
Aqira yang kesal berjalan kedalam hutan untuk keluar dari tempat itu, tapi siapa yang tahu itu malah membuatnya masuk kedalam masalah baru. Sekelompok bandit datang dan mengepungnya dari segala arah, "hai nona cantik, apa kau tersesat? kami bisa membantumu pulang." ucap salah seorang dari mereka sembari hendak menyentuhnya.
Aqira memutar badannya sambil menatap wajah para bandit itu dengan tajam, "kalian mau apa?" ucapnya tanpa ekspresi.
"kami hanya ingin membantumu saja."
"oh… apa balasan untuk kebaikan kalian ini?" tanya Aqira.
Salah seorang dari mereka maju dan menggapai dagu Aqira, "bagaimana kalau dengan tubuhmu?" ucapnya dengan wajah penuh nafsu.
Aqira menyeringai sembari menangkap tangan orang itu, "coba saja kalau bisa." ucapnya yang sontak memelintir tangannya sekaligus mematahkannya.
"aghhhhhhh…" teriak orang itu dengan histeris. Mendengar suara itu, He Zi langsung menghampiri sumber suara karena takut terjadi sesuatu pada Aqira. Sesampainya di sana ia malah dikejutkan dengan para bandit yang telah babak belur karena dihajar oleh Aqira.
Aqira berjongkok sembari mendekatkan wajahnya kearah ketua bandit itu, "paman, katanya mau bermain, ayo dong." ucapnya yang mendongakkan wajah orang itu. Saat dia sedang asik mengobrol seseorang mencoba menyerangnya dari belakang, Klang… Aqira sontak menoleh ke belakang, dia melihat bandit itu yang hendak memukul He Zi. Dengan cepat ia menghalau serangan itu dan malah melukai dirinya. Aqira yang kesal memukul orang itu dengan tangan kosong, bruakk… setelah menghajar mereka semua dia menyeka sesuatu yang mengalir di wajahnya, "da…darah." ucapnya yang pingsan ditempat karena kelelahan. Batinnya saat ini, "sialan, lemah sekali tubuh ini! aku jadi tidak bisa bermain." penuh kekesalan.
He Zi menguatkan dirinya untuk membawa Aqira yang terluka kembali ke kediamannya dengan kondisinya yang terluka juga.
"tuan, anda…" ucap Moxi, pengawal bayangan He Zi yang datang menghampirinya.
"jangan pedulikan aku, cepat panggil Louyang untuk mengobatinya." perintah He Zi yang memapah Aqira ke tempat tidur.
Dalam satu menit Moxi membawa Louyang kesana, setibanya disana Louyang langsung mengobati pendarahan di kepala Aqira dengan cepat. "hei, kau juga terluka." ucap Louyang yang hendak mengobati He Zi.
"bukan masalah besar, kau boleh pergi." ucap He Zi yang menepis tangan Louyang sembari duduk disamping tempat tidur Aqira.
"tapi jika tidak diobati kau akan kehilangan banyak darah." teriak Louyang yang dipaksa pergi dari sana. Moxi menekan pundak Louyang sembari membisikkan sesuatu hingga membuat Louyang berhenti berteriak. "itu artinya… kediaman He akan memiliki nyonya?" ucap Louyang dengan nada pelan. Moxi menganggukkan kepalanya sembari membawa Louyang pergi dari sana.
"kenapa… kenapa kau harus menyelamatkanku lagi, bahkan hutang nyawa di kehidupan dulu belum ku bayar tapi kau sudah membuatku berhutang lagi di kehidupan ini." ucap He Zi yang memegang erat tangan Aqira sambil meneteskan air matanya. "jika saja aku tidak membuat perjanjian itu, maka kita akan hidup bersama." sambungnya sembari memejamkan matanya.
"oh, jadi dia terlahir kembali?" batin Aqira sambil mendengarkan curhatan He Zi dalam tidurnya. "kumohon bangunlah, jika kau tidak bangun…" He Zi sembari memegang erat tangan Aqira. "akan ku hancurkan seluruh dunia ini!" sambungnya yang tiba-tiba pingsan dan menimpa tubuh Aqira.
"berat… berat sekali." gumam Aqira sembari bangun. "sudah di tolong tapi masih saja nyusahin." sambungnya sembari memapah He Zi ke tempat tidur.
Tap…tap…tap… "kakak, kakak." teriak Lian ai yang berjalan dengan tergesa-gesa. Tian ai menurunkan bukunya sembari mendongak kearahnya, "ada apa?" "kakak gawat!" ucap Lian ai yang panik.
