
"bukankah begitu?" sahut Wanda. Yalan menyentil kening Wanda seraya berkata, "jika ada putih untuk apa berjalan." ucapnya sambil menunjuk kearah kuda putih yang berada di seberang jalan. "oh, kita naik itu, tapi bagaimana naiknya?" ucap Wanda sambil menggaruk pelipisnya. Sontak Yalan menarik tangannya naik keatas punggung kuda, "tidak perlu bingung, cukup diam saja." ucapnya sembari menarik pedatinya.
"aghhhhhhh, aku belum siap." teriak Wanda yang panik.
Kediaman Menteri Wang
Wanda terus muntah-muntah setelah turun dari kuda yang dikendarai oleh Yalan, "seharusnya aku menurut dengan Jeni dulu." batinnya yang menyeka mulutnya yang kotor.
"ugh, kenapa tiba-tiba dingin? padahal sekarang musim panas." batin Jeni memegang punuk lehernya.
Swoshh… sebuah bayangan hitam tiba-tiba masuk kedalam kamarnya. Jeni melempar jarum kecil kearahnya, "keluar!" ucapnya sembari melirik sekelilingnya.
Seseorang turun dari langit-langit kamarnya, "ini aku." ucapnya sembari membuka topeng di wajahnya. "apa kau tidak belajar sopan santun?" ucap Jeni dengan wajah datarnya itu.
"maaf jika membuatmu tidak nyaman." ucapnya memberikan penghormatan kepadanya. Jeni duduk dengan menyilangkan kakinya seraya berkata, "apa yang membuatmu kemari?" ucapnya sembari menyeduh tehnya. "ada perburuan musim panas lusa dan saya membutuhkan anda untuk menjadi tabib pribadi saya." ucapnya dengan wajah serius.
"apa untungnya untukku?" ucap Jeni menaruh gelasnya. Pria itu menjawab, "aku akan berikan apapun padamu." sahutnya tanpa ragu-ragu. "baiklah." sahut Jeni dengan santai.
"walau aku tidak pernah menerima tawaran dari siapapun dulu, tapi entah kenapa tawaran ini sedikit menarik." batin Jeni berpikir sejenak.
Pada saat yang sama, Restoran Tanyang.
Aqira dan Pangeran Yan berada dimeja yang sama untuk berdiskusi. Dan meja di belakang Aqira, ada Wanda dan Yalan yang sedang beristirahat sejenak.
"perburuan musim panas?" ucap Aqira menatap Pangeran Yan.
"apa kau akan ikut?" ucap Yalan menatap adiknya.
"apa yang akan kulakukan disana?" ucap Aqira memalingkan wajahnya. "kau bisa jadi tangan kanan kananku, dan anggap saja sebagai hukuman kau kalah dariku." ucap Pangeran Yan.
"tapi aku masih harus bekerja." ucap Wanda memalingkan pandangannya. "aku akan meminta libur kepada pemilik toko." sahut Yalan membujuknya.
"bagaimana, apa kau mau pergi?" ucap Pangeran Yan.
"baiklah." sahut Wanda dan Aqira bersamaan.
Beberapa hari kemudian…
"tak terasa sudah sebulan disini." batin Wanda melihat sekelilingnya.
"baiklah, karena semua sudah hadir, perburuan musim panas resmi dibuka." ucap Kaisar.
Ditengah Hutan.
"Yang Mulia, rombongan pangeran Yan sudah memasuki hutan." ucap seorang prajurit melapor kepadanya.
"apa kalian sangat santai? kembali pada tugas kalian." ucap Jilixu dengan wajah serius. "ba…baik Kaisar." sahut mereka membubarkan diri.
"pangeran, kita sudah masuk kedalam hutan tapi kau masih belum memburu satu hewan pun." ucap Aqira yang menghentikan kudanya. Pangeran Yan tersenyum seraya berkata, "karena kita akan berburu sesuatu yang berbeda." ucapnya sembari menoleh kearahnya.
"Pangeran, pasukan musuh belum ada pergerakan." ucap seorang prajurit melapor kepadanya. "terus awasi, jangan sampai lengah." sahut Pangeran Yan memberikan perintah kepada bawahannya. "baik" ucapnya berbalik pergi meninggalkan hutan.
"berburu orang? menarik." batin Aqira tersenyum picik.
