
"maaf aku terlambat." ucap Aqira kepada seorang pria yang tengah duduk memeriksa pasien.
"laki-laki atau perempuan?" tanya pria itu yang tak lain adalah tabib Lin, sambil memeriksa denyut nadi pasien di depannya.
"bayi yang tampan." jawab Aqira yang masuk ke dalam ruang tabib untuk berganti pakaian.
Beberapa saat kemudian, datang seorang prajurit yang mengenakan pakaian rakyat biasa menemui tabib Lin. Keduanya berbicara hal yang sangat penting sampai harus menggunakan metode empat mata di ruangan dalam klinik.
"baik, aku akan segera kesana." ucap tabib Lin yang menutup pembicaraan diantara keduanya.
Aqira yang selesai berganti pakaian di ruangan sebelah menghampiri tabib Lin.
"ada apa? apa kau akan menginap di istana?" tanyanya kepada Tabib Lin.
"huff… memang tidak ada yang bisa disembunyikan darimu." helaan nafas keluar dari tabib Lin yang tidak bisa berbohong pada wanita satu ini.
"apa kau tidak akan ikut?" lanjutnya yang bertanya pada Aqira.
Aqira mengenakan cadar untuk menutupi wajahnya seraya menjawab pertanyaan dari tabib Lin, "belum saatnya." ucapnya yang berjalan menuju tempat antrian pasien.
Di pinggiran istana kerajaan barat, terlihat banyak sekali lentera yang menyala di sepanjang kios. Wanda dengan mengenakan pakaian sederhana berhenti di salah satu kios-kios tadi.
"bibi, berapa harga lenteranya?" tanyanya kepada seorang wanita paruh baya yang menjual lentera berbentuk kelinci.
Wanita itu mendongak kearahnya dengan senyum ramah, "satu perak saja, nona."
"kalau begitu, aku beli dua bibi." sahut Wanda sambil memberikan satu dua tael perak kepada wanita tadi.
Saat Wanda hendak mengambil dua tael perak itu, tiba-tiba seseorang merampasnya dengan paksa.
"wah bibi, tau saja saat membayar pajak." ucap seorang pria yang mengenakan pakaian seorang bandit dengan menggenggam uang rampasan tadi.
Dan dibelakang pria itu ada kurang lebih sepuluh orang yang mengikutinya.
"apa yang kau lihat? apa kau tidak mau membayar?" gertak pria itu yang menatap Wanda yang hendak membeli lentera.
"kembalikan." sahut Wanda dengan muka datar.
Pria itu merasa tertarik dengan tantangan yang dilontarkannya, "apa? apa kau akan memukulku?"
Tepat setelah kalimat itu selesai diucapkan, Wanda memukulnya dengan keras sampai jatuh tersungkur ke tanah.
"apa yang kalian lihat?! hajar wanita itu!" teriak pria tadi yang memerintah gerombolan dibelakangnya itu.
Wanda menatap dingin para gerombolan itu dengan tangannya yang mengepal.
"hiaatt…"
BRAKK…
Tidak perlu ditanya bagaimana hasilnya, satu pukulan tangan Wanda menyamai satu pukulan seorang laki-laki.
"hemm?" tangan Wanda meminta pada pria yang merampas uangnya untuk dikembalikan.
Pria itu mengembalikan dua tael perak tadi kepada Wanda seraya langsung kabur menjauhi keramaian.
"maafkan atas kekacauan ini." ucap Wanda yang memberikan empat tael perak dan mengambil dua lenteranya sekaligus langsung pergi meninggalkan pasar.
Tak…tak…tak… langkah kaki Wanda terhenti di depan sebuah pohon besar di pinggiran sungai.
"maaf aku terlambat." ucapnya sambil menjewer telinga kirinya.
"berapa banyak kau minta maaf?" terdengar suara pria dengan nada berat yang datang dari sisi lain pohon menghampiri Wanda.
"seharusnya kau bertanya, berapa banyak dia memukul…" suara seorang wanita muncul dari belakang suara pria tadi.
"mungkin aku harus sering berdoa di kuil." ucap wanita yang mengenakan brokat coklat seraya mengambil salah satu lentera dari Wanda.
"kenapa? apa kau takut tidak ada yang meminangnya?" ejek pria itu dengan nada khasnya.
"apa kau menyumpahi adikmu?" wanita itu menjewer telinga pria tadi karena tak terima Wanda diejek olehnya.