"ada apa?"
Lian ai mendekati Tian ai sembari membisikkan sesuatu kepadanya. "oh, ternyata begitu. Kebetulan aku punya solusinya." ucap Tian ai sembari menoleh kearah Jeni.
Jeni menoleh kearah yang lain dan bertanya-tanya. Tian ai beranjak turun dari tempat tidur sembari melangkah mendekati Jeni, "dia bisa membantumu." ucapnya sembari menyikut tangan Jeni.
Lian ai sontak menghampirinya dengan cepat, "benarkah?" ucapnya dengan wajah berbinar.
"kalau begitu, apa aku boleh meminjamnya, kak?" tanya Lian ai dengan wajah memelas.
Tian ai mengangkat bahunya sambil memiringkan kepalanya, "tanya orangnya, apa dia bersedia atau tidak."
Dengan cepat Lian ai memutar kepalanya kearah Jeni sambil menunjukkan wajah anak kucing yang memohon, "apa kau mau?" tanya dia dengan penuh harapan.
Wajah Jeni sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun tetapi batinnya saat ini, "sangat menggemaskan." mendapatkan tekanan yang sangat besar.
Jeni memalingkan wajahnya kearah Tian ai, "tapi saya ditugaskan untuk melayani nona bukan orang lain." tolaknya dengan tegas.
Tian ai menarik Jeni sembari mendekatkan wajahnya kearahnya, "bagaimana kalau gaji dobel?" bisiknya yang melirik wajah Lian ai sekilas.
Jeni memikirkannya sejenak sembari melirik kearah Wanda, "bagaimana?" berkomunikasi lewat kode mata. "terserah kamu saja." sahut Wanda yang menundukkan kepalanya.
Kemudian Jeni mendekati Lian ai sembari membungkuk dihadapannya, "sesuai perintah, nona." "hei tak perlu begitu, aku cuman mau kamu membantuku merias, bukan jadi pelayanku." ucap Lian ai sembari menyuruhnya berdiri tegak. "kalau begitu, apa kita bisa mulai?" sambungnya sembari menatap Jeni dengan wajah tidak sabar.
Jeni menganggukkan kepalanya seraya menjawab, "tentu nona."
Beberapa saat kemudian, Lian ai berhasil dirias oleh Jeni dengan dibantu oleh Wanda dan Qingqing. Lian ai menatap dirinya didepan cermin dengan wajah terpukau sembari langsung memeluk Jeni, "terimakasih." ucapnya dengan nada bahagia.
Jeni melepas pelukannya perlahan sembari berlutut, "hamba tak layak mendapatkannya." ucapnya dengan menundukkan kepalanya.
Lian ai memapah Jeni untuk berdiri, "apa yang kau katakan? kau layak mendapatkannya. Lihat, aku bahkan sampai terpukau dengan diriku sendiri." ucapnya sembari menunjukkan hasil jerih payahnya. Namun Jeni tetap murung setelah mendengar hal itu.
"hei, apa kamu berpikir bahwa kamu tidak layak mendapat pujian karena statusmu?" tanya Lian ai yang mendongakkan wajah Jeni. "kak, apa kau menyimpan surat kebebasan?" sambungnya sembari menoleh kearah Tian ai.
"apa kamu bercanda? aku selalu membakar kertas-kertas itu, tidak pernah menyimpannya." jawab Tian ai dengan santai.
Ketiganya sontak terkejut mendengar hal ini, "dia tidak pernah menganggap kami pelayan?" batin Wanda sambil berpikir.
"kau dengar itu, kami tidak pernah menganggap hubungan dengan orang kami sebagai majikan dan pelayan, melainkan… memperbanyak saudara." ucap Lian ai yang menepuk pundak Jeni dengan pelan. Mendengar hal itu sesuatu membanjiri pipi mereka, "terimakasih, nona." ucap ketiganya secara bersamaan.
Kakak beradik ini memeluk ketiga gadis secara bersamaan, "jangan, jangan menangis nona." ucap Jeni yang mengusap air matanya.
"kenapa?" tanya Lian ai dengan polos.
"nanti aku harus merias mu lagi." jawab Jeni.
Krik…krik… "hahaha kau benar, lihat riasannya luntur." ejek Tian ai yang menatap wajah adiknya sambil tertawa lepas.
"kakak…!" teriak Lian ai yang kesal.