Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Berburu



"dan ya… bagaimana kabar kalian selama ini, oh iya… dimana Qingqing?" ucap Aqira yang menatap keduanya.


Jeni mengambil kain untuk mengeringkan rambutnya di lemari, "kita baik, bahkan Tian ai memperlakukan kita dengan baik. Dan jangan tanya tentang gadis itu, dia sekarang pasti sedang berkencan."


"memperlakukan dengan baik? kau tidak bercanda kan? dan dengan siapa Qingqing berkencan?" ucap Aqira yang bertanya-tanya.


"jika kau tidak percaya, tanya dia. Dan untuk Qingqing… dia berkencan dengan seorang pendekar yang menyelamatkannya tempo hari." sahut Jeni yang menggosok rambutnya sembari menoleh kearah Wanda.


Wanda membuka selimutnya sembari turun dari tempat tidur, "itu benar." duduk di kursi sebelah Aqira.


"dia pasti tahu tentang kita, karena menurut buku sejarah yang ku baca waktu SMP, dia itu tipe orang yang waspada dengan sekelilingnya." ucap Aqira yang mengungkapkan pendapatnya.


"jadi, apa yang membuatnya percaya pada kalian?" imbuhnya yang mengesampingkan tubuhnya menatap Wanda.


"balas dendam." jawab Wanda sembari menoleh kearahnya.


Aqira mengeryitkan keningnya sembari berpikir sejenak, "kalau dipikir lagi, sepertinya alur cerita ini sedikit melenceng."


"kau benar, semenjak kedatangan kita, semua alurnya berubah arah." sahut Wanda.


Jeni menghampiri keduanya sembari duduk di meja, "karena sudah seperti ini…" mengulurkan tangannya ke depan.


"selesaikan sampai akhir." ucap Aqira dan Wanda bersamaan sembari menjabat tangan Jeni. Kemudian ketiganya saling menatap satu sama lain, "hahaha…" tertawa bersama.


"sudah lama kita tidak bercanda seperti ini." ucap Jeni yang menaikkan kakinya ke meja.


"tapi sayang… disini tidak ada anggur." ucap Wanda yang bersandar di kursi.


"siapa bilang?" Aqira mengeluarkan sesuatu dari bungkusan yang ia bawa, "Ta Ra… lihat apa yang kubawa." mengangkat kendi keatas.


Ctak… membuka tutupnya.


"bau ini… wine? bagaimana ada di zaman ini?" ucap Jeni yang menatap kendi di tangan Aqira.


"aku membuat percobaan seminggu yang lalu, jadi… mari berpesta!" ucap Aqira yang membagi minuman didalam kendi ke cangkir teh mereka tadi.


Keesokan harinya, Hutan.


"ugh… berapa banyak alkohol yang kau campur?" Jeni terus muntah-muntah sepanjang perjalanan. Aqira berjalan terhuyung-huyung dan menjawab, "aku… ughh… hanya mencampur sedikit saja." ikut muntah-muntah.


"bahkan Wanda yang toleransinya besar terhadap alkohol bisa sakit." sambung Jeni yang berpegangan pada pohon.


"ughh… hoekk" Wanda memegangi baskom yang berisi muntahannya sambil duduk di ranjang tidurnya.


"sebenarnya apa yang kau makan kemarin?" tanya Qingqing yang menjaga disamping tempat tidur. Wanda menyandarkan tubuhnya dan menjawab, "tanyakan pada saudarimu, benda busuk apa yang dia berikan pada kami… Hoekk… jangan tanya lagi."


"lebih baik kau susul mereka saja." imbuh Wanda.


Wanda berbaring sembari menarik selimutnya, "lebih baik aku istirahat sekarang." gumamnya sembari memejamkan matanya.


Kedua gadis ini bersembunyi di batang pohon untuk mengintai tempat lokasi.


"apa dia Tian ai?" tanya Aqira yang menunjuk wanita berpakaian seperti laki-laki dengan menguncir rambutnya. Jeni mengangguk dan menjawab, "yah dia Tian ai."


"hebat juga tanganmu, dari baru kerikil yang kasar kau ukir menjadi giok cantik." ucap Aqira menatap teliti setiap inci dari Tian ai.


Perhatian… Yang Mulia Xiao, Yang Mulia Mo Chen, dan Yang Mulia Jilixu datang… semua para pangeran dan pejabat militer yang berada disana ikut memberi salam kepada ketiganya.


Jeni mencium sesuatu dari tempat yang tidak jauh dari tenda perburuan, "kenapa ada aroma darah yang pekat?" ucapnya sembari menoleh ke belakang. "Aqira, coba lihat disana." bisiknya yang menepuk pundak Aqira.