"kakak, berapa banyak lagi yang akan kau buru?" ucap Wanda menatap Yalan yang tak henti-henti memburu kelinci-kelinci kecil. Yalan berbalik dan berkata, "sehabisnya anak panah ini." ucapnya sambil tersenyum manis. Wanda menjawab, "bagaimana bisa habis, dari tadi kau menggunakan pedangmu, bukan panahmu." ucapnya yang berbalik meninggalkannya.
Jrep…klang… terdengar suara yang sangat riuh dari pusat hutan, kira-kira berjarak lima meter terdapat ratusan prajurit yang sedang bertarung disana. Pihak A adalah pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Yan, sedangkan pihak yang lain adalah pasukan yang dipimpin oleh Jilixu.
"gawat! penyergapan!" ucap Yalan yang melihat situasi disana. Spontan ia menghampiri adiknya dengan kecepatan penuh, "bawa adikku keluar hutan, disini bahaya!" ucapnya sembari mengambil senjatanya untuk ikut berperang. "baik tuan muda." sahut mereka membawa Wanda keluar dari hutan.
Setelah sampai di tenda dekat hutan, Wanda menyuruh Chui-chui untuk bertukar identitas dengannya, "Chui-chui, aku mengandalkanmu." ucapnya yang keluar dari tendanya.
"sudah lama tidak melihat pertunjukan." ucap Wanda menuju dalam hutan dengan terbang meringankan tubuhnya.
Ditengah hutan
"lama tidak berjumpa, A Yan." ucap Jilixu yang berdiri dihadapannya dengan pedang yang berlumuran darah. Pangeran Yan menjawab, "lama tidak berjumpa, A Li." ucapnya dengan nada berat.
Keduanya memulai pertarungan sengit satu sama lain. Sementara Aqira dan Jeni ikut dipertemukan dalam peperangan, "aduh." ucap Jeni yang menoleh ke belakang. "eh, kau!" ucap Aqira dan Jeni bersamaan sambil menunjuk satu sama lain.
"aku tidak akan berpikir pertemuan kembali kita akan se ekstrim ini." ucap Aqira menurunkan pedangnya. Jeni menarik tangan Aqira dan membawanya keluar dari Medan perang, "kulihat kau tidak tertarik dengan peperangan itu, bagaimana kalau kita bertarung disini?" ucap Jeni mengangkat pedangnya keatas. Aqira tersenyum dan menjawab, "dengan senang hati." sahutnya menyerang terlebih dahulu.
"hyat" klang…klang…
Beberapa saat kemudian, keduanya berakhir imbang dan disaat itulah mereka sadar bahwa Aqira dan Jeni tidak berada di Medan peperangan. "dimana Qian?!" ucap Pangeran Yan kepada para prajuritnya. "lapor pangeran Yan, kami melihat tuan Qian dibawa pergi oleh nona Jian kearah timur." ucapnya sambil berlutut.
"apa!?" sontak keduanya bergegas menuju timur hutan. "Yalan, kau ikut denganku." ucap Pangeran Yan tanpa menoleh kebelakang. "baik, pangeran." sahutnya yang langsung menunggangi kudanya.
Sementara itu, Aqira dan Jeni sibuk bertarung tanpa memedulikan sekitarnya. Sedangkan Wanda menonton keduanya bertarung dari atas pohon sambil bersendawa.
"Roarr" terdengar suara dari dalam gua didekat sana. Aqira menghentikan serangannya, "berhenti!" ucapnya sembari menurunkan pedangnya. "ada apa?" tanya Jeni yang mendekatinya. Aqira menarik tangannya masuk kedalam semak-semak, "sstthhh, jangan bicara." ucapnya yang menutup mulut Jeni dengan tangannya.
Tiba-tiba seekor harimau keluar dari dalam sana dengan tatapan mata yang kelaparan, seperti dia akan melahap siapapun yang melintas di depannya.
drap…drap…drap… suara derapan kuda sedang menuju kearah mereka.
"nona jian" teriak Jilixu dengan lantang. Diiringi suara Pangeran Yan, "Chu Qian, kau dimana?" teriaknya yang risau.
Jeni dan Aqira mulai memperhatikan setiap gerak-gerik mereka masing-masing. "kenapa kau tidak keluar?" tanya Aqira kepada Jeni. Jeni menghela nafas, "mau jadi santapan gratis?" sahutnya dengan wajah datar.