serahkan pada kalian." sambungnya melirik sekilas ke belakang. Jeni memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat seraya berkata, "kau tenang saja." ucapnya sembari melangkah mendekati wanita bangsawan itu. "karena sudah begini, tuntaskan saja." sambungnya dengan tatapan membunuh.


Plak…plak…plak… "huff" Wanda meniup tangannya yang kemerahan. "monster! dia monster! cepat pergi dari sini!" ucap para pelayan yang berlarian meninggalkan tempat itu. Aqira mendekati ketiga wanita bangsawan seraya memberikan kotak kepada Jeni, "model apa yang kau mau?" ucap Jeni sembari menerima kotak tersebut.


"terserah, kecuali dia, aku akan mengurusnya sendiri." ucap Aqira sembari menarik lengan Fenfen.


Wanda membalikkan badannya dan berkata, "hei, apa yang kalian lakukan? kenapa mereka tidur?" ucapnya sembari melangkah mendekat.


Jeni sontak melemparkan tubuh Xilin kepadanya, "bagianmu." ucapnya sembari menarik paksa Wang Fengyan.


Wanda spontan menangkapnya dengan cekatan, "hei, hati-hati." ucapnya dengan wajah serius, "kalau jadi jelek bagaimana?" sambungnya dengan wajah nakalnya.


Ketiganya memulai hal usil mereka dengan mendandani wajah ketiga gadis bangsawan ini dengan kebiasaan mereka. Setelah itu mereka mengganti pakaian gadis bangsawan itu dengan pakaian minim sekaligus mengatur posisi duduk mereka. Kemudian setelah itu mereka meninggalkan tempat itu dan membuat suara riuh hingga membuat bangsawan yang lewat datang untuk melihat. Para bangsawan yang melihat mulai bertukar gosip satu sama lain. Dan yang paling memuaskan adalah saat halaman dipadati oleh mereka hingga menarik perhatian Kaisar untuk datang melihat. Tepat pada saat Kaisar datang, Jeni membaur dalam kerumunan dan membangunkan mereka bertiga tanpa diketahui orang lain.


"ugh, kenapa berisik sekali?" ucap Fengyan yang baru membuka matanya. "pelayan! jangan berisik!" bentak Xilin sambil menggosok mata kirinya. Ruo Fenfen meregangkan tubuhnya dan tak sengaja membuat bajunya sobek. krekk… "bunyi apa itu?" ucapnya sembari memaksakan membuka matanya. Saat ketiganya sudah sadar sepenuhnya, mereka dengan kompak berteriak, "agghhhhh"


"apa yang terjadi?!" ucap Fengyan menutupi dadanya. "siapa yang melakukan ini?!" ucap Xilin mengambil brokatnya yang dilantai. "Xiao Xilin!" ucap Kaisar dengan nada dingin. "aa…ayah ini tidak seperti yang ayah lihat." ucap Xilin yang merengek di bawah Kaki Kaisar. "pelayan! bawa putri kesebelas dan kurung dia!" ucap Kaisar dengan nada tegas. "dan jangan biarkan dia keluar tanpa seizin ku!" sambungnya sembari berbalik meninggalkannya. Ruo Fenfen tidak melontarkan sepatah katapun dan terdiam sambil menundukkan kepalanya.


Ketiga gadis ini kembali setelah melihat pertunjukan. "sangat menyenangkan." ucap Jeni dengan ekspresi wajah yang bahagia. Wanda merangkul leher keduanya dan berkata, "bagaimana kalau berpesta?" ucapnya dengan nada pelan. Aqira mengerutkan keningnya dengan wajah serius, "boleh" ucapnya mengubah ekspresinya dan tersenyum nakal.


Srekk… Tepat di halaman depan istana barat terdengar suara aneh diatas pohon, Aqira melirik sekilas kearah pohon itu dan berkata, "masih tidak keluar?" ucapnya sembari melemparkan belatihnya kesana.


woshh… bayangan hitam keluar dari sana dan menuju tempat mereka. Ketiga gadis langsung meningkatkan kewaspadaannya sembari mengeluarkan senjata mereka. Terlihat ketiga bayangan mendekati masing-masing dari mereka. Dengan kompaknya, ketiga gadis memutar badannya kebelakang sembari menodongkan senjata mereka. Bayangan di dekat Jeni menangkis senjatanya dan menerkamnya dari belakang. Bayangan di dekat Aqira menangkap senjatanya dan membalikkan serangan. Sedangkan bayangan di dekat Wanda menghindar dari serangan itu dan menjatuhkan senjatanya.


Jeni yang jengkel menginjak kaki orang tersebut dengan keras, "shh" terdengar rintihan pelan dari orang itu.