Aqira menoleh ke belakang dengan hati-hati, "hewan buas sebanyak itu? tunggu! itu…" ucapnya yang terkejut melihat hewan buas dan seorang pria yang berada disana.


"baiklah, perburuan kita mulai." ucap Kaisar Xiao yang membuka acara perburuan.


Semua pangeran membawa tim mereka berpencar ke seluruh hutan. Namun disisi lain, Pangeran Yan, Yalan, Jilixu dan Mo Chen pergi kearah yang sama serta mengajak Tian ai bersama mereka. Sedangkan Pangeran Zhen berburu bersama Lian ai.


"apa dari kalian ada yang bertemu dengan mereka?" tanya Pangeran Yan kepada kedua temannya itu. Keduanya menoleh kearahnya sembari menggelengkan kepala. Kemudian Pangeran Yan mendekatkan kuda yang ia tunggangi ke Tian ai dan bertanya, "kau sendirian kemari?"


Tian ai menatap wajah Pangeran Yan dan menjawab, "apa matahari terbit dari barat? kau bicara padaku?" ucapnya tanpa ekspresi. Batin Tian ai saat ini, "akhirnya dia bicara padaku, di kehidupanku dulu aku baru mendengar dia bicara padaku disaat dia akan pergi meninggalkanku." terharu dalam diam.


"kenapa aku merasa… Tian ai memiliki hubungan khusus dengan Xiao Yan? tunggu! apa yang kupikirkan? itu bukan urusanku." batin Aqira yang bercampur aduk. Saat Jeni hendak menanyakan sesuatu ia melihat, "kenapa pipimu memerah? apa kadar alkohol di tubuhmu belum turun?" ucapnya yang menyentuh kening Aqira.


Aqira menepis tangan Jeni sembari memutar badannya, "ada apa denganku?" gumamnya yang memeriksa dirinya sendiri.


Agghhhh…


Perhatian semua orang yang berada disana mengacu kepada sumber suara itu, dan mereka bersamaan mendekati sumber suara. Mereka mengikuti suara hingga ke daerah hutan yang paling dalam, mereka melihat Pangeran Zhen dan Lian ai dikepung oleh sekelompok bandit yang mengelilingi mereka. Para pangeran yang lain mencoba meninggalkan tempat itu tapi malah masuk kedalam jaring yang mereka pasang, sedangkan Pangeran Yan dan Tian ai berusaha untuk mengeluarkan mereka yang sedang terluka. Saat Tian ai berhasil menyelamatkan keduanya, dia malah ganti terjebak disana. Mo Chen memegang erat pedangnya sembari mengambil ancang-ancang.


Klang… dan perkelahian pun terjadi. Sekelompok bandit itu terus datang berangsur-angsur semakin banyak.


Aqira dan Jeni menutup wajah mereka dengan cadar sembari keluar dari persembunyiannya, whussh… Keduanya langsung membaur pada pasukan Tian ai untuk melindunginya. Karena dari kegigihan mereka berdua, tak ada satupun bandit yang berhasil menyentuh Tian ai hingga… seseorang melepaskan sekumpulan harimau untuk menyerang mereka. Banyak prajurit yang terluka akibat sekumpulan harimau itu. Sampai sebuah pedang menancap tepat didepan Aqira dan hewan buas itu.


Tap…tap…tap… terdengar suara langkah kaki mendekat, terlihat seorang pendekar dengan tudung yang menutupi wajahnya berjalan mendekati harimau itu. "simpan pedangmu." ucapnya yang melirik kearah pasukan bangsawan.


Yalan langsung menoleh kearahnya, "suara ini…" gumamnya yang menatap orang itu.


Orang itu membawa sesuatu di tangannya, saat dibuka semua orang terkejut karena melihat anak harimau yang tertidur disana. Orang itu menatap harimau yang terluka sambil mengedipkan matanya perlahan dan harimau itu langsung tunduk di hadapannya. Dia berjalan mendekati harimau itu sembari mencabut anak panah yang melukai kaki belakang kanannya.


Roarr… suara auman menggema ke seluruh hutan. Kemudian orang itu menoleh kearah Jeni dan Aqira. Keduanya bergegas mengambil kain yang diberi orang tudung itu sembari membalut luka harimau itu.


Orang tudung itu mendekati Aqira dan berkata, "giliranmu." bisiknya sambil menepuk pundak Aqira. Aqira mengambil pedang yang menancap tadi sembari mencabutnya, "keluar!" ucapnya yang berdiri tegap sambil menodongkan pedangnya sebagai bentuk tantangan. Whoosh… seorang pria tiba-tiba muncul dengan menggunakan topeng untuk menutupi sebagian wajahnya.