
"bagaimana keadaannya?" tanya Mo Chen yang berada didalam gubuk sederhana milik Tian ai.
Keempat pria ini merasa bingung melihat banyak sekali kain yang bernoda darah berserakan disana.
"seperti yang kau lihat, kami telah melakukan transfer darah terhadap anak itu, dan itu menggunakan darahnya." ucap Aqira menjelaskan.
"apa!? kenapa kau tetap membiarkannya…" geram Mo Chen yang kesal.
"itu pilihannya, kita tidak bisa menghalanginya." potong Jeni.
"kami juga akan melakukan hal yang sama jika di posisinya, hanya saja…." timpal Aqira.
"dia sedikit tidak berperasaan." lanjut Jeni dengan wajah datar khasnya.
"diam atau kupukul kalian." ucap Wanda yang duduk di ranjang tempat anak lelaki tadi berbaring.
Tian ai segera duduk disebelahnya, "kau, kau sudah bangun, syukurlah." ucapnya dengan memeluk erat Wanda.
"apa yang kau lakukan?" dorong Wanda perlahan, "aku belum mati, jangan menangis!" lanjutnya yang memarahi Tian ai karena menangis.
"apa yang kau lakukan pada ibuku!?" teriak anak lelaki tadi yang tak terima ibunya dimarahi oleh Wanda.
"kenapa kau membuatnya menangis?!" tanya dia yang berdiri disamping Tian ai sambil menatap tajam Wanda.
"kenapa? apa yang akan kau lakukan?" tantang Wanda dengan wajah datar.
Anak lelaki itu geram menatap Wanda dan mengepal erat kedua tangannya, "aku akan memukulmu!" ucapnya yang sudah mengangkat tangan kanannya.
"aduh! aduh! ibu, sakit." baru juga mengeluarkan aura membunuh sudah berubah menjadi bocah kecil penakut karena di jewer oleh ibunya.
"bicara yang sopan pada bibimu." ucap Tian ai dengan tegas.
"jangan! jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu sebelum aku memantaskan diriku." timpal Wanda dengan serius.
"haish… kalian kakak beradik memang sama." batin Tian ai sambil tersenyum tipis.
KRUYUKK…
Hal yang menegangkan itu berakhir ketika bunyi gemuruh dari perut Wanda.
"aku, aku lapar." ucap Wanda menundukkan kepalanya dengan sikap seorang anak kucing yang merengek.
"aku, aku akan memasak." ucap Tian ai yang bergegas membuka lumbungnya tapi tidak menemukan apapun disana.
"aku, aku akan ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan." lanjutnya yang beranjak keluar dari rumahnya.
"aku ikut!" susul Jeni dengan tergesa-gesa.
"hahhh… mereka selalu melupakan semuanya setelah mendengar kata belanja." gumam Aqira yang ikut menyusul dengan wajahnya yang tertutup tudung dan membawa dua tudung lainnya.
"hei, pakailah ini!" ucapnya yang memberikan kedua tudung itu kepada Jeni dan Tian ai.
"aku akan pergi mencari kayu bakar di hutan." ucap anak lelaki itu yang hendak keluar dari rumah.
"tunggu! biar aku saja." sahut Mo Chen.
"apa paman tau tempatnya?" tanya anak lelaki itu sambil menatap wajah Mo Chen.
"tidak, tapi semua kayu kan sama saja." jawab Mo Chen dengan entengnya.
"paman kenapa kau sangat payah, hutan ini berbeda dengan hutan biasanya, disini tidak semua pohon bisa ditebang seenaknya karena berbagai alasan." ucap anak itu menjelaskan.
"apa paman tau? pohon yang ada bekas darah tadi itu noda darah siapa?" lanjutnya.
"memangnya siapa?" tanya Mo Chen seperti teman dari anak kecil itu.
"itu bekas pukulan dari nona itu." sahutnya yang menoleh kearah Wanda, "dan apa paman tau? kalau getah dari pohon itu beracun dan bisa mengelupas kulit yang tersentuh oleh getahnya."
Mo Chen langsung menoleh kearah Wanda dengan tatapan khawatir.
