Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Penjaga permainan



"tidak, tapi aku ingin sekali mendaki setelah bertahun-tahun." jawab Aqira dengan santai.


"mendaki? sepertinya menarik." ucap Wanda sembari mengangkat sudut bibirnya sambil melirik kedua rekannya.


Ketiga gadis ini saling tersenyum memberikan kode untuk satu sama lain yang menandakan mereka akan membuat sebuah rencana.


Keesokan harinya…


Wanda meninggalkan selembar kertas diatas meja dekat tempat tidurnya dan sudah meninggalkan istana sejak pagi. Jeni mendapat job untuk merias para penari yang akan tampil Opera di luar ibukota. Sementara Aqira menutup klinik karena ada urusan mendadak di luar ibukota.


"bagaimana? apa sudah ketemu?" tanya Wanda kepada Jeni di dalam sebuah kediaman besar yang tak lain adalah sekte tempat Lin Chen berada.


"tidak, aku tidak menemukan orang sekaligus bendanya." jawab Jeni.


TAK TAK TAK


Suara langkah kaki terdengar mendekat kearah mereka dari barat dimana pintu utama dari tempat itu berada.


"siapa anda?" ucap seorang pria dengan pakaian putih-putih milik sekte itu yang bertanya pada Aqira.


"maaf sebelumnya, hamba Chu Qian, sedang mencari tabib Lin karena ada urusan penting." jawab Aqira dengan menyatukan tangannya memberi hormat.


Saat ini tidak ada yang bisa melihat Wanda ataupun Jeni selain Aqira. Hal itu disebabkan karena keduanya dalam bentuk roh untuk mencapai tempat itu. Tampilan mereka saat ini sama dengan waktu mengerjakan misi terakhir di dunia modern.


"Bai Zi memberi hormat pada bibi seperguruan." ucap Pria itu spontan menyatukan tangannya memberi hormat.


"apanya bibi? aku tidak punya keponakan sebesar kau!" batin Aqira sedikit kesal.


"pfftt… tenanglah." ucap Jeni sambil menekan ringan pundak Aqira.


"Bai Zi menjawab, paman seperguruan pamit turun gunung tiga hari lalu." lanjut pria itu.


Pandangan mata Aqira yang tertutup tudung ini terangkat cepat menatap pria itu selama beberapa detik.


"jika dia belum kembali, lalu kemana dia?" gumam pria itu yang menjadi bingung.


Saat keduanya berpikir dalam hening tanpa menatap satu sama lain, datang pria lain yang mengenakan pakaian yang sama dengan pria itu dengan tergesa-gesa.


"kakak seperguruan! kakak seperguruan!" teriak pria tadi melangkah lebar kedalam tempat ini.


"ada apa? apa yang terjadi?" ucap Bai Zi yang menjadi panik melihat remaja itu cemas.


"kakak seperguruan, aku, aku menemukan ini di hutan saat mencari herbal." jawab pria itu menunjukkan giok putih bertuliskan nama Ling Chen disana.


"bisakah kau membawaku ke tempat itu?" ucap Aqira kepada pria yang membawa pulang giok tersebut.


Pria itu menoleh kearah Bai Zi yang mengangguk perlahan memberi izin. Mereka bertiga segera pergi ke tempat yang diarahkan oleh pria yang menemukan giok itu.


"disini aku menemukannya disini!" ucap pria itu menunjukkan kearah rerumputan yang ia pijak saat ini.


"disini tidak ada yang mencurigakan." ucap Jeni yang memeriksa sekitar.


"periksa dengan benar." ucap Aqira yang berkomunikasi dengan kedua temannya ini melalui transmisi suara.


"disini memang tidak ada." sahut Wanda dengan santai.


"apa maksudmu?" tanya Aqira kepada Wanda.


"minta tanda pengenal itu dan kembali ke ibukota." lanjut Wanda.


"aku mengerti." sahut Aqira mengedipkan matanya perlahan memberikan kode.


"aku tidak peduli, selamatkan atau ku penggal kalian." ucap Jilixu dengan dingin kepada tabib yang memeriksa Jeni.


