
"siapa wanita itu?" gumam orang-orang sekitar yang tidak bisa melihat jelas wajahnya karena tertutup oleh tudung.
Wanita itu berhenti tepat didepan Kaisar Xiao dan putra mahkota Xiao Zhennai yang berdiri berdampingan. Dia membuka tudung yang menutupi wajahnya dengan menatap langsung wajah putra mahkota.
"bagaimana kabarmu tuan?" ucapnya yang bertanya pada Xiao Zhennai.
"kulihat, kau sangat santai." lanjutnya dengan nada rendah serta tersenyum sinis terhadapnya.
"siapa kau? kenapa sangat tidak sopan pada putra mahkota!" ucap salah seorang pengawal putra mahkota yang ingin memberinya pelajaran.
Kaisar Xiao dengan cepat menghentikan pengawal itu melalui isyarat tangannya dan pengawal itu berhenti saat itu juga.
"tak masalah jika kau melupakanku, tapi… kuharap kau tidak melupakannya." ucapnya yang mendatangkan seorang wanita tua dengan tubuhnya kurus seperti tak terawat.
"Bi Ruan!" ucap Kaisar Xiao yang terkejut melihatnya.
Ketika namanya disebut oleh Kaisar, wanita itu dengan spontan berlutut didepannya.
"maafkan hamba Kaisar, maafkan hamba."
Kalimat pertama yang dilontarkan olehnya semakin membuat orang-orang penasaran terhadapnya sampai membuat ibu Suri turun untuk menghampirinya.
"Ruan, kau… kau…" ibu suri tak bisa berkata-kata ketika melihat wanita itu dari dekat.
Wanda yang berada di samping ibu suri memberikan pelukan hangat untuk neneknya itu sembari hendak memapahnya keluar dari ruangan itu namun ibu suri memaksa untuk tinggal.
Disaat yang sama Xiao Yan datang bersama Aqira, segera setelah itu Aqira memeriksa keadaan ibu suri dengan Wanda membawakan kursi untuk ibu suri.
"jangan khawatir." ucap Aqira menatap Wanda.
Wanda menjawab dengan mengangguk sambil menatapnya.
Kaisar Xiao mempertimbangkan keadaan yang ada dengan menyuruh semua orang selain keluarga kerajaan untuk meninggalkan ruangan, terkecuali Aqira karena menjaga ibu suri.
"yang mulia, aku sungguh minta maaf karena tidak kembali setelah kejadian itu." ucap Bi Ruan memulainya.
Dia menceritakan kejadian kebakaran lima belas tahun lalu yang menimpa Ratu Yin, ibu dari para pangeran, namun lebih tepatnya adalah ibu kandung pangeran keempat Xiao Yan dan pangeran kelima Xiao Zen.
Kisah ini berawal dari kematian ratu pertama saat melahirkan pangeran ketiga. Saat itu Li Muyin, Ratu Yin, adalah seorang tabib yang membantunya melahirkan.
Saat itu keadaan ratu sedang kritis karena seseorang memberinya racun yang membuatnya harus kontraksi lebih awal sebelum tanggal perhitungan. Dengan sekuat tenaga Li Muyin berhasil menyelamatkan pangeran ketiga namun tidak dengan sang ratu, ia meninggal karena ada racun lain yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
Disaat persalinan itu pangeran kedua, putra mahkota saat ini, ia yang masih berusia empat tahun menyaksikan meninggalkannya sang ratu secara diam-diam dari ruangan sebelah.
Keesokan paginya sang Kaisar menguburkan ratu pertamanya. Setelah kematiannya, posisinya sebagai Kaisar sedikit terguncang karena ia tidak memiliki istri, dan peraturan dari menjadi Kaisar saat itu adalah harus memiliki pendamping.
Disaat bersamaan ia melihat perhatian yang dicurahkan oleh Li Muyin kepada ketiga pangeran secara adil, Kaisar memutuskan untuk meminangnya sebagai istri untuk mengasuh serta mengisi posisi ratu yang kosong.
Tanpa diduga dari pernikahan yang hanya menguntungkan satu pihak berubah menjadi kisah percintaan dari mereka. Kaisar perlahan-lahan jatuh cinta pada Ratu Yin karena kehangatan serta kasih sayangnya sampai hadirlah pangeran keempat.
Siapa sangka, semenjak itu sebuah benih kebencian muncul dari seorang pangeran kedua yang diracuni oleh seseorang disampingnya. Dia sampai membuat rencana-rencana jahat untuk memisahkan Ratu Yin dengan Kaisar.
