Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Botol yang tertukar



"kakak, obatnya sudah jadi." ucap Xitian berjalan masuk bersama Qingqing sambil membawa tiga botol ramuan. "terimakasih." ucap Aqira sembari mengambil ketiga botol itu. "satu orang ambil satu." sambungnya seraya menoleh kearah yang lain.


Wanda dan Jeni mengambil masing-masing satu botol, saat Jeni membukanya dia mencium sesuatu yang aneh dari botol ramuan itu dan berpikir sejenak. "jangan diminum!" ucap Jeni sembari merebut dua botol itu dari tangan mereka. Keduanya langsung menoleh kearah Jeni dengan ekspresi bingung, "ada apa? apa yang salah?" ucap Wanda sembari memiringkan kepalanya. "afrodisiak" ucap Jeni dengan wajah serius. "apa!?" pekik keduanya yang terkejut. "tapi, kenapa aku tidak bisa menciumnya?" ucap Aqira mengerutkan keningnya sembari menyanggah dagunya. Jeni menarik tangan Qingqing untuk berdiri disampingnya, "kau percaya padaku?" ucapnya sambil menatap wajah Qingqing. Dia menganggukkan kepalanya sembari meminum isi botol itu hingga habis. Mereka menyuruh ketiga pria itu meninggalkan ruangan.


Dalam hitungan detik reaksinya mulai bekerja, Qingqing berkeringat banyak dengan kondisi tubuhnya yang mulai melemah. Wanda dan Aqira bergegas pergi mengambil bak mandi dan air dingin. Mereka merendam Qingqing didalam sana untuk meredakan efek obat. Dengan wajah serius Aqira menginterogasi Xitian, "siapa saja yang memegang benda ini?" ucapnya sambil menatap tajam Xitian. "ha…hanya aku dan kak Qingqing." sahut Xitian yang ketakutan. Jeni mulai serius meneliti kandungan dari isi botol tersebut, sedangkan Wanda menjaga Qingqing yang direndam air dingin. Sambil menunggunya sadar dari pengaruh obat, ketiga gadis menjalankan tugas masing-masing.


Setelah beberapa saat, Jeni menghampiri Aqira sembari memberikan selembar kertas kepadanya. Aqira membacanya dengan rinci dari bahan hingga besar kadarnya. Setelah itu Wanda menarik keluar Qingqing yang sudah sadar sembari membantunya mengganti pakaian.


Melihat Xitian yang berdiri di sudut ruangan karena takut, Wanda menghampirinya. "hei, kau takut?" ucap Wanda sembari membungkukkan badannya. Xitian menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil memegang erat ujung bajunya. "jangan takut." ucap Wanda sembari mengusak rambut Xitian. Aqira melirik sekilas kearahnya sembari menghela nafas, "huff." berdiri seraya berjalan menghampiri Xitian. "kau marah padaku?" sambungnya sembari membungkukkan badannya. Xitian hanya menggelengkan kepalanya tanpa melontarkan sepatah katapun. Aqira berjongkok sembari menariknya dan memeluknya dengan erat, "maafkan aku." bisiknya ditelinga Xitian. Xitian membalasnya dengan memeluknya dengan erat. Melihat itu, Wanda dan Jeni saling menatap satu sama lain sembari menghela nafas bersamaan.


Qingqing beranjak turun dari tempat tidur seraya mendekati mereka, "ada apa ini?" ucapnya dengan nada serak. Ketiga gadis ini memalingkan wajah mereka dan menyeka air mata masing-masing. "tidak apa-apa, aku hanya menenangkan adikku." ucap Aqira sembari berdiri. Jeni menarik tangan Qingqing dan menyuruhnya duduk di tempat tidur, "apa kau bisa membantu kami?" ucapnya sembari duduk disebelahnya. Qingqing menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"siapa saja yang berada di dapur?" tanya Aqira dengan wajah serius. Qingqing menaikkan selimutnya dan berkata, "waktu itu hanya aku dan dia yang berada di dapur, tiba-tiba perutku sakit dan meninggalkannya sendiri. Saat aku kembali, aku melihat putri jenderal Ye, putri ke sebelas dan putri perdana menteri berada disana. Mereka bertiga menyiapkan sesuatu dan memasukkannya dalam botol seperti milik kita, setelah itu Xitian masuk dan mengambilnya, mungkin saja tertukar dengan milik mereka." ucapnya sambil menatap wajah Aqira. "dan kudengar seharusnya, botol yang dibawa putri jenderal Ye adalah milik saudari Kaisar timur, Ruo Fenfen." sambungnya sembari menoleh kearah yang lain.