Aqira memasang mata tajamnya sembari menjulurkan tangannya dengan cepat dan mencekiknya, "uhuk" terdengar suara tersentak.


Sedangkan Wanda memejamkan matanya seraya mendengar langkah kaki orang itu, "pas." gumamnya sembari menjungkirkan balikkan tubuhnya dan menendang wajahnya. "aduh!" ucap orang itu yang terpental mundur.


Istana Timur, kamar ketiga gadis.


"shh" suara ketiga pria yang merintih kesakitan. "tahan sedikit." ucap Jeni sembari mengoleskan obat pada kaki Jilixu.


"apa masih sakit?" ucap Aqira melihat leher Pangeran Yan dengan wajah bersalah. "tidak." sahut Pangeran Yan yang menatap wajah Aqira.


Saat asyik berbincang Jeni melihat seseorang sedang membidikkan panah kearah Jilixu, "awas!" ucapnya yang menarik tubuh Jilixu ke samping. brukk… "shhh…" rintih Jeni mengeryitkan keningnya.


Wanda sontak berdiri dan bergegas mengejarnya. Sementara Aqira mengambil anak panah itu sembari mengambil kertas kecil yang terikat disana, "jangan lupa perjanjian kita, Chen" ucapnya yang membaca isi pesannya.


Yalan terkejut dan spontan berdiri, "gawat! dia dalam bahaya!" ucapnya yang hendak mengejarnya.


kriek… terdengar suara pintu dibuka perlahan, terlihat Wanda berdiri di depan pintu dengan baju yang berlumuran noda merah. Ekspresi Yalan berubah menjadi tegang dan langsung menghampirinya, "kau…kau…" ucapnya dengan penuh kekhawatiran.


Wanda menghela nafas seraya menarik tubuh Yalan dalam dekapannya, "jangan menghalangi jalan." ucapnya sembari melangkah selangkah ke kiri dan melemparkan pemanah itu kedalam.


bruk… "giliran kalian." ucap Wanda sembari melangkah masuk sambil memapah Yalan ke tempat duduk. "patuh dan jangan berdiri, aku akan segera kembali." sambungnya sembari berjalan menuju ruang ganti. Setelah mengganti pakaiannya, Wanda melanjutkan mengobati kening Yalan yang berdarah.


"kak, jangan banyak tegang untuk saat ini, atau lukanya bisa terbuka lagi." ucap Wanda sembari meniup pelan kening Yalan. "nah selesai, kalau begitu kakak bisa kembali." sambungnya sembari membalikkan tubuhnya. Tiba-tiba Yalan memeluknya dari belakang sambil duduk, "kau pasti membenciku karena tidak bisa melindungimu." ucapnya yang menyembunyikan wajahnya di punggung Wanda.


Wanda menaruh obat ditangannya diatas meja sembari membalikkan badannya, "apa yang kau katakan? lihat, apa aku terlihat membencimu?" ucapnya seraya mendongakkan wajah Yalan.


"apa bisa kita mulai?" ucap Aqira yang menatap Wanda. Wanda mengangguk perlahan dan menjawab, "mulai saja." ucapnya sembari melepaskan pelukan Yalan.


"menurut apa yang dia katakan (pemanah) itu, jelas dia adalah orang utusan Mo Chen, pangeran bangsa barat. Dan menurut surat tadi, kalian bertiga memiliki perjanjian dengannya. Pertanyaanku, apa perjanjian kalian?" ucap Jeni menjelaskan.


Jilixu menatap wajah Jeni dan menjawab, "kita dulu bertaruh satu sama lain, yang kalah harus memenuhi permintaan yang menang."


Aqira menoleh kearah Pangeran Yan dengan wajah serius, "siapa dan apa permainannya?" ucapnya sambil mengerutkan keningnya. Sebelum menjawab, Pangeran Yan menghela nafas panjang, "Yalan kalah, dan permintaannya adalah… mencari kandidat istri untuknya." ucapnya dengan nada pasrah.


Mata tajam milik ketiga gadis berubah menjadi terkejut mendengar hal itu.


"err, memangnya dia tidak bisa mencari sendiri?" ucap Aqira bergidik ngeri.


Wanda bersandar di tiang tempat tidur sambil memejamkan matanya, "kudengar, orang itu akan tiba di pertukaran musim berikutnya… bagaimana kalau aku menyamar menjadi salah satu kandidatnya?" ucapnya dengan nada santai.


"tidak bisa!" ucap Yalan dengan nada tegas.


tap…tap…tap… terdengar langkah kaki sedang mendekat dari luar.


"baiklah, kita bicarakan ini nanti saja." ucap Wanda mengalihkan topik pembicaraan.