Itu ia mulai dari meracuni Xiao Yan sampai melemparkan wanita-wanita baru untuk menggoda ayahnya sendiri. Tapi karena tingkahnya itu membuat ia harus memiliki banyak saingan demi mendapat tahta. Demi menyingkirkan mereka, dia membuat pembunuhan berencana yang dimulai dari meracuni pangeran kesepuluh dan kesebelas yang masih berusia dua tahun, meninggalkan pangeran keenam dan ketujuh di badai dingin saat menuju ke perguruan, merusak nadi spiritual milik pangeran ke delapan dan kesembilan, mengirim pangeran keempat dan kelima ke perbatasan menggunakan tangan Kaisar, sampai menjebak pangeran ketiga berhubungan dengan Wang Fengyan.
Saat semua kelakuannya diketahui oleh Ratu Yin, ia bertindak dengan cepat dengan mengirim Ratu Yin kembali ke rumah orangtuanya lalu membuat skenario kebakaran saat menginap disana.
"itulah yang terjadi yang mulia." ucap Bi Ruan setelah menjelaskan semuanya sambil memberikan berbagai bukti bersamanya yang ditinggalkan oleh Ratu Yin.
Nampak wajah Kaisar Xiao muram dan dipenuhi awan hitam disekelilingnya.
PLAKK…
Tak perlu menunggu waktu yang lama, semua kekesalan Kaisar Xiao ia lampiaskan melalui tamparan keras itu di wajah Xiao Zhennai. Setelah kejadian itu, Kaisar mengeluarkan untuk mencabut pangkat Xiao Zhennai sebagai putra mahkota dan mengirimnya ke penjara untuk ditindaklanjuti karena telah mencelakakan begitu banyak anggota kerajaan.
"bagaimana keadaan nenek?" tanya Mo Chen kepada Wanda yang baru keluar dari kamar ibu suri.
"tidak apa-apa, nenek hanya perlu istirahat." jawab Wanda.
"kita pergi?" lanjutnya yang bertanya balik pada Mo Chen.
Mo Chen mengangguk perlahan sembari meninggalkan istana ibu suri dan keluar dari istana dengan menyelinap sebagai prajurit yang berganti shif.
"kudengar, Zhennai dikirim oleh Kaisar ke penjara, apa itu benar?" ucap Tian ai yang bertanya dengan ragu-ragu kepada Xiao Yan yang masih dengan kesunyiannya sejak datang kesana.
"itu benar." sahut Aqira dengan menyentuh lembut pundak kiri Xiao Yan sembari duduk disebelahnya.
"kau kembali?" ucap Xiao Yan yang tersadar dari lamunannya sembari menoleh kearah Aqira.
"kau tidak suka?" ucap Aqira yang bertanya balik padanya.
Xiao Yan spontan berkata, "tidak bukan begitu, aku…" ia menghentikan kalimatnya karena bingung harus mengatakan apa.
"sudahlah jangan bicarakan itu, apa kau lapar?" timpal Aqira.
"kebetulan aku mampir untuk membeli makanan." lanjutnya.
Kemudian Aqira menatap wajah Tian dengan melakukan kontak mata, "kita bicarakan itu besok."
"aku mengerti." jawab Tian ai melalui kedipan mata.
"kalau begitu, kalian makanlah, kami sudah mengantuk." ucap Tian ai segera masuk kedalam rumah bersama putranya.
Kini tinggal Aqira dan Xiao Yan yang berada diluar sambil makan jajanan untuk mengganjal perut. Disaat yang bersamaan tiba-tiba sesuatu keluar dari mata Xiao Yan.
"kau menangis?" tanya Aqira tanpa menatapnya karena tertutup oleh rambutnya yang panjang.
Xiao Yan pun mengusap air mata itu dengan menyembunyikan wajahnya dibalik rambut panjangnya, "bagaimana…"
"nafasmu berantakan." potong Aqira dengan dingin.
Meskipun sudah mengatakan itu, Xiao Yan tetap tidak bisa mengendalikan emosinya. Aqira menghela nafas dan meletakkan makanannya di meja sembari meraih wajah Xiao Yan, ia juga merapikan rambutnya yang berantakan untuk memudahkannya memandang wajah Xiao Yan.
"kau terlihat jelek saat menangis." ucapnya sambil mengusap dengan lembut air mata yang membasahi pipi Xiao Yan.