Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Kedai Pinggir Kota



Mereka berjalan menuju tempat makan didekat sana sambil merayakan hal tadi. Jeni sibuk memesan makanan dan Aqira mencarikan mereka tempat duduk, sedangkan Wanda sedang menikmati pemandangan malam di bawah pohon. "kau pasti bertanya-tanya tentang hal tadi, kan?" ucap Wanda yang bersandar di pohon. Mendengar itu Yalan langsung mendekatinya, "jadi apa semua ini?" ucapnya dengan penuh rasa penasaran. Wanda memegang wajah Yalan seraya berkata, "lomba mempercantik diri." ucapnya sembari tersenyum. "atau kakak juga ingin bergabung?" sambungnya seraya mendekatkan wajahnya kearah Yalan. Tiba-tiba muka Yalan menjadi merah dibuatnya, "tidak, untuk apa aku ikut?" ucapnya sembari memalingkan wajahnya. "hei, aku sudah dapat tempatnya." ucap Aqira sambil melambaikan tangannya. "baiklah, sekarang mari nikmati pestanya." ucap Wanda sembari meninggalkannya. Melihat Wanda yang menjauh, diam-diam Yalan memegang pipi yang disentuh oleh tangan Wanda sambil tersenyum sendiri.


"eh, Qian?" ucap seorang pria yang berpapasan dengannya. "kau disini?" sambungnya sembari mendekati Aqira. "iya, ada apa?" sahut Aqira menatapnya sekilas. Pria itu sontak merangkul leher Aqira tiba-tiba, "apa kau kemari bersama gadis itu?" bisiknya sambil melirik kearah Pangeran Yan. Aqira mendorongnya perlahan sambil berkata, "kenapa memangnya?" sahutnya sembari memegang punuk lehernya. "apa dia kekasihmu?" ucap pria itu dengan wajah penuh penasaran. Aqira selangkah maju ke depan seraya memegang dagu pria itu, "apa kau cemburu?" ucapnya dengan wajah nakal. Pria itu mengalihkan pandangannya seraya berkata, "jangan menatapku begitu, kau membuatku merinding." ucapnya yang tiba-tiba gemetar. Aqira menepuk pundak pria itu perlahan, "baiklah, aku tidak akan bercanda lagi. Oh iya, bukankah ini kedaimu?" ucap Aqira sambil melihat papan nama tempat itu. "bagaimana kau tau?" sahut pria itu menatap wajah Aqira. Aqira menunjuk kearah papan nama yang terpampang jelas diatas. Pria itu sontak mendongak keatas, "Pin…chen!" ucapnya yang mengepalkan tangannya sembari berjalan masuk kedalam kedainya dengan penuh kekesalan.


"kenapa kau menamai kedaiku dengan nama itu!" teriak pria itu dari dalam kedainya. "aku… hanya menemukan nama itu yang cocok." suara seorang pria menjawabnya. "tidak perlu alasan, kemari kau, jangan lari!" brak…brak…klontang…


"siapa dia?" tanya Pangeran Yan yang berdiri disampingnya. "sepupu jauhku, Mu Rongzen." sahut Aqira. "sudahlah jangan pikirkan dia, sekarang mari nikmati pestanya." sambungnya sembari menarik tangan Pangeran Yan masuk kedalam kedai.


"okeh, semua makanan sudah dipesan, tempatnya juga sudah ada." ucap Jeni merenggangkan ototnya. "eh, sedang apa dia?" sambungnya sembari mendekati Jilixu.


"apa kau tidak nyaman dengan pakaianmu? kita bisa bertukar kalau kau mau." ucap Jeni menatap Wajah Jilixu. "tidak perlu, aku tidak kesulitan dengan ini." sahut Jilixu yang menatap bulan di langit. Tangan Jeni tiba-tiba mendekati Jilixu sambil berkata, "ternyata kau sangat cantik jika dilihat dari dekat." ucapnya sembari mendekatkan wajahnya kearah Jilixu. "benarkah?" sahut Jilixu menoleh kearah Jeni. Keduanya saling bertatapan satu sama lain dari jarak dekat. "sangat cantik." ucap Jeni menyentuh pelan pipi Jilixu dengan lembut. Tanpa sadar mereka menjadi sorotan publik, "wah lihatlah kedua pasangan itu, mereka sangat romantis." ucap orang-orang sekitarnya.


