Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Terbalik



Di Negara tetangga tepatnya seberang dari Kerajaan Xia milik kerajaan Xiao, musim tropis yakni penghujan sedang terjadi dengan derasnya disertai oleh angin ribut.


Satu jam berlalu, hujan mulai berhenti dan muncullah mentari yang menghangatkan sampai mengeringkan genangan air di jalanan.


Kehidupan disana begitu harmonis dan damai sampai tidak terdengar nada tinggi seseorang saat berbicara.


Tapi dibalik tenang dan hangat dari suasana yang ada terdapat sebuah keanehan dari negara ini. Keanehan itu nampak dimana wanita berpakaian baju zirah serta membawa senjata kemanapun mereka pergi, sementara para pria berlomba-lomba bersolek mempercantik diri dengan merias seluruh tubuhnya dan menundukkan wajahnya saat para wanita menghampirinya.


Semua pria menurunkan pandangan mereka ketika melihat para wanita datang mendekati mereka seperti gadis yang tersipu malu.


Jalan Hua


Semua wanita sedang duduk di berbagai kedai teh dan restoran yang berada di sepanjang jalan ini seperti sedang menunggu seseorang.


Setengah jam telah berlalu dan mereka masih tetap di kursi mereka tidak berniat untuk meninggalkannya.


DRAP DRAP DRAP


Suara tapak kaki kuda yang begitu ramai terdengar hingga di jalan ini dan membuat resah para wanita yang sudah stay menunggu.


EKHEE… TOPLAK…TOPLAK…


Kuda putih nan cantik memimpin pasukan berkuda yang muncul dari luar kota melintasi jalan itu menuju ke ibukota.


Pemimpin yang menaiki kuda putih menyembunyikan wajahnya dibalik jubah hitam serta topeng putih berbentuk rubah.


Orang itu memiliki pupil mata berwarna coklat dan rambut berwarna merah nan panjang.


Awalnya orang itu hanya memancarkan aura hitam yang dingin saat melihat kekosongan dari jalan itu hingga sampai munculnya seorang remaja pria yang hendak melintas.


"tunggu…" ujarnya menahan remaja pria itu melalui suara, kemudian ia turun dari kudanya untuk menghampiri remaja tadi.


Raut wajah pemuda itu menatap tajam pasukan berkuda dengan. jubah hitam yang melekat di tubuh mereka.


Pemimpin dari pasukan ini berdiri tepat didepannya tanpa ia sadari saat alam bawah sadarnya masih menaruh curiga pada mereka.


"nak…" melihat wajah muda dan berseri dari pemuda ini memperlihatkan perbedaan usia diantara keduanya, "apakah terjadi sesuatu disini…?" mulainya yang bertanya dengan halus karena memahami kondisi status di tempat ini.


Pemuda yang ditanyainya tidak menjawab namun memberikan kode untuk melihat kelantai dua dari masing-masing kedai dan restoran disana.


Orang itu melihat keatas sekilas sembari langsung menoleh kearah pasukan yang masih menunggu perintah darinya.


"kembali ke kediaman Shen…" ujarnya yang menaiki kuda putihnya kembali sembari mendekatkan kudanya kearah pemuda yang ia tanyai tadi, "terimakasih, ini untukmu…" memberikan kantung yang ditaruh di pelana kuda miliknya kepada pemuda itu.


Pemuda itu mengambilnya sembari membungkukkan badannya sebagai ucapan terimakasih.


Setelah itu pasukan berkuda ini melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Shen yang ada di pusat kota.


Bersamaan dengan itu para wanita yang menunggu kedatangan dari pemimpin pasukan berkuda tadi berbondong-bondong turun kebawah untuk menghampiri pemuda tadi.


Melihat keramaian wanita yang berdesakan menghampirinya membuat pemuda ini menundukkan karena takut.


Ketakutan itu bisa disadari oleh para kaum wanita dan memutuskan menjaga jarak satu meter dari pemuda ini berdiri.


"hei, nak… bisakah kau mengangkat kantung di tanganmu…?" ujar salah seorang wanita memulai pembicaraan.


Pemuda ini tanpa perlawanan melakukan apa yang diminta oleh wanita itu dengan sendirinya.