Saat pengobatan, Jeni mendorong tubuh Jilixu perlahan menjauhinya dan ia sontak memukul lehernya sendiri, "uhuk, huff" setelah sesuatu keluar dari tenggorokannya, ia menghela nafas lega. Jeni kemudian mendekati mereka sembari memukul leher Aqira dan Wanda secara bersamaan. "uhuk" keduanya mengeluarkan benda yang sama seperti milik Jeni. Setelah itu, Aqira dan Wanda bersamaan membantu Qingqing dan Xitian mengeluarkan hal yang sama dengan memeluk erat perut keduanya. "uhuk" keduanya berhasil mengeluarkan benda yang sama dari tenggorokan mereka.


Keempat pria ini terbelalak melihat metode yang mereka gunakan saat mengeluarkan benda aneh itu. Sebagai Tabib, Fangze ingin mempelajari metode tersebut dari mereka sekaligus meneliti benda aneh yang keluar dari mulut mereka. Aqira menaruh benda aneh itu dalam mangkuk dan berkata, "kau seorang tabib?" ucapnya sembari menghampiri Fangze. "jika iya, ikut denganku!" sambungnya sembari membuka pintu perbatasan kamar samping dan masuk kesana. Fangze mengikuti Aqira dari belakang dengan patuh.


Jeni mengambilkan air minum untuk Qingqing dan Xitian sambil memeriksa denyut nadi mereka berdua. Sedangkan Wanda berdiri dihadapan ketiga pria itu sambil menatapnya, "apa kalian melihat seseorang di sekitar sini?" ucapnya dengan wajah serius. Pangeran Yan berdiri sembari menatap wajah Wanda, "aku melihat pelayan putri jenderal Ye lewat halaman belakang dengan terburu-buru sambil membawa tungku yang mengeluarkan asap." ucapnya dengan wajah serius. "lagi-lagi putri jenderal Ye!" batin Wanda sambil berpikir. "sepertinya, putri jenderal Ye ini bermasalah." ucap Yalan sambil menyangga dagunya.


Aqira kembali bersama Fangze setelah meneliti benda aneh tersebut. "bagaimana?" tanya Jeni menghampiri Aqira. Aqira memberikan selembar kertas kepadanya dan berkata, "ini racun barat." ucapnya dengan wajah datar. "apa maksudmu, putri jenderal Ye memiliki hubungan dengan orang wilayah barat?" ucap Pangeran Yan menatap wajah Aqira. Wanda melemparkan pakaian pelayan yang ia dapatkan saat mengejar pemanah tadi kepada kedua rekannya. Mereka bertiga mengganti pakaian dengan pakaian pelayan itu, "kita akan tahu jika menelusurinya." ucap Aqira membersihkan makeup di wajahnya. "bagaimana?" sambungnya menoleh kearah Xitian. "sebentar lagi, sepuluh langkah dari sekarang." ucap Xitian mengintip luar dari dekat pintu.


tap…tap…tap… terdengar langkah kaki sedang mendekat dan terdengar suara, "kenapa nona membutuhkan semua ini?" gumam sekelompok orang yang sedang melintas. "bantu simpan orangnya." ucap Jeni melirik sekilas kebelakang sembari berjalan menuju pintu. "jangan lakukan hal bodoh." ucap ketiga pria yang hendak menghentikan mereka namun terlambat selangkah. whoosh… seperti angin kencang yang berhembus, ketiga gadis ini membaur dengan sekelompok orang tadi dan melemparkan ketiga pelayan kepada mereka bertiga. Ketiga pria pun dengan terpaksa membiarkan ketiga gadis pergi dan menyekap tiga orang pelayan itu agar tidak membuat masalah. Untuk segerombolan pelayan ini yang terlalu asyik mengobrol, mereka tidak sadar bahwa teman mereka telah berganti tiga orang.