Tabib itu terlihat ketakutan dibuatnya, "ta…tapi Kaisar… nadi…nadinya sudah…"


"berisik sekali!" ucap Jeni yang bangun secara tiba-tiba.


"apa kalian bosan hidup?" lanjutnya yang menatap dingin kearah orang-orang disekitarnya termasuk pada Jilixu.


"syukurlah." gumam Jilixu yang memeluk Jeni secepat kilat.


Li Zan selaku prajurit pribadi Jilixu yang menemaninya itu bergegas pergi membawa tabib tadi meninggalkan dua orang ini didalam satu ruangan.


"kau masih hidup, kau masih hidup." gumam Jilixu terus sambil mengeratkan pelukannya.


"jika lebih erat aku akan mati." ucap Jeni menahan amarahnya karena kesal.


"maafkan aku, maafkan aku." ucap Jilixu segera melepaskan lingkaran tangannya dari tubuh Jeni.


"oh iya, ini dimana?" lanjut Jeni yang bertanya melihat ruangan sederhana namun dipenuhi oleh banyak senjata di setiap sudut kamar sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


"ini adalah kamarku." jawab Jilixu dengan tegas.


"lupakan itu, sekarang jawab pertanyaanku, bagaimana kau bisa tenggelam di sungai dangkal itu?" lanjutnya yang bertanya dengan mengubah tampangnya seperti seorang ayah yang menginterogasi putrinya.


"kenapa jadi drama ayah dan anak?" batin Jeni menatap datar wajah Jilixu.


"apa? apa maksudmu?" ucap Jeni bertanya balik dengan tatapan polos sebenarnya sudah mengetahui maksudnya.


Hembusan hangatnya angin siang menyelimuti tempat itu dan membuat wajah Jeni memerah tiba-tiba. Selembar kain datang kearah Jeni hingga menutupi wajahnya.


"aku menemukanmu mengapung di sungai tadi." jawab Jilixu memalingkan pandangannya dari Jeni.


Kaki putih milik Jeni turun dari tempat tidur diiringi oleh jatuhnya gaun coklat yang menyapu lantai. Kain yang menutupi wajahnya ia lempar ke tempat tidur sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


"sebenarnya apa yang terjadi? kenapa aku tidak ingat?" gumam Jeni sambil berjalan menuju cermin besar yang berada lima langkah di sebelah kanan tempat tidur itu berada.


TAK TAK TAK


Langkah besar Aqira masuk ke kediaman terdengar oleh pria yang berada di dalam rumah sampai datang untuk menemuinya. Pria yang serba putih dari rambut sampai pakaian dan sepatutnya berdiri di pintu dalam, mata zamrud miliknya menatap Aqira yang masih mengenakan tudung yang menutupi wajahnya.


Aqira menutup pintu depan sembari melanjutkan langkahnya menuju pria yang berdiri di pintu dalam itu. Dia tidak berhenti untuk berbicara dengannya melainkan langsung masuk kedalam kamarnya yang ada disebelah kiri pria itu berdiri.


Lima belas menit kemudian…


Selesai mengganti pakaian kotor yang menempel ditubuhnya dengan pakaian putih bersih, Aqira keluar dari kamarnya sembari menuju ruang tamu yang berjarak satu kamar di sebelah kanannya.


"maaf menunggu lama." ucap Aqira dengan santai kepada pria tadi yang memberinya tatapan lembut sewaktu ia baru tiba di kediaman.


"bagaimana kabarmu?" tanya pria itu dengan nada pelan sedikit berat.


Aqira duduk di seberang tempat duduk pria itu, "menurutmu?"


"maaf membuatmu kerepotan beberapa hari ini." ucap pria itu masih dengan nada yang sama.


Tangan kanan Aqira yang disembunyikan di bawah meja diangkat sejajar dengan tangan kiri yang ada diatas meja.


"seseorang menemukan di hutan dan memberikannya padaku." ucap Aqira menyodorkan giok tadi kepada pria itu dengan santai.