"aduh! aduh! maafkan aku kak, aku hanya bercanda." ucap pria itu yang mencoba melepas jeweran dari wanita tadi.
Wanda tersenyum tipis melihat tingkah keduanya yang seperti anak kecil, "kakak kaisar Mo Chen, dan kakak kekaisaran Mo Qin, apa sudah selesai?" ucapnya dengan tingkah polos seperti anak kecil.
"aaa… baiklah baiklah, kami sudah selesai." sahut Mo Qin yang tak tahan melihat ekspresi imut milik Wanda.
"kalian segera luncurkan lenteranya." ucap Wanda yang tetap berdiri di tempatnya.
"kau tidak akan ikut meluncurkannya?" tanya Mo Chen yang berhenti disampingnya.
Wanda menatap bintang-bintang yang bersinar di langit seraya menjawab pertanyaan tersebut, "tidak, aku tidak tertarik."
Melihat kekosongan di pandangan Wanda sudah membuat Mo Chen mengerti satu hal, "walau sudah lima tahun berkumpul, tapi sikap dinginnya masih tidak berubah." batin Mo Chen seraya menghampiri Mo Qin untuk melepas lenteranya di sungai.
"bukan aku tak ingin, tapi aku tak punya hak akan semua ini." batin Wanda yang tetap memandang langit dengan kesunyian di bibirnya.
Dar…Dar…Dar… begitu banyak kembang api yang bermunculan di langit setelah kedua saudara saudari kekaisaran ini meluncurkan lenteranya di sungai.
Wanda menikmati suasana itu dengan memanggang ikan hasil tangkapannya dan berpesta api unggun disana. Serta ada beberapa para warga yang ikut meramaikan suasana dengan menari.
"aku merindukan kalian." batin Wanda yang memejamkan matanya perlahan sambil menikmati dinginnya angin malam.
"kenapa mataku bergetar?" batin Aqira dan Jeni yang menyentuh pelan sudut mata kanan mereka.
Istana kerajaan Qing.
Para prajurit sedang berbaris menunggu kedatangan seseorang. Beberapa saat setelah itu suara terompet berbunyi dan muncul gerombolan prajurit yang datang dari perbatasan kerajaan Qing.
"mereka sudah datang." bisik para gadis yang ikut bergerombol menantikan seseorang.
"tapi dimana pangeran Yan?" timpal gadis lain yang mencari-cari batang hidung Xiao Yan.
Tak…tak…tak… suara terompah berhenti didepan pintu kamar Kaisar. Seorang pemuda dengan pakaian seorang rakyat biasa berdiri disana.
"masuklah." ucap Kaisar dari dalam dengan dirinya yang di akupuntur oleh Tabib Lin.
Mendengar perkataan itu, pemuda itu masuk kedalam dengan melepas terompahnya.
"ada apa? apa kau baru mengingatku?" lanjut Kaisar tanpa menatap pemuda tadi.
"kenapa ayahanda mendesak ku kembali?" sahut pemuda itu yang adalah Xiao Yan dengan penyamaran.
Kebetulan saat itu akupuntur telah selesai dan Kaisar pun bisa berdiri dari duduknya serta menyuruh tabib Lin meninggalkan ruangan. Dia menghampiri putra keempatnya sambil merapikan jubahnya.
"masih dengan hal yang sama." berhenti disamping Xiao Yan dengan arah yang berlawanan, "kapan kau akan menikah?" tanyanya sambil menyentuh pundak Xiao Yan.
"jawabanku masih sama, tidak akan." jawab Xiao Yan dengan memutar langkahnya menuju pintu dia datang tadi.
"jangan terburu-buru." tahan Kaisar tanpa menyentuhnya, "hidupku tidak akan lama, dan tinggal kau seorang yang belum menikah." lanjutnya dengan nada yang pasrah.
"jangan khawatir, aku tidak membutuhkan tahta." sahut Xiao Yan yang meneruskan langkahnya meninggalkan kamar Kaisar.
"kapan dirimu yang lima tahun lalu kembali?" batin Kaisar yang prihatin dengan putranya yang satu ini.
Karena semenjak kepergian dari Aqira, Xiao Yan tak lagi tersenyum ataupun kembali ke kerajaan sejak lima tahun terakhir dan lebih memilih menetap di kamp tentara kerajaan. Dia juga menolak begitu banyak wanita yang dijodohkan dengannya, bahkan ada yang menghilangkan nyawanya sendiri karena tak terima akan penolakan itu.