Keheningan terjadi untuk beberapa detik saat melihat kantung itu tampak goyah, tapi setelah membalikkan bagian yang menempel ditangan kearah publik, mereka menjadi heboh tidak karuan seperti ibu-ibu kompleks yang mendapat arisan saja.


"haahh… itu benaran dia…" ujar wanita tadi.


Pemuda ini menjadi semakin takut ketika mendengar suara berisik dari para wanita yang mengelilinginya meski jarak mereka tidak terlalu dekat.


Akan tetapi kerumunan itu hanya terjadi dalam waktu singkat karena tiba-tiba muncul kereta yang datang dari luar kota membubarkan mereka.


Pemuda ini menghela nafas panjang sembari bergegas menyembunyikan diri dari keramaian.


Sementara disisi lain tepatnya di Kediaman Shen, pusat kota.


Para wanita di kediaman ini bertolak belakang dengan para wanita yang ada diluar sana, mereka mengenakan pakaian wanita dan berdandan sesuai standard mereka.


Suara derapan dari pasukan berkuda sudah sampai ke telinga para wanita yang sedang berbaris menunggu di depan kediaman Shen.


"tuan muda Shen sudah datang…! sudah datang!" gemuruh para gerombolan wanita ini hampir mengalahkan suara derapan kuda yang menuju kesana.


Penantian mereka seperti wanita dijalan Hua tadi, dimana pasukan berkuda hanya sekedar melewati mereka.


Jika di zaman modern lebih tepatnya seperti para penggemar yang menunggu idolanya disana.


Antusias mereka terbalas dengan menatap kegagahan diri mereka dengan memandang wajah yang tertutup oleh topeng.


Tapi kekecewaan datang kembali saat pintu gerbang Kediaman ditutup oleh kedua penjaga disana, meskipun kesal setidaknya penantian mereka terbalaskan.


"sebagai hadiah atas kerja keras kalian, seminggu ini kalian libur…" ujar pemimpin pasukan berkuda kepada seluruh pasukan yang ia bawa saat ini.


"kenapa libur tuan?" tanya salah seorang prajuritnya dengan gelisah.


Dimana-mana saat mendengar kata libur adalah hal yang dinantikan oleh seseorang setelah sekian lamanya bekerja tanpa cuti, akan tetapi berbeda dengan para pasukan berkuda ini.


Dengan kata libur berarti tidak ada izin dan tidak ada senjata di tubuh mereka, karena di negara ini hanya kediaman Shen yang mendapatkan izin bagi pria untuk mengenakan senjata.


"tapi tuan…" timpal yang lain memohon.


Pemimpinnya dengan santai menatap puluhan topeng yang ia bawa pulang sembari mengangkat salah satu sudut bibirnya.


"berencana hidup dengan senjata selamanya? hmm?" ujarnya dengan lembut memberikan penjelasan kepada para rekannya.


Mendengar kata manis yang keluar dari mulut ketua mereka membuatnya hanya bisa menunduk pasrah tanpa perlawanan.


"tapi kalian boleh membawanya jika perlu…" lanjutnya.


Wajah masam mereka berubah menjadi ceria kembali saat mendengar kelanjutan kata dari sang ketua yang membolehkan mereka membawa senjata selama cuti berpergian.


Setelah itu sang ketua membubarkan para pasukan berkuda miliknya.


"sampai jumpa pekan depan…" imbuhnya sebelum membubarkan.


"oh… rupanya si kecil sudah kembali…" nada lembut seorang wanita muncul dari dalam kediaman seperti menyambutnya dengan tangan terbuka.


Dia 'pimpinan pasukan berkuda' sontak menolehkan kepalanya kearah kehangatan yang ingin menariknya dengan tidak sabar.


Pupil matanya melebar dengan lepasnya topeng di wajah, perlahan sudut bibirnya terangkat hingga menampakkan lubang di pipi kirinya.


Seorang wanita tengah berdiri di pintu mengenakan baju zirah tapi juga terlihat dandanan tipis di wajahnya.


Mulut 'pemimpin pasukan berkuda' yang hendak bicara ini terhenti saat seorang pria muncul dari belakang wanita itu.


"guru!" teriak 'pemimpin pasukan berkuda' dengan begitu semangat.