Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Kamar pelayan



kriekk… Jeni membuka pintu kamar perlahan sembari masuk kedalam. "lumayan daripada yang kemarin." ucap Jeni melihat sekelilingnya. Ketiganya bersiap untuk membersihkan debu-debu di ruangan. Tengah fokus berberes tiba-tiba seseorang muncul di samping mereka masing-masing. Jeni tak sengaja memukul wajah Jilixu saat sedang membersihkan debu dengan rotan. Aqira tak sengaja menghunuskan lilin ke lengan tangan Pangeran Yan saat sedang memindahkannya. Sedangkan Wanda tak sengaja membakar dada Yalan saat dia memegang korek api untuk menyalakan lilin.


"shh" rintihan ketiga pria menahan sakit. "ini sudah yang kedua kalinya." ucap ketiga gadis yang mengeluh sambil mengobati mereka. "makanya, jangan datang seperti hantu." ucap Jeni mengoleskan salep ke kening Jilixu. "untung cuman rotan, kalau besi bagaimana?" sambungnya yang menggerutu sambil mengobati luka Jilixu. Jilixu hanya diam dan menerima semua amarah Jeni sebagai bentuk perhatian untuknya.


"masih sakit?" ucap Aqira setelah mengoleskan salep ke lengan Pangeran Yan sambil meniupnya perlahan. Dengan bangga Pangeran Yan mengangkat lengannya dan berkata, "tentu tidak sshh…" menurunkan tangannya perlahan. Aqira menarik tangan Pangeran Yan sambil memasang muka seriusnya, "jika kau bergerak lagi, akan ku tetesi tubuhmu dengan lilin." ucapnya sembari mengobatinya lagi.


"huff, tahan sedikit." ucap Wanda yang mengobati dada Yalan yang melepuh. Tanpa sadar Wanda membuat Yalan tertekan dengan sikapnya yang mengobati dirinya. Wanda menyentuh pelan area sekitar luka agar lebih mudah mengoleskannya, tapi hal itu membuat Yalan merasa tidak nyaman. "selesai" ucap Wanda yang membalut luka Yalan dengan menali pita ujungnya. "aa…apa sudah selesai?" ucap Yalan sambil menahan dirinya.


Wanda mendongak kearahnya dan berkata, "sudah." ucapnya sambil menatap wajah Yalan. "tunggu, kenapa wajahmu memerah?" sambungnya sembari mendekatkan wajahnya kearah Yalan.


"mungkin dia kepanasan, terimakasih." ucap Jeni yang menata selimut dengan dibantu oleh Jilixu.


"oh, kepanasan." ucap Wanda sembari melangkah kearah jendela.


Kriekk… whoosh… angin tertiup kencang dan memadamkan semua lilin. "aiya, dimana koreknya?" ucap Jeni yang panik.


brukk… "aduh! kau siapa?" ucap Jeni yang mengulurkan tangannya ke depan sambil meraba.


"ini aku, jangan panik, oh iya, koreknya habis." ucap Wanda sembari berdiri, "kalian tetap disini, aku akan keluar meminta korek." sambungnya sembari berjalan perlahan keluar dari sana.


Wanda bergegas menuju kamar pelayan sebelumnya untuk meminjam korek api dari sana.


"maaf mengganggu kalian." ucap Wanda memberi salam sembari kembali ke kamarnya sambil membawa korek api. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan putri jenderal Ye yang berjalan-jalan di halaman depan kamarnya. Wanda bergegas menghampirinya, "apa nona membutuhkan sesuatu?"


Tian ai menjawab, "aku hanya sedang berjalan-jalan saja, dan kenapa kau masih berkeliaran?" ucapnya dengan tatapan curiga.


Wanda mengangkat barang yang berada di tangannya, "hamba keluar meminjam ini." ucapnya dengan wajah polosnya.


"memangnya kenapa dengan tempatnya?" tanya Tian ai. Wanda menjawab, "ii…itu angin bertiup kencang jadi lilin padam, dan kami kehabisan koreknya." jawabnya yang menundukkan kepalanya.


Bruakk…


"ehh, apa yang jatuh?" ucap Wanda yang panik bergegas menuju pintu depan kamarnya. Ye Tian ai berjalan membuntutinya dari belakang dan berkata, "pelayan, bawa obornya kemari." ucapnya dengan nada pelan.


"huhuhu" terdengar suara perempuan menangis di dalam sana. Ye Tian ai memerintahkan pelayannya masuk untuk memeriksa, bahkan Wanda juga ikut masuk untuk memeriksanya. Setibanya didalam, "agghhhh" semua orang berteriak secara serempak.