"mendengar itu, sebaiknya kau tidak pergi." nasehat Mo Chen kepada anak lelaki itu.
"tidak! aku harus pergi! nanti kalau salah menebang bagaimana!?" tolak anak lelaki itu dengan tegas.
Keduanya pun beradu argumen sampai Yalan kembali membawa pakaian bersih untuk Wanda.
"kalau begitu kita semua kesana, biar cepat selesai." ucap Xiao Yan yang menggandeng tangan anak lelaki itu serta mendorong keluar Mo Chen.
"jika semuanya pergi, aku dengan siapa?" gumam Wanda.
Ucapan itu terdengar sampai di telinga Jilixu, "Ziyu akan tinggal disini." ucapnya yang mendorong Yalan mendekati Wanda.
"aku harus ikut mereka." lanjutnya yang bergegas keluar dari sana seraya membuntuti Xiao Yan dan yang lain.
"emm… ini untukmu." ucap Yalan memberikan pakaian baru berwarna coklat untuk Wanda.
"terimakasih." sahut Wanda yang mengambilnya seraya turun dari tempat tidur.
Keduanya berdiam diri untuk beberapa saat sambil memandang satu sama lain dan diiringi oleh angin yang berhembus.
"apa? apa kau akan melihatku berganti baju?" tanya Wanda yang memecah keheningan itu.
"aku, aku akan berjaga diluar." Yalan keluar dari sana dengan terburu-buru.
Dibalik pintu Yalan berdiri dengan terengah-engah, "kenapa… kenapa rasa ini kembali lagi?" batinnya.
Sementara disisi pintu yang lain Wanda menatapnya sejenak pakaian itu seraya mengenakannya, "dia tidak berubah."
Yalan sudah menunggu kurang lebih Limas belas menit tapi tidak mendengar suara apapun dari dalam.
TOK TOK TOK
"kenapa tidak ada suara?" gumam Yalan sambil mengetuk pintu.
Dia pun menunggu lima menit lagi dan masih tidak ada respon apapun. Karena khawatir ia pun membuka pintu untuk memeriksa keadaan didalam.
"maaf, maafkan aku, aku, hanya…" Yalan terlihat panik dengan membelakangi Wanda.
Wanda mendekati Yalan seraya menepuk pundaknya, "bisakah kau membantuku?"
"apa? membantu apa?" sahut Yalan yang masih membelakangi Wanda.
"bantu ikatkan perbanku." ucap Wanda yang memutar balik badannya membelakangi Yalan.
Yalan dengan kaku memutar badannya kearah Wanda. Ia pun membantu mengikatkan perban di punggung bawah Wanda dengan melihat kearah langit-langit rumah.
Setelah mengikat perban itu, Yalan tak sengaja menyenggol luka lain yang dimiliki oleh Wanda.
"shh…" rintih Wanda menahan perih lukanya.
"bagaimana kau bisa mendapat luka ini?!" tanya Yalan dengan serius.
Wanda mengambil rompi bajunya seraya mengenakannya, "hanya tertimbun salju saja." ucapnya yang berbalik kearah Yalan. Keduanya berdiri sangat dekat hingga bisa melihat wajah masing-masing dengan jelas.
"tapi bagaimana bisa menjadi seperti ini?" tanya Yalan yang masih tidak percaya.
"itu karena aku tak ingin luka ini sembuh." jawab Wanda dengan penuh kebencian di matanya.
Dan diluar ruangan itu nampak Tian ai bersama kedua gadis ini berdiri di luar pintu, melihat Xiao Yan bersama yang lain telah kembali, mereka langsung mengarahkan mereka untuk membakar kayu dan mulai memasak.
"kenapa? apa kita tidak mengajak Qingyin juga?" tanya Mo Chen yang bersikeras untuk menjemput Wanda.
Jeni membisikkan apa yang dia lihat dibalik pintu itu kepada Jilixu dan Jilixu mengangguk serta menghampiri Mo Chen.
"sudahlah, kita selesaikan ini dengan cepat, jangan ganggu dia istirahat." ucapnya yang mengalihkan perhatian Mo Chen.
"baiklah, kalau begitu berikan aku bagian juga." ucap Mo Chen yang bergabung bersama yang lain.