Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Perburuan Musim Panas



Perhatian harimau itu teralihkan kearah ketiga pria yang sedang menunggangi kuda dari arah yang berlawanan. "ck, hanya seekor harimau?" ucap Jilixu dengan sombongnya. Pangeran Yan menepuk pundaknya dan berkata, "jangan pernah meremehkannya." ucapnya menatap tajam wajah harimau itu.


Ketiga pria itu mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Tapi tiba-tiba sebuah jebakan mengikat mereka menjadi satu dalam jaring yang besar. "sialan, siapa yang memasang jaring ini." ucap Pangeran Yan yang geram. Jilixu mencoba memprovokasinya, "kurang kompeten." ucapnya sambil tersenyum picik. "kau!" ucap Pangeran Yan dengan menggertakkan giginya. Yalan mencoba melerainya, "bisakah kalian jangan bertengkar?!" ucapnya dengan nada tegas.


"suruh temanmu itu diam." ucap Jilixu merapikan bajunya. "kau yang diam." ucap Pangeran Yan yang tak ingin mengalah. Melihat keduanya, Yalan mengepalkan tangannya dan berkata, "diam!" ucapnya yang memukul keduanya dengan keras.


Aqira dan Jeni keluar dari persembunyiannya, "seperti biasa, tetap harus mengandalkan diri sendiri." ucap Aqira menatap Jeni. Jeni tersenyum dan berkata, "sudah seharusnya." ucapnya yang langsung menyerang.


"Hyatt" "Roarr" Harimau semakin marah ketika Jeni menghunuskan pedangnya kepadanya. "hati-hati Jean!" ucap Aqira tanpa sadar. Jeni dan Wanda tercegang mendengarnya. "dia tau aku?" batin Jeni yang melamun. Wanda melempar apelnya ke bawah, "menarik." ucapnya yang turun dari dahan pohon.


Harimau itu hendak menerkam Jeni yang sedang melamun. "Awas!" ucap Aqira yang berlari kearah Jeni. Ketiga pria yang berada didalam jaring tersebut tegang melihat hal itu.


"ceroboh" ucap Wanda yang tiba-tiba teleportasi ke hadapan keduanya dan menyerang harimau itu.


crrtt… darah harimau itu muncrat ke tubuh dan wajah Wanda.


"roarr"


"Wanda!" ucap keduanya bersamaan. Wanda tersenyum dan menjawab, "lama tidak berjumpa." ucapnya sembari menoleh kebelakang.


"eh itu kan…" batin Yalan menatap wajah wanita yang berpakaian pria, yang tak lain adalah adiknya.


woshh… segerombolan ninja hitam mengepung ketiganya. "tentara hitam?" ucap Pangeran Yan. "kenapa pasukan ini masih ada?" tanya Jilixu menatap yang lain. Yalan menjawab, "jangan pikirkan itu, sekarang bagaimana cara kita menyelamatkan mereka." ucapnya yang mencari cara keluar dari jaring tersebut.


"jangan melamun, fokus." ucap Wanda melirik sekelilingnya. "Hyatt" Klang…Klang…crrtt… para ninja hitam berhasil dilumpuhkan oleh ketiganya.


"Jian" "Qian" "Alan" ketiga pria itu bergegas menghampirinya para gadis. "kami datang memban…tu" ucap Pangeran Yan yang tergesa-gesa. "ikat yang erat." ucap Wanda yang melempar orang-orang itu kearah Jeni.


Wanda berjalan menghampiri Aqira yang memegang ketua segerombolan ninja hitam itu, "bagaimana? sudah dapat?" ucapnya dengan nada dingin. Aqira mengangkat bahunya dan melemparnya kearah Wanda, "mulutnya kram" ucapnya sembari membersihkan tangannya. Wanda tersenyum seraya mendongak wajahnya, "kram ya? kalau begitu, aku bantu meregangkan boleh?" ucapnya yang menggores wajah pria itu dengan belati.


"aghhh" sontak pria itu membuka mulutnya dan berteriak keras. "sudah tidak kram?" ucap Wanda tersenyum lebar kepadanya. Pria itu hendak menyerangnya, "enyahlah!" ucapnya yang menghunuskan belatihnya kearah Wanda. "Yalan!" ucap Pangeran Yan dan Jilixu bersamaan. "shht" Yalan menghadang belati itu dengan tangannya hingga mengeluarkan banyak darah.


"sudah dapat." ucap Aqira menghampirinya. Sontak Wanda mengeluarkan belatihnya dan menghunuskannya tepat di jantung orang itu.


crrt… seluruh baju Wanda dipenuhi oleh noda merah darah yang sangat amis.


"sudah jadi" ucap Jeni yang masuk kedalam tenda sambil membawa makanan. "sudah selesai, jangan sampai terkena air selama beberapa hari hingga lukanya mengering." ucap Aqira yang membalut luka Yalan dengan kain. "terimakasih." sahut Yalan dengan nada pelan.