Karena hal ini membuat pipi Jilixu menjadi merona. "lihatlah, betapa lucunya saat dia tersipu malu." ucap seorang gadis menatap wajah Jilixu. Jeni tersenyum sambil berkata, "baiklah, kalau begitu kami pergi dulu." ucapnya sembari meraih tangan Jilixu dan menggenggamnya dengan lembut.


Kemudian mereka berkumpul di meja yang sama. Pangeran Yan menoleh kearah kedua temannya sambil mengerutkan keningnya, "kenapa dengan wajah mereka?" gumamnya yang terheran.


Rongzen menarik kerah baju Aqira sambil berkata, "jika kau terus seperti itu, seluruh wajahnya mungkin akan menjadi merah." ucapnya sembari menyentil keningnya. "aduh! memangnya apa yang salah?" sahut Aqira yang menggosok keningnya. "sudahlah, nanti kau akan tahu sendiri." ucap Rongzen kembali ke dapur.


Seperti sifatnya yang penuh dengan penasaran, Aqira mulai menganalisis apa yang dimaksud oleh Rongzen. "muka memerah bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti kepedasan atau kepanasan." ucapnya sembari menoleh kearah yang lain. "kalau pedas, mereka belum mencicipi ini. Kalau kepanasan, ini kan malam." sambungnya yang terus berpikir. "jadi karena apa?" gumamnya yang tak henti berpikir.


Pangeran Yan menyodorkan makanan kearahnya sambil berkata, "cobalah ini, tadi aku sudah mencicipinya." ucapnya yang mengusahakan bersikap tenang. Aqira meliriknya seraya membuka mulutnya, "ehm, ini enak, terimakasih." ucapnya sembari mengunyah makanan di mulutnya. "ii…iya." sahut Pangeran Yan dengan gugup.


Saat mereka asyik menyantap makanan, terdengar suara gaduh dari luar. "saya tidak mencuri, ini adalah barang saya." teriak seorang wanita. Karena pertengkaran mereka membuat perhatian semua orang menyorot kearahnya. "kalian tunggu disini, aku akan melihatnya." ucap Aqira seraya berdiri meninggalkan mejanya. Pangeran Yan menyeka mulutnya dengan kain bajunya, "aku temani." ucapnya yang bergegas menghampirinya. "jangan terburu-buru." ucap Aqira sembari mengulurkan tangannya.


Keduanya keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi dari luar kerumunan, "paman, ada apa ini?" ucap Aqira bertanya kepada seseorang yang berada disampingnya. Orang itu menoleh seraya berkata, "ada anak kecil yang ketahuan mencuri." jawabnya. "oh ternyata begitu." ucap Aqira sembari meninggalkan tempat itu. Pangeran Yan bingung dengan tindakan Aqira, "kau tidak akan membantu?" ucapnya sembari meraih tangan Aqira. Aqira menghentikan langkahnya sembari menoleh ke belakang, "karena kau bilang begitu, maka aku akan ikut campur." ucapnya sambil tersenyum manis.


"dasar anak nakal!" ucap seorang pria yang hendak memukulnya. "siapa yang begitu berani!" sambungnya yang jengkel karena dihentikan oleh seseorang dari belakang. Aqira memiringkan kepalanya seraya menjawab, "aku! ada apa?" ucapnya dengan wajah datar. "ck, kupikir siapa, ternyata hanya seorang pecundang!" ejek pria itu sambil tersenyum licik. Aqira membalasnya dengan tersenyum sinis sambil berkata, "wah ada kemajuan, pecundang teriak pecundang." ucapnya dengan nada nakal.


"kau…!" ucap pria itu sambil mengepalkan tangannya.