"bisa kau jelaskan?" ucap Ye Tian ai menatap Wang Fengyan yang tak lain adalah gadis yang menangis itu.


"aiai, ini tidak seperti yang kamu lihat." ucap Pangeran ketiga, Xiao Baili.


Brakk…


Ye Tian ai memukul meja dan berkata, "lalu apa ini!?" bentaknya dengan wajah serius.


Di tengah panasnya perselisihan ini, Aqira dan Jeni datang sambil asyik mengobrol. Keduanya terkejut melihat putri jenderal Ye dan langsung berlutut dihadapannya, "salam nona." ucap mereka bersamaan.


"panggil ibu pelayan Hua kemari!" ucap Tian ai menoleh kearah pelayan yang datang bersamanya.


Beberapa saat kemudian…


Ibu kepala Hua datang bersama dengan pelayan itu. "hamba memberi salam untuk nona." ucapnya sembari membungkuk dihadapannya.


"bangunlah. Katakan, apa anda yang memanggil mereka tadi?" ucap Tian ai dengan wajah serius.


Ibu kepala Hua mengangkat pandangannya dan menjawab, "benar, hamba memanggil mereka tadi." ucapnya dengan tenang.


"kenapa kau memanggil mereka tengah malam begini?!" ucap Tian ai sembari mengerutkan keningnya.


Ibu kepala Hua sontak berlutut sembari menundukkan kepalanya, "hamba hanya menjalankan tugas yang nona berikan untuk menyiapkan kebutuhan nona besok pagi." ucapnya dengan lancar tanpa ketakutan. Tian ai tercengang sejenak, "kenapa aku bisa lupa?" batinnya sambil berpikir.


Tian ai berdiri sembari berjalan menuju pintu, "biarkan pengadilan yang memutuskan." ucapnya tanpa menoleh ke belakang, "dan… atur tempat baru untuk mereka, aku tidak mau orangku ternoda." sambungnya yang menghentikan langkahnya sejenak sembari menoleh kearah ibu kepala Hua.


"baik, nona." ucap ibu kepala Hua memberikan salam.


Melihat putri jenderal Ye yang sudah menjauh, ibu kepala Hua berdiri dengan dibantu oleh Aqira. "terimakasih. Kalau begitu, kalian ikut denganku." ucap ibu kepala Hua sembari keluar dari tempat itu. Ketiga gadis terdiam sembari menoleh kearah Fengyan dengan rasa khawatir.


"nona, nona" ucap seorang pelayan yang datang dari luar sembari menghampiri Fengyan.


Kamar sebelah kamar ibu kepala Hua.


Ibu pelayan Hua berhenti didepan pintu kamar, "ini adalah kamar kalian, dan itu adalah kamarku." ucapnya sembari menunjuk kearah kamar sampingnya, "istirahatlah, jangan sampai terlambat besok, dan… kalian adalah orang putri jenderal Ye, jadi jangan pikirkan hal lain selain melayani nona." sambungnya sembari kembali ke kamarnya.


"baik, ibu kepala Hua." ucap mereka sembari membungkukkan badannya.


Setelah ibu kepala Hua memasuki kamarnya, mereka bertiga baru memasuki kamar baru mereka. Tepat saat mereka melangkah masuk, Jeni tersandung sesuatu dan membuatnya serta kedua temannya terjatuh bersamanya.


Bruak…


"sshh, tanganku." ucap Jeni yang menekan tangannya. "da…darahh…!" ucap ketiganya yang pingsan bersamaan.


Keesokan harinya, mereka dibangunkan oleh ibu kepala Hua. Mendengar Jeni yang terluka menarik perhatian Ye Tian ai untuk mengunjunginya. "bagaimana kalian bertiga bisa kena musibah bersamaan?" tanya Tian ai sembari menatap wajah ketiganya.


"izin menjawab, kami tidak tahu kalau kamar ini dipenuhi benda tajam." ucap Aqira sembari membungkuk dihadapannya.


Ye Tian ai berpikir sejenak dan berkata, "sebelumnya, ini kamar siapa?" ucapnya sembari menoleh kearah ibu kepala Hua.


Ibu kepala Hua sontak membungkukkan badannya, "izin menjawab, kamar ini dulu milik pelayan ratu terdahulu, Bixi."


Ketiga gadis tercengang mendengar hal itu. "bukankah itu nama jenderal pasukan Phoniex?" batin Wanda sambil berpikir.