"dimana Alan?" ucap Yalan menoleh sekelilingnya. Pangeran Yan dan Jilixu masuk kedalam tendanya, "dia bilang akan keluar sebentar." ucap Jilixu membuka tirainya.


Tak lama kemudian, Wanda datang dengan membawa tanaman obat ditangannya. Wanda langsung menghampiri Aqira sambil menariknya keluar dari tenda, "aku sudah mendapatkannya, bisa membantuku meraciknya?" ucapnya dengan nada pelan. Aqira melirik kearahnya, "tidak masalah." ucapnya sambil mengedipkan matanya. Keduanya berjalan bersama menuju tenda dapur untuk meracik obat. "kalian kenapa meninggalkanku?" ucap Jeni yang membuntutinya dari belakang.


Pangeran Yan menoleh kearah kedua temannya itu, "kenapa kalian gelisah?" ucapnya sembari melipat tangannya. Yalan menjawab, "kau tak khawatir priamu diambil orang?" ucapnya sembari berdiri. Jilixu ikut menambah bumbu kedalamnya, "dia tidak akan khawatir, dia kan punya banyak simpanan." ucapnya sambil tersenyum picik.


Pangeran Yan merangkul leher keduanya, "aku tidak khawatir karena…" bisiknya dengan nada pelan. "apa!?" ucap keduanya yang terkejut.


Tenda dapur


"kau tumbuk sampai halus." ucap Aqira kepada Wanda. Aqira berjalan mendekati Jeni, "bagaimana?" ucapnya sembari berjongkok. Jeni mendongak kearahnya dan berkata, "sedikit lagi." ucapnya sembari menyeka keringatnya. Aqira mengeryitkan keningnya, "pfff, hahaha" ia tertawa sangat keras. "Aqira, selanjutnya bagaimana?" tanya Wanda sembari menghampirinya.


Wanda menutup mulutnya, "pff, kucing liar darimana ini?" ucapnya yang berlinang air mata terharu. "apa masalahnya? ini hanya cemong." ucap Jeni membersihkan wajahnya.


Beberapa saat kemudian, ketiganya keluar dari tenda dapur setelah membuat ramuan obat. Wanda memanggil Chui-chui, "berikan ini pada kakakku." ucapnya sembari memberikan sebotol ramuan. "suruh dia mengoleskan ke seluruh lukanya." ucap Aqira melangkah maju.


Aqira menghampiri Rui, "pergilah ke tenda jenderal Yalan dan berikan ini kepada pangeran Yan, katakan untuk menghabiskannya." ucapnya sembari memberikan sebotol ramuan. "baik, Nona." sahut Rui berjalan menuju tenda Yalan.


"sudah selesai?" ucap Jeni yang bersandar di pohon. Wanda tersenyum dan berkata, "sekarang kita kemana?" ucapnya sembari memegang dagunya. Jeni menoleh kearah Aqira, "bagaimana tuan peta?" ucapnya dengan nada menggoda. Aqira menyentuh dagu Jeni seraya berkata, "di dekat sini ada sungai, bagaimana kalau berendam sebentar?" ucapnya sembari tersenyum tipis.


"kita berangkat?" ucap Wanda menoleh kearah keduanya. Keduanya sontak menjawab, "tentu" ucapnya bersamaan.


woshh… Ketiganya terbang meringankan tubuhnya menuju sungai di dekat sana. Dan para pria mulai panik mencarinya, "apa kalian menemukan mereka?" ucap Yalan kepada bawahannya. "kami tidak menemukannya." sahut para pengawal bayangan tersebut.


Sementara itu, para gadis sedang asyik merasakan suasana berendam di sungai dengan tenteram. "huff, jarang-jarang kita merasakan ketenangan seperti ini." ucap Jeni yang memejamkan matanya. Wanda muncul setelah menyelam beberapa saat, "khaaa" mengambil nafas panjang setelah menyelam.


"oh iya, bagaimana kau bisa tiba-tiba memanggil nama samaran ku?" ucap Jeni membuka matanya. Aqira bersandar di batu dekat sungai seraya berkata, "awalnya hanya filing, tapi setelah bertarung denganmu aku menyadari itu kau. Karena jarang ada yang bisa menggunakan teknik pedang seperti itu, dan poin utamanya adalah… nona Jian terkenal genit bukan datar." ucapnya sembari mengedipkan matanya.


"tapi, kau tidak pernah ceroboh, bagaimana bisa langsung menarikku untuk bertarung?" ucap Aqira yang kebingungan. Jeni tersenyum dan menjawab, "pertama karena cara berkenalan kita waktu itu. Kedua, menurut rumor Tuan Muda Chu Qian itu pecundang. Dan poin utamanya disini, bagaimana seorang pecundang bisa mengalahkan master judi nomor satu di negara ini?" ucapnya sembari mendekatkan wajahnya kearah Aqira.